Friday, October 31, 2014

Untuk Apa Menikah ? Menikah, Untuk Apa ?

Depok, 31 Oktober 2014
(19.21 WIB)


Jadi, smalem gw telfon-telfonan untuk hampir 6 jam (21.00 - 02.00 WIB) sama temen sekampus yang juga sekosan, Vidi.

Diantara semua tema dan materi obrolan, becandaan, serta kedudulan yang kami bahas semaleman, ada 1 yang gw ceritain ke Vidi terkait pernikahan. Yang dulu pernah dibahas dan gw udah nemu jawabannya sekarang.

Sekitar 2013an kemarin atau awal 2014 awal, saya main ke Jogja dan nginep di kosan tepatnya kamar Uchi. Waktu itu, sekitar malem, saya, Uchi dan Vidi leyeh-leyeh di kamar Uchi. Entah gimana, jadinya sampe bahas masalah pernikahan.

Dalam obrolan kami saat itu, Vidi bilang kalo gw belum nikah karena gw belum siap. Uchi sepakat. 

"Allah ngga ngasih lo nikah sekarang karena Allah tau lo belum siap untuk nikah.", kata Vidi.

"Iya Mba, Mba Ita menurutku belum siap untuk  nikah.", Uchi yakin.

"Haa...? Gw siap koook....", gw kaget, nolak pernyataan mereka, sekaligus ngga yakin sama jawaban gw sendiri kalo gw bilang gw belum siap nikah.

Sejujurnya, saat itu emang gw yakin kalo gw belum sepenuhnya yakin untuk nikah saat itu atau dalam waktu dekat. 

-___-a

Pas gw cerita itu semalem ke Vidi, Vidi bilang kalo dia inget dan dia bilang kalo dia menilai gw belum siap menikah karena gw belum tau apa tujuan gw nikah. Vidi ngibaratin kayak mau beli tas. Gw mau beli tas, gw siap beli tas, tapi gw gatau mau beli tas yang kayak gimana.

Trus gw ceritain ke Vidi kalo gw udah nemuin jawabannya.

~QS Muhammad : 7 ~

...Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu...

Itu salah satu ayat di Al Qur'an yang gw suka sejak SMA (entah kelas berapa, lupa).
Jadi, waktu itu ada acara Rohis dan kita yang hadir dapet semacam suvenir pembatas buku handmade by Anggota Rohis. Pembatas bukunya ada tulisan ayat atau kutipan Hadits gitu dan gw dapet pembatas buku dengan ayat ketujuh surat Muhammad.
Gw masih inget, gw ngrasa dapet kekuatan, optimistis, keyakinan yang kuat (entah apa), setelah gw baca ayat itu.

Gw ngga ngerti gimana penjabaran tafsirnya. Tapi saat itu gw yakin kalo sebenarnya gw lah yang butuh untuk nolong Islam. 
Pikiran gw saat itu, "gw butuh Allah, dan cara supaya Allah mau nolong gw adalah dengan nolong agama-Nya. Okay. I'll support Islam."
Simpel. Gapake ribet.

Gw bilang ke Vidi, ayat itulah yang jadi dasar gw nemuin tujuan apa gw nikah. Dan insya Allah gw yakin dengan jawaban gw.

Gw jelasin kalo mungkin bisa jadi akan muncul pertanyaan, gimana caranya pernikahan itu termasuk "menolong agama Allah".....?

Well, ini akan gw jawab subyektif berdasarkan sependek wawasan keislaman gw. Bisa jadi benar, bisa jadi keliru.

"Menolong agama Allah" dalam pernikahan tu menurut gw dapat diwujudkan dengan hal-hal konkrit sebagai berikut : 

Menjalankan tanggung-jawab sebagai Istri, Ibu, Menantu, Tetangga, Saudara sesuai yang tuntunan Rasulullah. Nulisnya mah santai, prakteknya smoga Allah mudahkan. Aamiiiiin Allahumma aamiiiiin...

Dari 1 poin diatas yang masih umum-abstrak banget, menurut gw tindakan konkritnya adalah dengan menjadi Full-Time Mom, Kyoiku Mom, Stay-at-Home Mom, atau apapun lah sebutannya yang menunjukkan menjadi Ibu yang 100% ngurus rumah tangga. 

Gw pribadi ngga masalah dengan Ibu-Ibu lain yang mau jadi Working-at-Office Mom, atau Business Mom atau Freelancer Mom
Apapun pilihannya, yang penting rumah tangga dan keluarga tetep keurus. 

Jujur yah, sejak kelas 1 SMA gw nonton "Cheaper by Dozen" dan baru-baru ini tau ada serial tivi salah satu pasutri di AS dengan 19 anaknya judulnya "19 Kids and Counting", gw semakin mengukuhkan impian gw untuk memiliki banyak anak. Sebanyak yang Allah percayain ke Suami gw nantinya.

Intinya adalah, menjadi Istri dan Ibu yang mengurus rumah tangganya, keluarganya. Dan juga masyarakat.

Untuk kontribusi ke masyarakat, itu harus dipikirin matang-matang lagi.
Buat gw, ini termasuk wajib.
Gw punya contoh Ummahat selain Ibu yang profesinya Ibu Rumah Tangga dengan punya bisnis yang udah mapan dan tetep kontributif ke masyarakat.

Tentang menjadi Ibu Rumah Tangga, beberapa orang berpikir kalo akan menyulitkan Istri kalau sesuatu hal terjadi ke Suami, misal : Suami sakit keras dan tidak memungkinkan untuk membiayai operasional rumah tangga. Istri sudah lama tidak bekerja, lalu bagaimana..? Hidup dari belas kasihan Saudara, Tetangga....? Not an option.

I was thinking about this. 
A woman who focus on her marraige and family as we known as Ibu Rumah Tangga, doesn't mean she can't have income. 
She still can.
She can write many books.
She can build online shop.
She can cook for catering.
She can make cakery, bakery, cookies.
She can do many things and still stay at home and still get income.

Bapak pernah bilang, kalo Istri bekerja itu bukan untuk menyaingi Suami.
Gw pribadi sepakat sama Bapak, karena salah satu idola gw adalah Zainab binti Jahsy. Istri Rasulullah yang langsung nyusul Rasul setelah Rasul meninggal.
Zainab binti Jahsy sukses nyusul Rasul pertama kali karena beliaulah satu-satunya Istri Rasul yang bersedekah dari hasil kerjanya, menjual kulit Unta yang sudah disamak.

Selain Zainab binti Jahsy, idola pertama gw adalah Khadijah. Istri pertama Rasulullah. I adore her marriage with Rasulullah.
Khadijah adalah Istri yang Rasulullah sangat cintai.
Khadijah adalah Istri yang Rasulullah mendapatkan anak-anak.
Khadijah adalah Istri Rasulullah yang mendukung total perjuangan dakwah Rasulullah pertama kali.
Khadijah adalah Istri Rasulullah yang percaya 100% ke Rasulullah disaat banyak yang meragukan Rasul.

Gw inget 1 buku bagus yang pertama kali bikin gw mikir kalo hidup gw harus berjalan di jalur agama Islam.
Di buku itu, yang paling gw inget adalah kalimat, intinya: 

"jangan jadi perempuan spons. Perempuan yang menyerap segalanya, baik dan buruk, semuanya diserap tanpa saringan. Jadilah perempuan yang pemikirannya selalu menyaring dan hanya mengambil yang baik saja. Dan penyaring terbaik adalah agama. Islam. Semua yang pikirkan, semua yang kita katakan, semua yang kita lakukan adalah berdasarkan syari'at Islam."

Buku kedua yang membuat gw semangat untuk ngebela Islam adalah bukunya Jerry D. Gray yang judulnya "Bayang-Bayang Gurita". Kayanya sekarang udah ngga dicetak lagi bukunya, dan buku punya gw ilang entah dipinjem siapa. :(
Buku itu pertama kali gw tau karena dapet tugas ngeresensi di Mentoring pas kelas 2 SMA. 
Siang pas liqo' saat itu ditugasin, sorenya pas sebelum balik ke rumah, gw beli bukunya di Mafaza.
Mafaza tu nama toko buku dan keperluan islami deket rumah. 
Sekarang udah pindah ke deket Jatijajar. Jauh dari rumah.

Balik ke tujuan nikah adalah sebagai salah satu cara gw untuk menolong agama Allah supaya gw mendapat pertolongan Allah.
Urutannya :
Nikah --> Punya banyak anak --> Mendidik anak dengan sebaik-baiknya supaya mereka berkontribusi besar dalam menegakkan syari'at Islam.

Cinta........?
Ya pasti harus ada lah yaa.. Namanya juga pernikahan, rumah tangga.
Tapi katanya, cinta itu bisa pudar seiring keriputnya kulit karena tergilas waktu, kesibukan, keletihan, dan ujian-ujian hidup.
Dan pembuktian cinta, katanya lagi, adalah dengan bertahan. Seseorang dapat bertahan karena prinsip, komitmen, sumpah, janji.
For me, if you really married someone because Allah, so you'll stay whatever happened as long everything is in Syari'at.

Yah. Nulis lebih gampang daripada ngejalanin.
Mari saling mendo'akan supaya kita selalu dalam penjagaan-Nya.
Smoga kita slalu berjalan diatas jalan-Nya yang lurus menuju surga-Nya.

Ada do'a bagus yang sering inget sejak gw umrah pertama kali kemarin.
Ketika banyak yang nitip do'a yang mirip-mirip.
Seseorang nitip 1 do'a. Dan do'a itu cukup 2 kata.

"Do'ain saya selalu istiqamah." 
"Trus..?" 
"Selalu istiqamah. Itu aja. Makasih banyak ya Ta."

Dia adalah orang pertama yang saya kasih tau tentang rencana umrah saya.
Dia adalah orang yang ngga nitip do'a apa-apa sampe akhirnya saya yang nanya dia mau nitip do'a apa.
Dia adalah orang yang bilang jangan ada komunikasi selama umrah, supaya fokus ibadah. 

Teman yang menarik.

I. S. T. I. Q. A. M. A. H.

Teman yang sebenar-benarnya teman adalah dia yang mendekatkanmu dengan Allah dan membuatmu selalu ingat dengan Allah.

Dan karena titipan do'a dialah, do'anya juga ngikut nama-nama yang lain, gacuma buat dia.
Dan buat dia, teman saya itu, walopun dia cuma nitip 1 do'a tapi saya tambahin do'a yang lain.

Tentang istiqamah, ada 1 quote bagus dari Ustadzah Yoyoh Yusroh :


“If we are realize that we are on mission, 
we must keep the mission on.”


Visi saya adalah mendapat ampunan Allah, mendapat ridha dan rahmat-Nya, memasuki jannah-Nya, dan melihat wajah-Nya di surga-Nya kelak.

Misi saya adalah ibadah, salah satu bentuk ibadah adalah pernikahan.

Ustadz Anis Matta mengatakan kalau pernikahan adalah misi peradaban.

Visi peradaban, menurut Hasan Al Banna, adalah terwujudnya Ustadziyatul Alam.


- - - - - - - 

Itulah sepotong bahasan saya dengan Vidi di telfon semalam.
Redaksionalnya lebih heboh dan panjang (dan kadang sambungannya suka mati sendiri gatau knapa) daripada tulisan di blog ini.

Semoga bermanfaat..... v(^0^)v

No comments:

Post a Comment