Friday, April 25, 2014

Why Divergent ?

Assalamu’alaikum! 

Apa kabar ni blog? Lama ngga ditengok. (“,)v
*ambil kemoceng*

BTW postingan gw kali ini khusus untuk Unik sama Irwan yang kemarin sore nanya knapa gw seneng banget sama Divergent sampe nonton 3X, skalian review novel Divergent dan sedikit spoiler dari novel Allegiant.

Picture taken from here

Karena PKS (Justice and Welfare Party) dapet nomer 3 di Pemilu taun 2014 ini dan gw memutuskan untuk 3X berturut-turut nonton Divergent di bioskop SENDIRIAN, maka gw putuskan untuk memberikan 3 alasan kenapa gw suka Divergent.

*FYI film Divergent ini diputer di bioskop menjelang Pemilu Legislatif, dan ini jadi salah satu penyemangat buat gw*


Picture taken from here
BTW peliiisshhh Unik, Irwan, dan smua yang (mo) baca postingan gw kali ini, gw kasih tau dari awal : postingan ini p-a-n-j-a-n-g.

Pastikan anda membawa minuman dan cemilan untuk menemani anda slama membaca postinganku kali ini.. \\(^0^)//

Sebetulnya kalo normal mah bisa aje dijawab di grup, cuman karena smangat ngemeng gw bener-bener hyper, jadi mending dimari aje.

Oya, postingan ini sangat subyektif dari kacamata gw (walopun gw ngga make kacamata). Mungkin ada orang yang ngrasa biasa aja ato ngga sepakat.

Eniwei, smoga bermanfaat. Here we go!

*oiya, bakal ada spoiler, feel free to close this page*

Pertama, alesan subyektif banget..THEO JAMES (pemeran Four) kerennya. Ngga. Ketulungan. 
At least, buat gw. (>,<)v
Trus ada 1 quote keren dari Four, "a brave man acknowledges the strength of others."

Picture taken from here
Kedua, novelnya baguuss, banyak pelajaran yang bisa diambil apalagi buat anak Hukum ato Pejabat ato mereka-yang-diproyeksiin-jadi-Pejabat *ciee*.

Ngajarin untuk ngontrol rasa takut (yang faktanya : ngga smua orang bisa ngadepin itu dengan tepat).

Ngajarin untuk bertanggung-jawab sama pilihan yang udah kita ambil, apapun konsekwensinya. Bahkan ketika kita hampir mati untuk mempertanggungjawabkan konsekwensi dari pilihan yang udah kita ambil.

Contoh dramatis favorit gw di filmnya (karena di novelnya ngga ada) : pas Tris usaha lari cepet untuk naik kereta pas temen-temennya mau simulasi perang, padahal dia masih memar babak-belur dihajar Peter pas tanding berantem.

Ngajarin juga yang namanya setiap tujuan jangka panjang itu butuh persiapan matang (makanya di Dauntless latiannya keras dan fisik banget, karena mereka militernya untuk 5 faksi itu, gada ceritanya militer ngga 'dihajar' karena itu untuk nglatih fisik dan mental pas harus ngalahin musuh).

Ada 1 hal yang mirip kayak Islam di Divergent, tentang kepemimpinan yang gabole dikasih ke mereka yang emang pengen, niat, haus kekuasaan.
"... My father says that those who want power and get it live in terror of losing it. That's why we have to give power to those who do not want it."
Picture taken from here

 Di Divergent, yang jadi Pejabat Pemerintah tu Abnegation, bukan Erudite yang cerdas. Knapa?
Karena Abnegation itu faksi yang slalu mendahulukan orang lain ketimbang dirinya sendiri, makanya mereka yang dijadiin Pemimpin.
"Those who blamed aggression formed Amity." 
"Those who blamed ignorance became the Erudite." 
"Those who blamed duplicity created Candor." 
"Those who blamed selfishness made Abnegation." 
"And those who blamed cowardice were the Dauntless."
Trus, pelajaran kalo yang namanya kejujuran itu ada tempatnya, ada masanya, gabisa slalu diumbar langsung saat itu juga.

"I'm used to just saying whatever is on my mind. Mom used to say that politeness is deception in pretty packaging."  
"... Candor's real problem is with Amity. Those who seek peace above all else, they say, will always deceive to keep the water calm." 
I can’t imagine what good can come of saying such terrible things.”

Jadi, faksi Candor tu faksi yang slalu jujur, terbuka, terus terang. Kalo Amity tu faksi yang slalu damai, ambil posisi netral, makanya profesi mereka jadi Petani, ngurus kebun, makanan, bajunya cerah-cerah.


Picture taken from here

Beda sama Dauntless. Profesi Dauntless tu, "provide us with protection from threats both within and without."

Sesuai sama Manifesto Dauntless : "We believe in freedom from fear, in ordinary acts of bravery, in defending those who cannot defend themselves."

Dan itu mungkin yang ngebuat mereka selalu berhadapan sama ujian yang bener-bener nguji nyali, nguji sampe sejauh mana batas keberanian (dan nekat?) mereka.

I have realized that part of being Dauntless is being willing to make things more difficult for yourself in order to be self-sufficient. There’s nothing especially brave about wandering dark streets with no flashlight, but we are not supposed to need help, even from light. We are supposed to be capable of anything.”

Tapi, walopun mereka kuat, ngga brarti itu mereka harus kasar, selalu nge-bully. Idealnya sie gitu.
You’re not a coward just because you don’t want to hurt people.”

Picture taken here
 Pelajaran lain, di terutama Dauntless, adalah bahwa fisik yang besar, kekar, gagah belum tentu selalu menang di setiap pertandingan. Yang terpenting, gimana nguasain emosi dan melatih otak untuk berfikir cepat dan cerdas dalam waktu bersamaan.

All the people on Eric’s team are broad and strong. Just yesterday, Four told me I was fast. We will all be faster than Eric’s team, which will probably be good for capture the flag—I haven’t played before, but I know it’s a game of speed rather than brute force. I cover a smile with my hand. Eric is more ruthless than Four, but Four is smarter.”

Milih Dauntless juga bukan sembarangan, karena mereka bakal megang profesi sebagai penjaga keamanan dan itu ngga main-main. Bukan cuma fisik, tapi juga kemampuan otak.

“I suggest you take this time to formulate a strategy. We may not be Erudite, but mental preparedness is one aspect of your Dauntless training. Arguably, it is the most important aspect.” [Four]

He is right about that. What good is a prepared body if you have a scattered mind? [Tris]

Dan menurut gw, apa bedanya manusia gitu --yang kokoh fisiknya tapi otak sama hati ngga dipake—sama robot?

Salah satu adegan favorit gw adalah manjat pinang bianglala. Di filmnya si Tris nanya ke Four, “lo takut ketinggian ye?” Trus Four jawab, “everyone is afraid of something.”

Kagak. Tris kaga ngemeng pake bahasa Depok, di filmnye Tris lebih ke pernyataan daripada pertanyaan. “You’re afraid of heights.”

Kalo di novelnya, “You’re afraid of heights,” I say. “How do you survive in the Dauntless compound?”
“I ignore my fear,” he says. “When I make decisions, I pretend it doesn’t exist.”

Picture taken from here
 Gw masih ragu sama statement Four tadi sepenuhnya bener ato engga. Dan ada satu komen lagi yang gw belum tau sampe sekarang apa gw sepakat ato engga : “Because life’s not fair, Albert. And the world is conspiring against you,” says Will. “Hey, can I see the flag again?” Ini abis simulasi perang tadi.

Ada lagi yang sepertinya gw kurang sepakat, masih tentang simulasi perang, yaitu fakta bahwa : “Winning capture the flag is a matter of pride, and pride is important to the Dauntless. More important than reason or sense.”

Aduh, sebetulnya masih ada beberapa quote di novel Divergent yang bagus, dan ini gw baru sampe halaman 188, yang pas Tris dilempar-lempar piso dapur sama Four, sebelumnya Tris bilang ke Eric, Any idiot can stand in front of a target,” I say. “It doesn’t prove anything except that you’re bullying us. Which, as I recall, is a sign of cowardice.”

Dan kalo gw lanjutin, gw rasa postingan gw bakal jadi “Kumpulan Quote Keren dari Novel Divergent”, jadi gw pilih stop dan mari kita lanjut ke alasan terakhir gw suka Divergent.

Ketiga, ini termasuk novel distopia. Ada tulisan bagus tentang novel distopia judulnya "WhyDystopian Novels Are Important".

Salah satu yang gw suka dari novel distopia itu biasanya mempertanyakan hal-hal basic (tapi fondasi banget) dari kemanusiaan, kehidupan. Kayak di DIvergent ini :

"... Will I let her fall to her death, or will I resign myself to being factionless? What's worse: to be idle while someone dies, or to be exiled and empty-handed? 
... 
Would I even be strong enough to hold on to her? Would it be worth my effort to try to help her if I know I'm too weak to do any good?

I know what those questions are: excuses. Human reason can excuse any evil; that is why it's so important that we don't rely on it. My father's words."

Dan pertanyaan-pertanyaan lain kayak :
What is "freedom"?
What is "love"?
What is "human"?
What is "equity"?
Is "diversity" enough?

Sampe mana batas "adil" itu?
Knapa ada manusia yg serakah, maruk?
Apa smua orang itu sebetulnya pada dasarnya baik? Ato jangan-jangan emang Tuhan nyiptain manusia-jahat?

Picture taken from here
*FYI entah knapa gambar diatas tu nampol banget, nyemangatin (gw pribadi) buat mau belajar, banyak baca*

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin buat sebagian orang, ngga penting. Tapi pertanyaan-pertanyaan itu yg bikin gw jadi belajar lagi, & nyari tau jawabannya dari Islam karena gw yakin Islam punya jawaban logis untuk setiap pertanyaan manusia. Dan akhirnya bikin gw bersyukur gw milih Islam. Ngga cuma "masuk Islam", karena Ortu gw Islam. No.

Percaya ngga percaya, abis gw slese baca "Allegiant" di halaman terakhir, gw mempertanyakan kenapa Allah nyiptain manusia?

Allah ngga butuh ciptaan-Nya.
Allah bisa aja ngga nyiptain apapun.
Sendiri.
Allah ngga butuh apapun.
Allah ngga butuh dipuja-puji semua ciptaan-Nya.

Trus apa alasan penciptaan manusia?



Picture taken from here

Sampe akhirnya Iqbal jelasin ke gw (please koreksi Bal kalo ada penafsiran gw yang salah) dan gw paham, "iya yah.. Yang butuh diciptain tu ciptaan-Nya. Yang butuh Allah tu ciptaan-Nya." Emang sie, ada cerita sahabat Rasul yang sedih karena udah diciptain jadi manusia dan itu artinya harus nanggung beban pertanggungjawaban di akhirat nanti.

Tapi menurut gw, kalo gw gajadi manusia, gw ngga akan tau dan belum tentu bisa ngrasain bener-bener sifat-sifat Allah (kayak Allah Maha Pengasih, Allah Maha Penyayang, Allah Maha Pengampun, et cetera). Dan gw jadi dapet jawaban knapa manusia yg dijadiin Khilafah, bukan ciptaan yg lain.

Karena manusia dikasih akal. Kita bebas milih.
Manusia dibebasin milih, dengan segala konsekwensinya.

Picture taken from here
*yg jawaban ini membawa gw ke pertanyaan, "apa Iblis juga dikasih akal? Sampe mereka milih nolak sujud ke Adam itu hasil pemikiran akal mereka ato emang Iblis itu cuma diisi nafsu aja?" Pertanyaan itu sebetulnya muncul pas SMA gw baca buku "The Madness of God", diluar beneran tu buku menggugat pemikiran jamak yang udah mapan ato cuma fiksi, buku itu nyeritain tentang penolakan Iblis sujud ke Adam. Iblis jelasin kalo Tuhan cuma nguji Malaikat dan smua ciptaan-Nya yang lain, apakah mereka "ingat" sama perintah pertama-Nya untuk slalu sujud ke Tuhan dan bukan kepada yang lain?
Tapi alhamdulillah pas kuliah gw nemu jawabannya di Al Qur'an, yang ngjelasin kalo perintah sujud ke Adam itu bukan maksudnya menyembah Adam, tapi bentuk kepatuhan ke Allah atas perintah-Nya dan tunduk atas salah 1 takdir bahwa manusia lah ciptaan-Nya yang sempurna. Bukan yang lain.
Tapi gw tetep masih belum dapet jawaban, apa Iblis dikasih akal ato engga.
*eh, gw udah mleber kmana-mana yah? maap. kliwat semangat.*

Slama ini gw denger orang cuma bilang, "shalat tu buat kamu! Ziswaf tu buat kamu! Haji tu buat kamu!"
Jarang ada yang jelasin knapa kita butuh itu semua.

*ato karena gw yg ngga nanya?*

Knapa kita butuh ibadah?
Alesan surga dan neraka?
Takut?
Apa sih definisi "butuh"?

Dan itu jadi nunjukkin kalo yang butuh tetep ada di agama ini tu gw. Yang butuh ada di jama'ah ini tu gw. Yang butuh ada di Pejuang ini tu gw.

Gw ngrasa butuh, jadi gw usaha supaya gw slalu disini. Di Islam.

Di ujung, karena gw butuh, jadi gw yang musti ngasi sesuatu yang gw mampu kasih.

Gw belum jadi apa-apa, belum bisa ngasi trilyunan, gw skrg cuman masih belajar. Jadi gw harus smangat belajar. Kalo gw paham 'baca' hukum, gw paham gimana nyari cara untuk ikut ngbela Islam, gw jadi bisa bantu buat Islam.

Gada gw, Islam tetep menang. Jadi, jelas, gw yang butuh.

Statement Jeanine Matthews juga bagus (dan dibalikin Tris lagi kalimat itu ke Jeanine pas di akhir-akhir film Divergent), nyemangatin buat tetep berjuang, dimanapun posisi lo.

Don’t get me wrong. There’s a certain beauty in your ressistance.

Picture taken from here

 Logikanya : orang yang tau kalo faktanya tu posisi dia keliru (tapi tetep dipertahanin) aja tetep semangat dan megang prinsipnya (yang keliru) itu, masa’ kita yang bisa buktiin bener malah lemah-letih-loyo-lemes? *anemia Mba?*

Emang sie, ngliat orang yang megang teguh prinsipnya tu keren banget. Tapi lebih enak kalo prinsip yang dipegang tu prinsip yang benar.

Oiya, statement terakhir di Allegiant yang gw maksud tu yang ini :

Since I was young, I have always known this: Life damages us, every one. We can't escape that damage.
But now, I am also learning this: we can be mended. We mend each other.

Sebelum nge-spoil *halah*, ada 2 gambar lucu tentang Divergent.. Enjoy it.. XP


Picture taken from here


Picture taken from here


SPOILER :
Tris mati.
Four idup.

Monday, March 10, 2014

Trespass

Sebetulnya, postingan ini udah saya posting di FB saya 16 Desember 2011 lalu.. Tapi saya pikir lebih baik kalo disimpen di Blog juga.. So here we are.. ^^

Trespass

Anda ingin menikah..??

Atau anda sudah menikah..??

Baiknya anda menonton film ini secara matang dan seksama. Kenapa?
Karena dalam film ini (menurut saya), ternyata terkandung sejumlah pesan moral tentang “bagaimana menjalani pernikahan”.

Okeh.
Kita mulai dengan melihat siapa-siapa aja yang main di film ini, khususnya pemeran si Suami dan Istrinya, karena yang lain ngga tau namanya.

Nicolas Cage  : main di National Treasure sama National Treasure 2 : Book of Secrets. Dua-duanya keren. Sumprit.

Nicole Kidman : mantannya Tom Cruise. (yep! that’s all I know about her ^^v)

Tentang cerita, pembaca dianggap sudah nonton yah.. Kalo belum, ya nonton ajah, ato nyewa di rental tenda, ato ngopi dari leptop temen, ato nunggu sampe filmnya masuk tivi di program Bioskop TangTingTung juga bisa.

Picture taken from here


Pelajaran pertama : pastikan Pasangan anda mendapat uang/barang yang halal dari hasil kerja yang halal juga. Bahasa Depoknya : gausa matre!

Knapa..??
Bisa kita liat gimana Akh Nic (ternyata) ngutang sana-sini dan bangkrut, walopun keliatannya dia tinggal di rumah mewah segede-seluas-alaium-gambreng-sampe-ada-danaunya, dia make mobil mewah (ngga tau merk apa), plus dia keliatan sibuk nemuin orang-orang penting. 

Akh Nic ini cuma pengen bisa ngasih harta berlimpah ke Istri sama anak mereka satu-satunya. Tapi toh akhirnya segepok uang yang dia simpen di dalem papan di salah satu ruangan di rumahnya, kebakar juga, bahkan kayanya rumahnya tu kebakar smua. Trus juga, dia ngejual kalung asli berlian Istrinya (Bu Nicole) dan dituker sama kalung murahan supaya ada fresh money yang bisa dia tumpuk di lemari kayu buatannya. 

Akh Nic sengaja nyimpen disitu, bukan di bank, supaya kalo dia udah beneran positip bangkrut, ngga ada yang bisa ngambil uangnya. Ya kalo disimpen di bank kan gampang dibekuin, lhah kalo nyimpen di lemari kayu siapa yang bakal tau dan ngambil??

Kecuali emang ada mata-mata yang masuk dan tau? Jadi Akh Nic emang mau bawa kabur keluarganya plus uang-uang itu.


Pelajaran Kedua : PERCAYA 100% ke Pasangan. (kecuali ada hal syar’I yang dilanggar Pasangan)

Akh Nic yang seriiinggg bangetttt kerja dan jarang pulang ke rumah, bikin Bu Nicole jadi kesepian secara formil dan materiil *apa sih?* Tapi keliatannya Akh Nic tu percaya sama Bu Nicole dan menganggap mereka baik-baik aja. 

Walopun ternyata (dan lagi-lagi ternyata) Akh Nic ngeliat cetakan gambar dari CCTV deket kolam renang rumah mereka kalo Bu Nicole ada affair sama Petugas pe-el-en (ato entah apalah sebutannya disana) yang mana itu petugas pe-el-en gadungan.


Pelajaran Ketiga : CERDAS memilih Pasangan. Islam menitikberatkan soal pemilihan pasangan seperti pesanan Nabi SAW bersabda dalam sebuah hadis daripada Abu Hurairah daripada Nabi SAW, Baginda bersabda: Perempuan itu dinikahi kerana empat perkara, kerana hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan kerana agamanya, lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia.” Sebetulnya ada hadits lain tentang milih pasangan, cuma lupa haditsnya.. (__ __!!)


Pelajaran Keempat : SETIA. Gausa ‘main api’.

Bu Nicole yang kesepian, melampiaskan dengan main ‘affair’ sama tukang-listrik-gadungan yang dateng ke rumahnya, yang mana tukang-listrik-gadungan itu udah berkhianat ke kakaknya dengan sengaja ngerampok uang kakaknya (yang kakaknya dapet pinjeman dari seorang yang kaya banget). Uangnya sebesar 180.000 USD. Mau ngga mau ya harus bayar, kalo engga, kakaknya sama pacar kakaknya di bunuh.

Karena tukang listrik itu udah tau apa aja keseharian dari Bu Nicole dan dapet ide untuk mata-matain Suaminya yang kerjanya (keliatan seperti) dealer berlian, maka si tukang-listrik-gadungan itu ngusulin buat ngerampok rumah Bu Nicole.

Kalo seandainya Bu Nicole ngga main affair sama tukang-gadung-listrik itu, kayanya keluarganya bakal baik-baik aja dan ngga dirampok. Tapi kalo Bu Nicole ngga selingkuh, ngga akan ada filmnya, ngga akan dapet pesen moral tentang pernikahan. Hmm.. Dilemma.. *lebaiyy*

Pelajaran Kelima : PERHATIAN ke Pasangan.

Inti dari film ini keliatannya tu kayak, “coba kalo Bu Nicole baik-baik aja, ngga selingkuh sama petugas pe-el-en gadungan itu, pasti smua baik-baik aja..” 

Tapi faktanya, Bu Nicole had an affair cause a reason rite..? Ngga ujug-ujug juga dia selingkuh. 

Tanpa bermaksud membela, kesian juga Bu Nicole kesepian di rumah yang seluas-segede-alaium-gambreng, ngga ada tetangga yang bisa diajak ngobrol-ngobrol juga, ngga ada kerjaan selain ngurus rumah, Suami yang jarang pulang karena sibuk kerja (walopun tujuannya baik), dan anak perempuan satu-satunya yang lebih suka have fun sama temen-temennya dibanding ngobrol bareng Ibunya. Perfecto

Tanda cinta ngga slalu uang, ada hal lain yang ngga bisa diukur dengan nominal uang. Walopun katanya Anis Matta di bukunya Serial Cinta di halaman 144, “Lupakan! Lupakan semua cinta jiwa yang tidak akan sampai di pelaminan.”

Bukan. Bukan itu.

“Para pencinta sejati tidak suka berjanji. 
Tapi begitu mereka memutuskan mencintai seseorang, mereka segera membuat rencana memberi. 
Setelah itu mereka bekerja dalam diam dan sunyi untuk mewujudkan rencana-rencana mereka. 
Setiap satu rencana memberi terealisasi, setiap itu satu bibit cinta muncul bersemi dalam hati orang yang dicintai. 
Janji menerbitkan harapan. 
Tapi pemberian melahirkan kepercayaan.

Trespass ini kisah tentang pernikahan dua orang yang saling mencintai. Gimana kalo pernikahan itu belum didasari cinta…?

Ada dua jawabannya :

1. Mengutip SMS temen SMA saya (Akhyar) tanggal 28 November 2008, "A love does not make a marriage,,it is a marriage creates love..d0nt it?"

2. Nonton film Rab Ne Bana Di Jodi, yang main Shah Rukh Khan, and you will understand.. ^^v

Mempertanyakan Guna Pendidikan

Postingan ini pertama kali ditulis 2 Januari 2010, direvisi 4 Mei 2010, dan baru di posting 10 Maret 2014 jam 14.10 WIB saat ini..
Enjoy! J



Mempertanyakan Guna Pendidikan
Sejak diumumkannya bahwa tingkat kelulusan SMA tahun ini menurun dibanding tahun 2009 lalu, perihal pendidikan di Indonesia kembali hangat diperbincangkan. Katanya, ada yang harus dibenahi, ada yang harus diluruskan. Bagi yang akan dan sedang berstatus mahasiswa, kalimat yang sering mampir adalah, "Cepat lulus ya nak.. Dapat IPK tinggi, supaya nanti gampang cari kerja dan gajinya besar.. Jangan aneh-aneh di kampus..." Kalimat tersebut adalah lanjutan dari sejak SD, SMP, dan SMA yang mana tuntutannya adalah mendapat SMP dan SMA yang bergengsi supaya mudah masuk PTN untuk kemudian mudah mencari pekerjaan dan mendapat gaji besar.

Itukah guna pendidikan?

Realita yang terjadi di masyarakat sekarang terkait pendidikan tinggi dan pengangguran adalah tingginya pengangguran dari kalangan Sarjana. Agus Wibowo dalam tulisannya "Menyiasati Pengangguran Bergelar" menuliskan bahwa guna menekan kenaikan jumlah pengangguran terdidik, tidak ada pilihan bagi perguruan tinggi (PT) dan dunia pendidikan untuk mengubah paradigma. Jika semula lebih menekankan pada aspek kecerdasan konseptual (kognitif), kini harus dibarengi penanaman jiwa kewirausahaan (entrepreneurship). Pasalnya, berbagai penelitian menunjukkan keberhasilan mahasiswa bukan ditentukan kepandaian yang dipunyai, tetapi oleh faktor lainnya yang sangat penting. Singkatnya, tingkat kecerdasan hanya menyumbang sekitar 20%-30%, sementara jiwa kewirausahaan yang didukung kecerdasan sosial justru menyumbang 80% keberhasilan anak di kemudian hari.

Pendidikan saat ini dijadikan seperti investasi untuk jaminan finansial di masa depan. Mengenyam pendidikan menjadi terasa sama saja dengan menanamkan modal uang di suatu tempat dengan harapan mendapatkan keuntungan lebih banyak dari saat sebelum diinvestasikan, hanya berbeda lembaga saja. Dengan modal sekecil-kecilnya, mendapat untung tertentu (kalau bisa sebesar-besarnya). Mungkin itulah juga yang menyebabkan banyak orang mengejar beasiswa, walaupun kondisi keuangannya masih mampu untuk membayar pendidikan. Tetapi dengan mendapat beasiswa, maka uangnya bisa diinvestasikan dalam bentuk lain (atau memang sengaja hanya untuk mendapat prestis “penerima beasiswa”, uangnya tetap diberikan kepada pelajar yang membutuhkan). Pendidikan sekarang malah menghasilkan patokan kesuksesan dinilai dengan setinggi apa jabatan seseorang, seberapa banyak jumlah harta kekayaannya.

Konsep pendidikan di Indonesia sekarang pun terbukti melemahkan status manusia sebagai makhluk sosial. Pendidikan membuat seseorang tidak lagi peka dan peduli terhadap permasalahan yang dihadapi orang lain diluar dirinya. Pendidikan saat ini hanya menyibukkan manusia-manusianya untuk memikirkan bagaimana dirinya bisa aman dan tetap berada dalam zona nyaman.

Selain menjadikan egois, pendidikan di Indonesia juga hanya sekedar mencetak manusia-manusia untuk siap (diper)kerja(kan). Terbukti dengan selalu meluapnya pengunjung di acara-acara penjaringan pelamar pekerjaan, seperti career days, job fair, dan sejenisnya.

Pendidikan seharusnya menjadikan seseorang sebagai problem solver atas segala permasalahan bangsa dan negara, bukan problem speaker apalagi problem maker. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain di sekitarnya, dan hanya manusia-manusia yang bermanfaat itulah yang akan tercata dalam sejarah. Indonesia memiliki Soekarno, Bung Hatta, M. Natsir, Munir, Soe Hok Gie, Wiji Thukul, Marsinah, RA Kartini, dan nama lainnya yang dikenang karena kontribusinya bagi orang-orang disekitarnya. Tak hanya bermanfaat untuk diri dan keluarganya, tetapi juga bangsa dan negara. Lalu, pendidikan macam apakah yang mampu menghasilkan orang-orang seperti mereka?


Kita semua perlu merenungi, untuk apa sebenarnya guna pendidikan? Memperkaya manusia itu? Demi menaikkan gengsi? Atau memanusiakan manusia, mengembalikan fungsi manusia kepada hakikatnya? Setelah kita menemukan apa guna pendidikan, barulah kita dapat mencari sistem yang tepat untuk membawa kita pada tujuan pendidikan tersebut. Bukan dengan sering mengganti sistem yang satu dengan yang lain, tanpa memahami apa yang ingin dicapai dari sistem pendidikan tersebut.