Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

Friday, August 21, 2015

Moms' Night Out

Depok, 21 Agustus 2015
(20.10 WIB)


Pic taken from here

Film ini aku tonton karena aku liat pemeran utamanya itu adalah pemeran April Kepner di Grey's Anatomy. Yaps, aku suka banget sama Grey's Anatomy. Itu juga alesanku nonton serial tivi baru The Last Ship, karena tokoh utamanya adalah pemeran Mark Sloan di Grey's Anatomy. Mark Sloan sendiri karakter yang akhirnya meninggal setelah berhasil dirawat abis kecelakaan pesawat.

Balik ke film Moms' Night Out, film ini cukup agamis dengan ambil momentum Hari Ibu.

Cerita tentang seorang perempuan muda yang jadi Ibu Rumah Tangga dengan 3 anak yang masih terhitung kecil-kecil, suka main, rumah jadi berantakan. Dia juga punya temen baik 2 orang yang sama-sama jadi Ibu dan punya masalah ngurus keluarga. Bukan masalah berat banget yang gimana gitu, tapi ya tetep aja ya masalah..

Moral story dari film ini adalah b-e-r-s-y-u-k-u-r.

Bersyukur sama semua yang Allaah kasih ke kita, apapun itu pasti itulah yang terbaik untuk kita.

Di film ini, Ally dapetin yang dia mau dari dulu dia kecil. Jadi Ibu Rumah Tangga dengan kehidupan yang baik-baik aja (financially). Cuma masalahnya dia tu belum bisa ngatur waktunya, karena anak-anaknya lagi aktif-aktifnya.

Ujungnya, berakhir bahagia.. Karena semua yang sudah digariskan Allaah, adalah yang terbaik.... <3 <3 <3

Quote yang ngena banget, katanya Wikipedia, itu yang buat adalah William Rose Wallace di poem yang pertama kali terbit tahun 1865 berjudul "What Rules The World".

...tangan yang mengayun buaian,
adalah tangan yang mengendalikan dunia...

Pic taken from here

Dalam Islam, peran muslimah amat-sangat penting dalam mengarahkan negara dan peradaban. Rusak perempuan, rusak negara. Diawali dengan pernikahan, kewajiban Ayah kepada anak-anaknya adalah memilihkan perempuan yang baik agamanya. Bahasan ini saya rencanakan akan ditulis di lain postingan di blog ini. Semoga.

Alexander and the Terrible, Horrible, No Good, Very Bad Day

Depok, 21 Agustus 2015
(19.17 WIB)


Pic taken from here


Film ini ceritanya tentang Alexander, anak ketiga dari 4 bersaudara. Dia ngerasa hidupnya paling ngga enak dibanding anggota keluarganya yang lain. Alexander juga ngerasa kalo dia ngga disayang, ngga diperatiin sama keluarganya.

Pas malem menjelang ulang tahunnya Alexander make a wish supaya semua anggota keluarganya ngalamin keburukan supaya ngerasain apa yang dia alami selama ini.

Paginya pas Alexander bangun, dia agak aneh karena keluarganya belum ada yang bangun dan mereka semua terancam telat. Selain itu, mereka semua dapet masalah di hari itu, kecuali Alexander yang mulus-mulus aja harinya.

Film ini berakhir bahagia, semua anggota keluarga jadi saling terbuka dan sadar kalo mereka harus saling sayang dan perhatian ke semua anggota keluarganya.

Pic taken from here

Hal yang aku perhatiin dari film ini adalah, pertama, Papanya Alexander lagi dalam keadaan tidak bekerja, jadinya beliau yang ngurus rumah, anak-anak, dan Mamanya Alexander yang kerja (jadi kayak Editor di perusahaan penerbitan buku). Kerennya, mereka ngga masalah tentang ini.

Mamanya Alexander ngga ngeremehin Suaminya karena lagi jobless, dan Papanya Alexander tetep semangat masukin lamaran kerja ke tempat yang sesuai sama idealismenya. Btw, Papanya Alexander ni udah PhD, tapi tetep milih kerja di tempat kerja anak muda gitu.

Kedua, orangtuanya Alexander termasuk yang ngga cepet marah dan ngga gampang bentak anak ketika anaknya ngelakuin suatu hal yang ngga sengaja itu salah atau keliru. Mereka ngelurusin, bukan nyalahin, ngatain..

Ketiga, keluarganya Alexander termasuk yang mudah ngambil hikmah dan jaga semangat dengan selalu berfikir positif. Ini terbentuk juga karena karakter orangtuanya Alexander.

Filmnya bagus buat yang mau berkeluarga atau sedang berkeluarga... \\(^0^)//

Tuesday, August 11, 2015

Marley & Me

Depok, 11 Agustus 2015
(20.42 WIB)


Pic taken from here


Ini filmnya ngga cuma tentang melihara puppy aja tapi juga tentang rumah tangga, being a stay-at-home Mom, parenting, pekerjaan dan keluarga.

Lumayan bikin nangis filmnya, padahal aslinya kan film lucu ya (terutama pas awal-awal filmnya).. Tapi lebih ke drama keluarga gitu sie..

Tentang rumah tangganya, tokoh pasutri utama di film ini tu abis nikah ngga langsung punya anak, tapi Suaminya tetep ngebesarin hati Istrinya dan Istrinya pun milih untuk ngga terlalu ngeribetin hal itu (secara ortu si Istri diceritain udah pengen banget punya Cucu)..

Tentang being a stay-at-home Mom-nya, digambarin kalo Jennifer Aniston disini fine pas anaknya masih satu. Masih  bisa ngurus kerjaan sekaligus jagain anaknya. Tapi pas dia tau hamil anak kedua, dia langsung mutusin untuk 100% di rumah buat ngurus anak-anak dan keluarganya. Suaminya bilang kalo dia suka sama pekerjaannya, dan Aniston bilang dia emang cinta sama pekerjaannya tapi kalo dia harus berkorban ya dia ngga mau ngorbanin anak-anaknya mending dia ngorbanin ngga kerja. 

Disini digambarin kalo dengan Aniston milih jadi stay-at-home Mom ngga berrarti dia selalu hepi dan kelar kerjaan rumah tangganya. Dia pernah saking capeknya dan marahnya trus nyuruh Suaminya buat naruh Marley di peternakan ortunya Aniston. Tapi pas malemnya Suaminya abis dari rumah temennya, Sebastian (diperanin ERIC DANE!), Aniston bilang kalo ngusir Marley ngga akan nylesein masalah, dan ngusir Suaminya (atau bahkan cerai) juga ngga akan memperbaiki apapun.

Tentang parenting, disini diliatin kalo tokoh utama cowonya, si Suami, itu termasuk family-man. Sayang sama Istrinya, perhatian sama anak-anaknya, ngga masalah rumah rame sama mainan anak-anaknya pas dia pulang kantor, bahagia main bareng sama anak-anaknya pas pulang kerja, nyantai sama sikap Marley yang 'beda' sama puppy pada umumnya, rela kerja lebih keras (termasuk minta kenaikan gaji) untuk dukung Istrinya jadi stay-at-home Mom.

Tentang pekerjaan dan keluarga, ini sebetulnya beda tema tapi berkaitan banget di film ini. Si tokoh utama, si Suami, ini awalnya digambarin kalo dia tu lebih suka jadi Reporter ketimbang Kolumnis. Tapi Istrinya, yang juga sama-sama kerja di media, bilang kalo tulisan dia di artikel koran itu bagus dan ngena. Tapi si Suami tetep ngeyel dan minta ke Atasannya buat dipindahin jadi Reporter. Atasannya bilang kalo banyak orang yang kerja di media berharap punya kolom khusus tulisan mereka.

Trus si Suami ngirim tulisan ke salah satu media cetak di Philadelphia dan dapet jadi Reporter. Begitu dia kerja, Atasannya yang baru bilang kalo dalam tulisan reportasi ngga boleh ada pendapat dari Reporter karena ini beda sama nulis di Kolom. Si Suami disitu keliatan nyadar kalo emang dia minat dan bakatnya itu jadi Kolumnis. Toh, ngga semua orang bisa nulis yang ngena ke publik, kan?

Akhirnya si Suami bilang ke Atasannya yang baru untuk baca tulisan dia yang terbaru buat dinilai. Si Atasan yang baru sebelumnya udah ngingetin kalo dia diterima karena minta jadi Reporter yang terjun ke lapangan, bukan Kolumnis.

Ada satu adegan yang bagus dari Jennifer, yaitu dimana dia bilang ke Suaminya, kemanapun Suaminya dapet kerja maka sekeluarga akan ikut kemana Suaminya pindah. Sweet..

Di pekerjaan barunya ini, si Suami ngga ambil rumah di tengah Kota yang deket sama kantornya, tapi ambil rumah agak jauh dari Kota. Rumahnya punya halaman luas dan deket sama sekolah anak-anaknya.

Terkait sama pekerjaannya, dia ketemu sama Sebastian dan disitu ada momen dimana hidup mereka berdua ngga berubah. Sebastian masih suka gonta-ganti tempat kerja dan kenalan sama banyak perempuan tapi belum mikirin hidup berkeluarga. Sedangkan si tokoh utama udah punya 3 anak, 2 laki-laki dan 1 perempuan.

Kayanya itu sie poin-poin positif dari film ini.. Yang cukup berasa banget adalah gimana Jennifer Aniston berperan jadi Istri dan Ibu yang emang amanah ngurus rumah tangga dan keluarganya..

Tuesday, August 4, 2015

About Time

Depok, 4 Agustus 2015
(22.51 WIB)



Picture taken from here


Ini film cukup 'menipu' yah di beberapa sinopsisnya. Katanya tentang laki-laki yang dikasih tau Papanya kalo keluarga mereka yang cowo-cowo tu bisa ke masa lalu. Faktanya, ini cerita tentang Papa sama anak cowonya dan menyentuh banget... :"(

Scene dimana saya nangis itu ada di waktu 1 jam 50 menitan filmnya jalan. Itu pas si tokoh utama (sampe ngga meratiin namanya) main tenis meja sama Papanya dan Papanya menang, trus si anak ngusulin hadiahnya adalah kecupan. Papanya akhirnya ngerti kalo itu waktu terakhir anaknya bisa nemuin dia lagi, soalnya Istri anaknya ini mau ngelahirin anak ketiganya (yang saya juga ngga meratiin kenapa bisa gitu aturannya).

Picture taken from here

Di menit yang bikin saya nangis itu, si Papa minta anaknya buat mereka balik ke jaman si anak masih kecil dan mereka main ke pantai berdua... (T____T)
Backsound-nya mendukung pula..... Itu bener-bener momen dimana mereka seneng-seneng buat terakhir kalinya.... Mereka main di pantai, duduk-duduk di pinggir pantai, dan baru balik setelah mereka puas main bareng...

Abis itu, si tokoh utama itu mulai jarang balik ke masa lalunya.. Dia jadi Ayah yang perhatian banget sama keluarganya lebih dari sebelum ini.. Lebih semangat membersamai anak-anaknya setiap dia punya waktu untuk nemenin anak-anaknya.. Bangun pagi dan minta dia yang ngurus  Lebih bersyukur dan menikmati detik-detik yang dia lewatin, hari-harinya..

Serius. Ini cowonya tu biasa aja, (kayanya) kerja di lawfirm, nothing special about him. Tapi dia bersyukur, sayang dan perhatian sama keluarganya...

Hikmah yang gw ambil dari film ini adalah : ordinary life, simple life itu wajib disyukuri.. Ngga semua orang dapet kehidupan dunia yang bahagia, dengan sederhana tanpa harus terkenal. Ada yang mikir ribet, maunya high-expectation untuk apa yang didapet padahal yang terbaik itu (sebagaimana hadits) kontribusi positif sebanyak-banyaknya semampu kita ke sekitar kita... Dan, selalu bahagiakan orangtua kita selama mereka masih ada, sekuat daya-upaya kita...

Dunia ini hanya sementara, maka kita harus pastikan kalau nanti di akhirat, kita sekeluarga berkumpul di surga-Nya, duduk bareng Rasulullaah Shalallaahu Alaihi Wassalam bersama-sama melihat wajah Allaah... Aamiiiiin Allaahumma aamiiiiin....

Sunday, February 8, 2015

Kisah Ibunda Hilyah Qonita

Pic taken from here


.::Seorang Bidan Menjadi Pendidik Al-Qur’an::.
(Orangtua Hilyah Qonita, juara 1 Hafizh Indonesia RCTI 2013)


Sejak menikah, saya, Nuroniyah Manaf dan Suami, Muslim, sepakat menjadikan pendidikan Al-Qur’an sebagai landasan utama sebelum anak-anak belajar ilmu-ilmu yg lain.

Kini, kami dikaruniai tiga orang anak, Aufa Alfa Zhillah (9), Hilyah Qonita (5), dan Muhammad Al Fatih (11 bulan). Kami tinggal di wilayah Kebon Jeruk Jakarta Barat. Aktifitas saya sehari-hari adalah sebagai guru ngaji di rumah. Bersama suami, saya mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak yg berada di lingkungan sekitar rumah. 

Sebelum mengabdi menjadi pengajar Al-Qur’an, saya pernah menjadi bidan di RS Islam Jakarta Pusat. Namun saat mengandung Aufa di usia kehamilan tujuh bulan, saya berhenti menjadi bidan karena ingin fokus mendidik anak-anak secara intensif. Aktifitas suami, selain menjadi guru di SDIT, juga menjadi guru ngaji, termasuk diantaranya menjadi guru Tahsin di Nurul Hikmah, Pesantren Ust.Muzammil.

Anak pertama, Aufa, Alhamdulillah sekarang sudah menyetorkan hafalannya sebanyak 13 juz. Ia menjadi santri Pesantren Nurul Hikmah sejak kelas 1 SD. Berbeda dengan Aufa, kami membuat program agar ia bisa menghafal Al-Qur’an di rumah, dengan mengikuti metode yang ada di Pesantren Nurul Hikmah. Alhamdulillah, hafalan Hilyah sekarang sudah lima juz. Yaitu juz 30 sampai juz 26, dan sekarang Hilyah sedang menghafal Juz 1.

Hilyah juga mempunyai prestasi sebagai juara 1 MHQ juz 30 Islamic Book Fair 2012, juara 1 MHQ juz 29 dan 30 di LTQ Asy Syifa, juara 2 MHQ juz 29 dan 30 di Kafila Islamic International School se-DKI Jakarta dan Jawa Barat, dan yang terbaru adalah sebagai juara 1 Hafizh Indonesia RCTI 2013.

Capaian ini tidak instan. Program menghafal Qur’an sudah saya mulai sejak hamil, yaitu dengan memperbanyak mengkhatamkan Al-Qur’an. Khataman Al-Qur’an ini saya lakukan untuk merangsang tumbuh kembang otak janin sejak dari dalam kandungan. Saya juga selalu berkomunikasi dengan si kecil di kandungan saat tilawah. Ucapan semisal “De, Ibu mau tilawah surat Yusuf nih sekarang. Dengarkan ya..” selalu saya lakukan sambil saya mengelus perut.
Ketika lahir, kebiasaan mendengarkan bacaan Al-Qur’an tetap kami lanjutkan. Ayahnya biasanya memilih bacaan murattal Imam Misyari Rasyid karena temponya tidak terlalu cepat dan lebih syahdu. Hampir setiap hari pun saya mentalaqqikan surat-surat pendek di berbagai aktifitas, misalnya pada saat menyusui, makan, dan ganti popok. Di usianya 6 bulan, saya mulai memperkenalkan huruf-huruf hijaiyah sambil bermain dengan alat peraga yang saya buat sendiri dengan menggunting kertas origami warna-warni yang dibentuk sesuai huruf-huruf hijaiyah, lalu kami tempelkan di lembaran kardus yang besar.
Ketika mereka sudah bisa berucap, huruf-huruf hijaiyah yang selalu saya perkenalkan ternyata mereka hafal. Setelah itu saya menggunakan metode iqro untuk mengajari mereka membaca Al-Qur’an. Alhamdulillah, Aufa di usia 4 tahun, dan Hilyah di usia 3 tahun, sudah bisa membaca Al-Qur’an. Saya pun terus melatih kelancaran tilawah Qur’an mereka, sambil memberikan hafalan surat-surat di juz 30.
Hilyah mulai setor hafalan ketika usianya tiga tahun. Biasanya ia menyetor hafalannya sehabis asar dan muraja’ah di usai shalat shubuh. Kemudian di ba’da maghrib, bersama para santri, Hilyah mengaji di rumah dengan saya dan suami.
Saya bersyukur, proses menghafal Hilyah sampai sekarang tidak banyak kendala. Kuncinya, tekad yang kuat dan disiplin dari orangtua. Kami juga sadar bahwa lingkungan ikut mempengaruhi, oleh karenanya saya dan suami memilih tempat tinggal yang tenang, dan membatasi kegiatan menonton televisi. Dalam hal ini, orangtua tentu harus menjadi teladan bagi anak-anak dengan tidak banyak menonton televisi, sebaliknya memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an.
(Disadur dari Buletin Pesantren Al-Qur’an Nurul Hikmah, edisi 10 November 2013/Muharram 1435 H)

Thursday, June 5, 2014

Umrah Pertamaku

Depok, 31 Mei 2014
16.43 WIB



Jadi ceritanya, dari 26 April sampe 3 Mei kemarin gw dan sekeluarga Alhamdulillah berangkat umrah bareng..

Sebetulnya pas diawal tu gw ngrasa lumayan-cukup-tidak-bersemangat dengan rencana Ortu buat sekeluarga umrah bareng.. Gw pikir, ibadah bisa dimana aja, yang penting niatnya dan bener-bener khusyuk.. Tapi gw nanya ke beberapa kenalan yang udah pernah umrah ato haji, gw mo tau pengalaman mereka dan ALESAN knapa sampe sgitu cintanya mereka pengen balik ke Makkah sama Madinah..

Yeah, gw bingung knapa SMUA orang yang gw tau mereka udah pernah naik haji ato umrah tu pasti PENGEN balik ksana lagi.. Dan gw ngga ngerti knapa mereka sampe sgitunya...

Pas gw sampe Jeddah (Bandara King Abdul Aziz), rombongan gw masih harus ngebus sampe hotel kita di Madinah.. Diatas bus pun gw masih apdet status Twitter mempertanyakan knapa banyak orang cinta sama Makkah dan Madinah, dan gw berharap smoga gw bisa dapetin jawabannya..



Sampe lah gw di Madinah, kita langsung ke hotel dan siap-siap buat sarapan pagi.. Gw nginep di Al Eiman Royal Hotel, 2X nyebrang jalan sebelum sampe di halaman Masjid Nabawi, ngga terlalu jauh-jauh banget, lumayan buat skalian olahraga..

Alhamdulillah gw sukses shalat sunnah 2 rakaat di Raudhah 2X.. Yang pertama rombongan gw dianter Ummahat Indonesia yang emang tinggal disana dan jadi Guide, yang kedua gw berdua sama Nyokap dan ada 1 Ibu dari Malaysia yang ikutan karena kemarin dia ngga berhasil nyampe ke Raudhah sama rombongannya, Ibu Malaysia itu bilang (dengan logat dan aksen Malaysia, tentunya) dia berharap semoga kali ini dia bisa sampe di Raudhah dan kalo bisa shalat sunnah disana..

Pas Ibunya cerita, gw cuma mikir, "lhah... bisa gituh ngga dapet..?" Bukannya songong, tapi emang sie di Raudhah tu lumayan CADAAZZZZ jama'ah yang kepengen shalat disana, dan masuknya pun bener-bener kayak lagi di dalem CL pas jam balik ngantor (tapi ditambah gebokan dari tangan Ummahat yang gede-gede).. Dan menurut gw, ya musti lapang hati dan penuh kesabaran kalo mo shalat sunnah di Raudhah, bukan apa-apa tapi kan emang ngga cuma kita doang yang pengen shalat disana, berdo'a disana.. Ada ratusan, ribuan Muslimah yang pengen shalat disana, berdo'a disana..

Dari Guide rombongan gw yang pertama itu gw jadi tau kalo ada Muslimah, Ummahat yang emang terkenal egois kalo dapet tempat shalat di Raudhah, dan gw ngliat sendiri.. Mereka itu dari Negara yang diprediksi akan menjadi tempat keluarnya Dajjal, cari tau sendiri yoo.. Dan gw ngeliat sendiri, mereka shalat emang lebih dari 2 raka'at tapi BURU-BURU GITUH, lahh mendingan orang Indonesia yang walopun cuma shalat sunnah 2 raka'at tapi insyaaAllah khusyuk.... Ngga habis pikir gw..

Dan gw belajar, kalo ada yang shalat lebih dari 4 raka'at itu baiknya ditepok-tepok aje bahunye, "NGANTREEEE INIIIIHHHH... Gacuma ente aje yg pengen shalat dimari di Raudhah...." *kunyah Kurma*

Tapi tentu nepoknya pun dengan penuh kelembutan sesama Muslimah.. Tepokan cinta..
*haseeeqq*

Oya, pas kunjungan pertama gw ke Raudhah, sepanjang perjalanan mule dari keluar Hotel sampe mendekat ke Raudhah, gw dengerin lagu X Ray Dog yang Dethroned. Sengaja supaya mood gw terpacu untuk tetap sabar, konsisten, dan fokus sampe dapet tempat buat shalat sunnah 2 raka'at di Raudhah..

Oya, hari kedua di Madinah, Alhamdulillah gw sakit.. Badan anget, kepala gliyengan, tenaga kayak kekuras.. Daaann jadwal hari kedua rombongan umrah gw tu ke Jabal Uhud, Masjid Quba, Masjid Qiblatain...... (T____T)

Padahal gw pengen bangeeetttt ke Jabal Uhud, gw pengen nginjek langsung tanah tempat berdirinya Pasukan Pemanah, ngliat kebawah, dan ngbayangin ngliat Khalid bin Walid di belakang ngliat pasukan Rasul udah gada yang jaga... Buat slalu ngingetin gw arti kata TA'AT KOMANDO PADA PEMIMPIN.

Waktu itu gw lebih milih tidur di Hotel nyiapin fisik buat dapet shalat dzuhur berjama'ah di Masjid Nabawi, ketimbang ikut tur.. Gw pikir, "tur ke Jabal Uhud dan semuanya itu bisa bulan depan, dan insyaaAllah tiap taun gw bisa ke Madinah, Mekkah... Tapi shalat fardhu berjama'ah (di Masjid Nabawi pula!) belum tentu bisa setiap waktu, karena kita gatau umur kita sampe kapan, kita gatau gimana kondisi kita, dan sebagainya..

Gw putusin untuk nenggak cairan Propolis lebih dari 7 tetes, trus gw minum air zamzam yang selalu gw siapin di botol minum plastik gw, trus gw maksa tidur..

Alhamdulillah gw sehat.. Jam 10an Ortu sama 2 Adek gw sampe dari tur dan mereka cerita.. Pas sebelum berangkat tur, Nyokap bilang gimana kalo Ibu di hotel aja nemenin gw, gw minta Nyokap tetep ikut tur aja.. Entah kenapa gw ngrasa lebih enak kalo gw sendirian aja..

BTW, itu botol Propolis gw ilang aja gituh.. Entah pas di Madinah ato Mekkah, gw lupa.. Kayanya sie pas di Madinah..

Tiba saatnya menuju Makkah.. Ngga langsung kesana karena kita ke Bir Ali dulu..

Sampe di Makkah itu sekitar jam 9 malem, shalat maghrib sama isya' udah di jamak di suatu tempat yang gw lupa namanya, dimana untuk take a pee sama wudhu itu dibutuhkan kesabaran dan perjuangan..

Sampe di Makkah, gw menemukan KEMACETAN! Ya Allah.... Bisa dibayangin gw jadi inget jalanan Jakarta, Depok.. Mendadak gw ngrasa kayak, "I'm home!" Bukan karena macetnya, entah karena apa gw ngrasa kayak udah sampe di rumah gw..

Rombongan gw nginep di Elaf Kinda, termasuk bintang 5 tapi ngga sedeket Zamzam yang sekali jalan langsung nyampe Masjidil Harom.. Tapi gw suka.. Gw jatuh cinta sama Elaf Kinda, soalnya depan-depanan sama Supermarket Bin Dawood..

Supermarket Bin Dawood ini supermarket yang hampir semua Kasirnya tu orang Indonesia aselih! Feels like home.. Brasa kayak gw lagi bilinji pas jaman kuliah di Jogja..

Oiyah! Gw juga sangat berterimakasih kepada pihak Pemerintah Indonesia (Kemenag ya..? Ato siapa..?) yang udah menjalin kerjasama di bidang perbankan dengan Bank Al Rajhi.. Gw pribadi sangat terbantu karena gw bisa tarik tunai di ATM Bank Al Rajhi yang tepat di sebrang Masjidil Harom.. Jadi, kalo ngga salah, udah ada 4 bank yang udah kerjasama (BNI, BRI, Mandiri, Muamalat), naahh uang kita disitu bisa ditarik tunai LANGSUNG di konversi ke Riyal kalo kita narik di ATM Bank Al Rajhi.. Mungkin ada Bank lain yang juga kerjasama, tapi gw gatau.. Gw sendiri make BNI Syariah dan narik tunai Riyal di ATM Bank Al Rajhi.. Info ini gw tau pas gw di Makkah, gw googling dan Alhamdulillah langsung dapet infonya.. Gw pun bisa bilinji dikit-dikit dengan tenang... Cuma 250 Riyal yang sanggup ditarik dari Debit gw..

Cara tarik tunainya pun mudah :
Masukin Kartu Debit --> Pilih "English" --> Masukin nomer PIN lo --> Enter --> Pilih "Saving Account" --> Pilih jumlah uang yang mo lo tarik, kalo gada jumlahnya lo pilih "Another Amount", ketik jumlah yang lo mau --> Tekan "Yes" --> Lo bisa ambil struknya (gw lupa neken ape)..

Balik ke saat pertama kalinya gw nginjek tanah Kota Makkah, rombongan gw LANGSUNG Thawaf.. Ya ngga langsung sie, kita masuk ruangan hotel, leyeh-leyeh sampe 1 jam, baru ke Masjidil Harom.. Kita thawaf bareng-bareng..

Pas kita masuk ke Masjidil Harom dan gw mule ngliat Ka'bah, gw diem, gw mikir, "ini orang-orang katanya nangis pas ngliat Ka'bah.."

Gw biasa aja.. Ngga nangis...

Ngga brapa lama gw nangis..

Tapi gw nyadar 1 hal..

"Lo knape nangis Yur..? Terharu...?"

Engga.

Gw nangis karena gw gabisa nangis, karena gw ngga ngrasain terharu sedikit pun..

Gw ngrasa otak gw 'nangkep' yang lain, mikirin yang lain..

Gw sadar waktu itu udah jam 11an malem, dan ketika gw masuk Masjidil Harom itu masih RAME... Lu bayangin aje kalo di bumi belahan laen pas malem tu orang pasti udah pade tidur (khususnya gw), tapi disini tu gw ngrasa waktu kayak ilang gitu aja, dan gw rasa smua orang juga lupa waktu, bener-bener fokus ibadah.. Dan fisik lo kayak cuma kenal 1 kata : KUAT.

Pas Thawaf sama Sa'i itu gw bener-bener ngrasa ngga puas, salah gw juga sie karena gw emang (sengaja) ngga nyiapin banget smua tentang tata cara umrah.. Dari awal emang gw pengennya tu banyakin shalat di Masjid Nabawi sama Masjidil Harom.. Khusus untuk umrahnya sendiri gw lebih ke "pengen liat dulu praktiknya gimana, insyaaAllah stiap taun bakal selalu dateng ke Ka'bah lagi..." Jadi ya gw bener-bener have no idea sama umrahnya, gw cuma ngikutin aja Pembimbing Rombongan gw..


Slama ibadah umrahnya, gw emang banyak mikir ketimbang khusyu' ibadah dan do'anya.. Sejak ngliat Masjid Nabawi sama Masjidil Harom (terutama pas liat Ka'bah), gw tu cuma mikir, "ya Allah.. Makasih banyak ya Allah udah ngizinin aku bisa ke Masjid ini.." dan pikiran yang banyak masuk di kepala gw adalah, "ya Allah bersyukur banget bisa kesini padahal niat gw tipis dan bahkan gada niat sama sekali... Ini kesini juga dipaksa Ortu..."

Iye, gw emang suka error.

Stiap gw lagi diem aja, do'a, ngga shalat, biasanya gw mikir, "bgini ya rasanya disayang Allah.. Gw yang masih blang-bentong-bolong-bolong ibadahnya, kok ya dimudahkan banget buat bisa dateng, ngliat, dan bahkan shalat jama'ah di dalem Masjid ini...."

Posisi yang sering gw ambil buat shalat sunnah di Masjidil Harom itu TEPAT depan pintu Ka'bah.. Gw suka banget ngeliat Ka'bah dari depan.. Ngliat pintu Ka'bah gw ngrasa tenang, aman, damai.. Makanya gw bela-belain liat ksono-kmari buat nyari tempat kosong buat shalat yang mata gw abis salam tu bisa langsung liat Ka'bah..

Dan gw beneran nangis setiap shalat sunnah yang posisi gw di bagian pintu Ka'bah.. Ngga kayak pas pertama kali liat Ka'bah, gw ngerti knapa gw nangis..

Oya, balik ke ibadah umrah, pas Sa'i itu bayangan tentang Siti Hajar selalu ada di kepala gw.. Dan pada saat Sa'i inilah gw ngakuin kalo gw bener-bener manja.. Gimana ngga manja, lha wong itu jalanan dari Bukit Shafa ke Bukit Marwa yang sekarang udah mulus pake marmer dan ber-AC aja gw ngos-ngosan.. Gimana coba pas jaman dulu jamannya Nabi Ibrahim pas Siti Hajar lari-lari nyari air bahkan sampe 7X, dan air zamzam yang muncul pun bukan disana.. FYI, udara Arab Saudi tu BEDA lhoohh sama di Indonesia..

Yang gw lakukan beberapa hari selanjutnya adalah NYIUM HAJAR ASWAD..
Tapi ngga ksampean. Gapapa.
Posisi gw udah deket sama Hajar Aswad, paling beda selangkah lagi, tapi depan gw ada orang yang gamau pergi, dan gw digempet laki-laki dari kanan-kiri-depan-belakang, dan pas gw liat ke sekitar gw................ LAKI-LAKI SEMUA!!
Gw diem.
Gw tarik napas pelan.

Gw nyerah.
Gw sedih tapi disisi lain kayak ada suara manis yang ngomong ke gw, "jadi punya alesan buat balik lagi kesini kan...? :)"

Okay. I'm leaving now.

Waktu itu gw abis shalat subuh, jadi pas gw di deket Hajar Aswad itu kayanya udah jam 6an.. Matahari udah keliatan banget walopun belum panas.. Cahayanya udah terang gitu...
Pas gw mulai ngejauh, gw sempetin nengok ke Hajar Aswad, kali gw bisa liat dan senyumin sebelum gw bener-bener balik..
Tepat ketika gw baru mo nengok, gw ngliat pantulan cahaya silau banget dari tempat Hajar Aswad, "dateng lagi kesini ya Yurista.... :")"


Hajar Aswad NGEDIPIN ke gw! Ya Allah.... (T____T)
"Iya, iya.. InsyaaAllah ntar gw dateng lagi ya..."

Iya gw tau, itu pinggirannya Hajar Aswad, karena Hajar Aswad kan batu hitam.. Tapi gw ngrasa kayak itu Hajar Aswad yang ngomong ke gw... :"((

Sounds lebaiy, tapi karena itulah gw BERTEKAD KUAT untuk SELALU dateng ke Masjidil Harom dan Masjid Nabawi SETIAP TAHUN, minimal 2-3 kali. Ngga peduli lewat rezeki siapa, Bapak, Suami, Negara, siapa kek, ato gw usaha sendiri kek.. Yang penting gw dateng!

BTW entah kenapa hati gw lebih milih stay lama di Masjidil Harom daripada Masjid yang lain di Arab Saudi.. Bukan mo ngebanding-bandingin, tapi gw ngrasa hati gw ingetnya ke Ka'bah, terutama pintu Ka'bah.... :"( gw kangen..............

Alhamdulillah hampir semua hal yang gw dapetin selama di Madinah dan Mekkah adalah hal yang menyenangkan.. Yang ngga menyenangkan tu pas botol Propolis gw nyelip entah dimana dan setiap nemenin Ibu belanja.. Menguras emosi! Ujian banget! Huhuhu... :"(((((

Yang Propolis, gw ber-husnudzhon kalo itu diingetin bahwa obat yang Allah ciptain itu bukan cuma Propolis.. Gw sadar slama ini (sejak kuliah) gw hampir memuja Propolis dan gw memandang obat herbal lain (Habbatussauda, Zaitun, Kurma, Madu, Zam Zam) itu sebelah mata.. Padahal itu semua ciptaan Allah dan pasti ada khasiatnya.. Cuma hati gw udah terikat erat sama Propolis dan diingetin Allah untuk juga ngonsumsi yang lain..

Tentang belanjanya Ibu, gw jadi belajar untuk lain kali bikin daftar siapa-siapa aja yang bakal dikasih oleh-oleh.. Simpelnya sie disamaain aja smua, tapi kalo sekiranya ngga memungkinkan ya gapapa beda tapi tetep dicatet.. Dan itu CUKUP SEKALI belanja, ngga perlu tiap abis ashar belanja juga.. 
#NotesToMySelf

Oiya, salah satu hal menyenangkan yang gw dapet selama di Madinah dan Mekkah adalah gw DIKASIH AL QUR'AN sama Ibu-Ibu, kayanya beliau dari Jordania.. Gw 3X ketemu Ummahat dari Jordania, dan emang yah mereka tu cantiknya masyaaAllah..

Gw juga dapet makanan, camilan.. Alhamdulillah.. Beneran ngga nyangka pas lagi sujud, tiba-tiba ada yang lempar permen, pas abis shalat ada yang nglempar TofiLuk (duh! pengen beli tapi gatau dimana), trus pas mo keluar abis shalat ada yang berdiri di pintu keluar nawarin manisan kenyal gitu rasa Mawar..

Oiya, di Madinah gw beli Al Qur'an Khat Utsmany harganya 60 Riyal tapi Bapak yang jual ngasih harganya 50 Riyal tanpa sebelumnya gw tawar.. Alhamdulillah.. :)

Tentang makanan, Alhamdulillah lidah sama perut gw baik-baik aja sama makanan yang disediain.. 

1 hal yang gw pelajari di umrah pertama gw adalah : gw WAJIB selalu tinggal di hotel bintang 5 karena posisinya deketan sama Masjid Nabawi dan Masjidil Harom, jadi gw selalu dapet shalat fardhu jama'ah dan lama-lama di Masjid.. Selain itu, kemungkinan mata gw ngliat barang-barang yang dijual juga kecil, kecuali emang diniatin belanja..

Buat Haji juga, gw nyiapin banget mulai dari sekarang jadi 2015 besok insyaaAllah gw bisa naik Haji.. Harapannya bisa naik Haji bareng Suami, aamiiiiiin Allahumma aamiiiiin.. Kenapa gw pengen naik Haji taun 2015, itu karena umur gw masih muda, 25 tahun.. Kenapa pengen sama Suami, ya lebih ngrasa nyaman aja, daripada sendiri ato sama orang lain..

InsyaaAllah bahasan tentang Umrah ngga cuma ini aja, waiting for my next stories yaa.. :*

Smoga bermanfaat.. Assalamu'alaikum warahmatullah.. ^^7

Tuesday, March 22, 2011

Cinta Bapak, Cinta Indonesia

Jogja, 28 Februari 2010
(08.41)

saya cinta Bapak saya.
Bapak saya cinta Indonesia.
makanya, SAYA CINTA INDONESIA.

senangnya saya jadi anak Bapak saya..
His Only Daughter.. (^_^)

saya bangga dengan Bapak saya yang Nasionalis.
karena Bapak saya selalu menekankan pentingnya BERPRESTASI UNTUK BANGSA.
saya juga ngerasa kalo lagu-lagu yang bergenre Nasionalisme adalah sangat keren..

Bapak saya sedih kalo saya nggak punya Jiwa Nasionalisme seperti dia.
makanya, saya berusaha menjadi Nasionalis, tetapi dengan cara saya sendiri.. (^_~)
karena yang utama dari Cinta itukan adalah bagaimana KONTRIBUSI yang diberikan..
dalam bentuk apapun, tapi tetap bermanfaat untuk yang dicintainya..

Bapak saya suka nanya, "apa kontribusi kamu untuk Indonesia?"
"kamu udah ngelakuin apa aja untuk membuat Indonesia jadi lebih baik?"

karena sering ditanya gitu, saya jadi mikir deh..
siapa sih yang berperan penting dalam memperbaiki Indonesia??
dan jawabannya adalah ya RAKYAT INDONESIA sendiri.. bukan rakyat Negara lain...

yang bertanggungjawab??
ya PEMERINTAH INDONESIA..

kok cuma Pemerintahnya aja??
ya iyalah, karena kan Pemerintah itu kan Rakyat Indonesia yang dapet kewenangan lebih daripada Rakyat Indonesia lainnya..
semakin besar kelebihan yang didapat, semakin besar pula tanggung jawabnya..

sekarang ini, siapa Rakyat Indonesia yang bisa dijadikan TELADAN sebagai NASIONALIS..?



p.s. : kayaknya ini bisa dijadiin ide cerita... hmm.. v(^_^)v

Ibu Harus Sehat

Jogja, 4 September 2009
(12.45)

Ibu sakit.
lagi di Dharmais.
sendirian.

sedih.
sedih.
sedih.
mo nemenin.

walopun dulu musuhan banget sama Ibu,
walopun dulu sering berantem sampe perang hebat,
walopun dulu setiap kali ketemuan langsung sinis-sinisan,
walopun dulu sampe pernah marah ke Alloh karena ninggiin posisi seorang Ibu,
walopun dulu pernah bener-bener pengen jauh sama Ibu..

cepet sembuh ya Ibu..
semoga sakitnya jadi peluntur semua dosa Ibu...

sebentar ya Ibu..
insya Alloh tanggal 9 sore besok mbak Ita udah pulang...
ntar mbak Ita temenin kalo ke mau ke dokternya deh..

sabar ya Ibu sama sakitnya...


- mbak Ita sayang Ibu -

(^_^)


- - -

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."

(QS. Al Baqarah : 155)

- - -



n.b. : Alloh.. tolong angkat rasa sakit dan susah dari 2 orangtuaku dan 2 adikku....
kasih ke aku aja deh.. pasti aku kuat nahannya....
tapi aku nggak tahan kalo liat mereka sakit..


(T_T)