Friday, April 25, 2014

Why Divergent ?

Assalamu’alaikum! 

Apa kabar ni blog? Lama ngga ditengok. (“,)v
*ambil kemoceng*

BTW postingan gw kali ini khusus untuk Unik sama Irwan yang kemarin sore nanya knapa gw seneng banget sama Divergent sampe nonton 3X, skalian review novel Divergent dan sedikit spoiler dari novel Allegiant.

Picture taken from here

Karena PKS (Justice and Welfare Party) dapet nomer 3 di Pemilu taun 2014 ini dan gw memutuskan untuk 3X berturut-turut nonton Divergent di bioskop SENDIRIAN, maka gw putuskan untuk memberikan 3 alasan kenapa gw suka Divergent.

*FYI film Divergent ini diputer di bioskop menjelang Pemilu Legislatif, dan ini jadi salah satu penyemangat buat gw*


Picture taken from here
BTW peliiisshhh Unik, Irwan, dan smua yang (mo) baca postingan gw kali ini, gw kasih tau dari awal : postingan ini p-a-n-j-a-n-g.

Pastikan anda membawa minuman dan cemilan untuk menemani anda slama membaca postinganku kali ini.. \\(^0^)//

Sebetulnya kalo normal mah bisa aje dijawab di grup, cuman karena smangat ngemeng gw bener-bener hyper, jadi mending dimari aje.

Oya, postingan ini sangat subyektif dari kacamata gw (walopun gw ngga make kacamata). Mungkin ada orang yang ngrasa biasa aja ato ngga sepakat.

Eniwei, smoga bermanfaat. Here we go!

*oiya, bakal ada spoiler, feel free to close this page*

Pertama, alesan subyektif banget..THEO JAMES (pemeran Four) kerennya. Ngga. Ketulungan. 
At least, buat gw. (>,<)v
Trus ada 1 quote keren dari Four, "a brave man acknowledges the strength of others."

Picture taken from here
Kedua, novelnya baguuss, banyak pelajaran yang bisa diambil apalagi buat anak Hukum ato Pejabat ato mereka-yang-diproyeksiin-jadi-Pejabat *ciee*.

Ngajarin untuk ngontrol rasa takut (yang faktanya : ngga smua orang bisa ngadepin itu dengan tepat).

Ngajarin untuk bertanggung-jawab sama pilihan yang udah kita ambil, apapun konsekwensinya. Bahkan ketika kita hampir mati untuk mempertanggungjawabkan konsekwensi dari pilihan yang udah kita ambil.

Contoh dramatis favorit gw di filmnya (karena di novelnya ngga ada) : pas Tris usaha lari cepet untuk naik kereta pas temen-temennya mau simulasi perang, padahal dia masih memar babak-belur dihajar Peter pas tanding berantem.

Ngajarin juga yang namanya setiap tujuan jangka panjang itu butuh persiapan matang (makanya di Dauntless latiannya keras dan fisik banget, karena mereka militernya untuk 5 faksi itu, gada ceritanya militer ngga 'dihajar' karena itu untuk nglatih fisik dan mental pas harus ngalahin musuh).

Ada 1 hal yang mirip kayak Islam di Divergent, tentang kepemimpinan yang gabole dikasih ke mereka yang emang pengen, niat, haus kekuasaan.
"... My father says that those who want power and get it live in terror of losing it. That's why we have to give power to those who do not want it."
Picture taken from here

 Di Divergent, yang jadi Pejabat Pemerintah tu Abnegation, bukan Erudite yang cerdas. Knapa?
Karena Abnegation itu faksi yang slalu mendahulukan orang lain ketimbang dirinya sendiri, makanya mereka yang dijadiin Pemimpin.
"Those who blamed aggression formed Amity." 
"Those who blamed ignorance became the Erudite." 
"Those who blamed duplicity created Candor." 
"Those who blamed selfishness made Abnegation." 
"And those who blamed cowardice were the Dauntless."
Trus, pelajaran kalo yang namanya kejujuran itu ada tempatnya, ada masanya, gabisa slalu diumbar langsung saat itu juga.

"I'm used to just saying whatever is on my mind. Mom used to say that politeness is deception in pretty packaging."  
"... Candor's real problem is with Amity. Those who seek peace above all else, they say, will always deceive to keep the water calm." 
I can’t imagine what good can come of saying such terrible things.”

Jadi, faksi Candor tu faksi yang slalu jujur, terbuka, terus terang. Kalo Amity tu faksi yang slalu damai, ambil posisi netral, makanya profesi mereka jadi Petani, ngurus kebun, makanan, bajunya cerah-cerah.


Picture taken from here

Beda sama Dauntless. Profesi Dauntless tu, "provide us with protection from threats both within and without."

Sesuai sama Manifesto Dauntless : "We believe in freedom from fear, in ordinary acts of bravery, in defending those who cannot defend themselves."

Dan itu mungkin yang ngebuat mereka selalu berhadapan sama ujian yang bener-bener nguji nyali, nguji sampe sejauh mana batas keberanian (dan nekat?) mereka.

I have realized that part of being Dauntless is being willing to make things more difficult for yourself in order to be self-sufficient. There’s nothing especially brave about wandering dark streets with no flashlight, but we are not supposed to need help, even from light. We are supposed to be capable of anything.”

Tapi, walopun mereka kuat, ngga brarti itu mereka harus kasar, selalu nge-bully. Idealnya sie gitu.
You’re not a coward just because you don’t want to hurt people.”

Picture taken here
 Pelajaran lain, di terutama Dauntless, adalah bahwa fisik yang besar, kekar, gagah belum tentu selalu menang di setiap pertandingan. Yang terpenting, gimana nguasain emosi dan melatih otak untuk berfikir cepat dan cerdas dalam waktu bersamaan.

All the people on Eric’s team are broad and strong. Just yesterday, Four told me I was fast. We will all be faster than Eric’s team, which will probably be good for capture the flag—I haven’t played before, but I know it’s a game of speed rather than brute force. I cover a smile with my hand. Eric is more ruthless than Four, but Four is smarter.”

Milih Dauntless juga bukan sembarangan, karena mereka bakal megang profesi sebagai penjaga keamanan dan itu ngga main-main. Bukan cuma fisik, tapi juga kemampuan otak.

“I suggest you take this time to formulate a strategy. We may not be Erudite, but mental preparedness is one aspect of your Dauntless training. Arguably, it is the most important aspect.” [Four]

He is right about that. What good is a prepared body if you have a scattered mind? [Tris]

Dan menurut gw, apa bedanya manusia gitu --yang kokoh fisiknya tapi otak sama hati ngga dipake—sama robot?

Salah satu adegan favorit gw adalah manjat pinang bianglala. Di filmnya si Tris nanya ke Four, “lo takut ketinggian ye?” Trus Four jawab, “everyone is afraid of something.”

Kagak. Tris kaga ngemeng pake bahasa Depok, di filmnye Tris lebih ke pernyataan daripada pertanyaan. “You’re afraid of heights.”

Kalo di novelnya, “You’re afraid of heights,” I say. “How do you survive in the Dauntless compound?”
“I ignore my fear,” he says. “When I make decisions, I pretend it doesn’t exist.”

Picture taken from here
 Gw masih ragu sama statement Four tadi sepenuhnya bener ato engga. Dan ada satu komen lagi yang gw belum tau sampe sekarang apa gw sepakat ato engga : “Because life’s not fair, Albert. And the world is conspiring against you,” says Will. “Hey, can I see the flag again?” Ini abis simulasi perang tadi.

Ada lagi yang sepertinya gw kurang sepakat, masih tentang simulasi perang, yaitu fakta bahwa : “Winning capture the flag is a matter of pride, and pride is important to the Dauntless. More important than reason or sense.”

Aduh, sebetulnya masih ada beberapa quote di novel Divergent yang bagus, dan ini gw baru sampe halaman 188, yang pas Tris dilempar-lempar piso dapur sama Four, sebelumnya Tris bilang ke Eric, Any idiot can stand in front of a target,” I say. “It doesn’t prove anything except that you’re bullying us. Which, as I recall, is a sign of cowardice.”

Dan kalo gw lanjutin, gw rasa postingan gw bakal jadi “Kumpulan Quote Keren dari Novel Divergent”, jadi gw pilih stop dan mari kita lanjut ke alasan terakhir gw suka Divergent.

Ketiga, ini termasuk novel distopia. Ada tulisan bagus tentang novel distopia judulnya "WhyDystopian Novels Are Important".

Salah satu yang gw suka dari novel distopia itu biasanya mempertanyakan hal-hal basic (tapi fondasi banget) dari kemanusiaan, kehidupan. Kayak di DIvergent ini :

"... Will I let her fall to her death, or will I resign myself to being factionless? What's worse: to be idle while someone dies, or to be exiled and empty-handed? 
... 
Would I even be strong enough to hold on to her? Would it be worth my effort to try to help her if I know I'm too weak to do any good?

I know what those questions are: excuses. Human reason can excuse any evil; that is why it's so important that we don't rely on it. My father's words."

Dan pertanyaan-pertanyaan lain kayak :
What is "freedom"?
What is "love"?
What is "human"?
What is "equity"?
Is "diversity" enough?

Sampe mana batas "adil" itu?
Knapa ada manusia yg serakah, maruk?
Apa smua orang itu sebetulnya pada dasarnya baik? Ato jangan-jangan emang Tuhan nyiptain manusia-jahat?

Picture taken from here
*FYI entah knapa gambar diatas tu nampol banget, nyemangatin (gw pribadi) buat mau belajar, banyak baca*

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin buat sebagian orang, ngga penting. Tapi pertanyaan-pertanyaan itu yg bikin gw jadi belajar lagi, & nyari tau jawabannya dari Islam karena gw yakin Islam punya jawaban logis untuk setiap pertanyaan manusia. Dan akhirnya bikin gw bersyukur gw milih Islam. Ngga cuma "masuk Islam", karena Ortu gw Islam. No.

Percaya ngga percaya, abis gw slese baca "Allegiant" di halaman terakhir, gw mempertanyakan kenapa Allah nyiptain manusia?

Allah ngga butuh ciptaan-Nya.
Allah bisa aja ngga nyiptain apapun.
Sendiri.
Allah ngga butuh apapun.
Allah ngga butuh dipuja-puji semua ciptaan-Nya.

Trus apa alasan penciptaan manusia?



Picture taken from here

Sampe akhirnya Iqbal jelasin ke gw (please koreksi Bal kalo ada penafsiran gw yang salah) dan gw paham, "iya yah.. Yang butuh diciptain tu ciptaan-Nya. Yang butuh Allah tu ciptaan-Nya." Emang sie, ada cerita sahabat Rasul yang sedih karena udah diciptain jadi manusia dan itu artinya harus nanggung beban pertanggungjawaban di akhirat nanti.

Tapi menurut gw, kalo gw gajadi manusia, gw ngga akan tau dan belum tentu bisa ngrasain bener-bener sifat-sifat Allah (kayak Allah Maha Pengasih, Allah Maha Penyayang, Allah Maha Pengampun, et cetera). Dan gw jadi dapet jawaban knapa manusia yg dijadiin Khilafah, bukan ciptaan yg lain.

Karena manusia dikasih akal. Kita bebas milih.
Manusia dibebasin milih, dengan segala konsekwensinya.

Picture taken from here
*yg jawaban ini membawa gw ke pertanyaan, "apa Iblis juga dikasih akal? Sampe mereka milih nolak sujud ke Adam itu hasil pemikiran akal mereka ato emang Iblis itu cuma diisi nafsu aja?" Pertanyaan itu sebetulnya muncul pas SMA gw baca buku "The Madness of God", diluar beneran tu buku menggugat pemikiran jamak yang udah mapan ato cuma fiksi, buku itu nyeritain tentang penolakan Iblis sujud ke Adam. Iblis jelasin kalo Tuhan cuma nguji Malaikat dan smua ciptaan-Nya yang lain, apakah mereka "ingat" sama perintah pertama-Nya untuk slalu sujud ke Tuhan dan bukan kepada yang lain?
Tapi alhamdulillah pas kuliah gw nemu jawabannya di Al Qur'an, yang ngjelasin kalo perintah sujud ke Adam itu bukan maksudnya menyembah Adam, tapi bentuk kepatuhan ke Allah atas perintah-Nya dan tunduk atas salah 1 takdir bahwa manusia lah ciptaan-Nya yang sempurna. Bukan yang lain.
Tapi gw tetep masih belum dapet jawaban, apa Iblis dikasih akal ato engga.
*eh, gw udah mleber kmana-mana yah? maap. kliwat semangat.*

Slama ini gw denger orang cuma bilang, "shalat tu buat kamu! Ziswaf tu buat kamu! Haji tu buat kamu!"
Jarang ada yang jelasin knapa kita butuh itu semua.

*ato karena gw yg ngga nanya?*

Knapa kita butuh ibadah?
Alesan surga dan neraka?
Takut?
Apa sih definisi "butuh"?

Dan itu jadi nunjukkin kalo yang butuh tetep ada di agama ini tu gw. Yang butuh ada di jama'ah ini tu gw. Yang butuh ada di Pejuang ini tu gw.

Gw ngrasa butuh, jadi gw usaha supaya gw slalu disini. Di Islam.

Di ujung, karena gw butuh, jadi gw yang musti ngasi sesuatu yang gw mampu kasih.

Gw belum jadi apa-apa, belum bisa ngasi trilyunan, gw skrg cuman masih belajar. Jadi gw harus smangat belajar. Kalo gw paham 'baca' hukum, gw paham gimana nyari cara untuk ikut ngbela Islam, gw jadi bisa bantu buat Islam.

Gada gw, Islam tetep menang. Jadi, jelas, gw yang butuh.

Statement Jeanine Matthews juga bagus (dan dibalikin Tris lagi kalimat itu ke Jeanine pas di akhir-akhir film Divergent), nyemangatin buat tetep berjuang, dimanapun posisi lo.

Don’t get me wrong. There’s a certain beauty in your ressistance.

Picture taken from here

 Logikanya : orang yang tau kalo faktanya tu posisi dia keliru (tapi tetep dipertahanin) aja tetep semangat dan megang prinsipnya (yang keliru) itu, masa’ kita yang bisa buktiin bener malah lemah-letih-loyo-lemes? *anemia Mba?*

Emang sie, ngliat orang yang megang teguh prinsipnya tu keren banget. Tapi lebih enak kalo prinsip yang dipegang tu prinsip yang benar.

Oiya, statement terakhir di Allegiant yang gw maksud tu yang ini :

Since I was young, I have always known this: Life damages us, every one. We can't escape that damage.
But now, I am also learning this: we can be mended. We mend each other.

Sebelum nge-spoil *halah*, ada 2 gambar lucu tentang Divergent.. Enjoy it.. XP


Picture taken from here


Picture taken from here


SPOILER :
Tris mati.
Four idup.

No comments:

Post a Comment