Tuesday, June 18, 2013

See PKS Die (?)


"You may not think about politic, but politic think about you.” 

(Suu Kyi - The Lady, 2011) 


PKS kembali menjadi berita. Pada 15 Juni 2013 malam hari, linimasa Twitter cukup ramai dengan retweet foto dan berita pengembalian mobil berplat B 544 RFS yang disita KPK di DPP PKS pada 15 Mei 2013 terkait dugaan korupsi TPPU oleh LHI. Timbul pertanyaan mengenai pengembalian benda yang dikenakan penyitaan oleh penyidik, apakah hal tersebut dibenarkan? 

Penyitaan sendiri adalah tindakan penyidik untuk mengambil alih benda bergerak/ tidak bergerak, berwujud/ tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam penyidikan, penuntutann dan peradilan sebagaimana diatur dalam Pasal 38-46 KUHAP.

Menurut Pasal 38 ayat (1) UU 30/2002, terkait penyitaan oleh KPK mengikuti aturan dalam KUHAP. Benda yang dikenakan penyitaan dikembalikan kepada yang paling berhak, jika:
  1. Tidak diperlukan lagi untuk kepentingan penyidikan dan penuntutan, atau  
  2. Perkara tersebut tidak jadi dituntut karena tidak cukup bukti/ bukan tindak pidana, atau 
  3. Perkara tersebut dikesampingkan/ dideponer untuk kepentingan umum. Atau 
  4. Perkara tersebut ditutup demi hukum (karena alasan nebis in idem/  tersangka meninggal dunia/ daluwarsa), atau 
  5. Perkara tersebut sudah diputus Hakim, kecuali menurut putusan Hakim benda itu dirampas untuk negara, untuk dimusnahkan atau untuk dirusakkan sampai tidak dapat dipergunakan lagi atau jika benda tersebut masih diperlukan sebagai barang bukti dalam perkara lain.
Berdasar aturan diatas, tindakan KPK mengembalikan mobil berplat nomor B 544 RFS kepada DPP PKS adalah dibolehkan menurut peraturan perundang-undangan. Selanjutnya diketahui bahwa pengembalian mobil tersebut dikarenakan mobil tersebut tidak terkait dengan dugaan TPPU oleh LHI, maka mobil tersebut dikembalikan KPK kepada DPP PKS.

Sekedar menyegarkan ingatan kita kembali, ada dua mobil di DPP PKS yang disita KPK dengan huruf seri RFS. B 544 RFS dan B 948 RFS. Diketahui bahwa RFS sendiri adalah huruf seri plat khusus untuk mobil dinas pejabat kementerian tertentu. Sampai saat ini, belum ada yang memberitakan KPK mengembalikan mobil dengan plat B 948 RFS.

Terkait dengan pengembalian mobil B 544 RFS ini, tidak lama setelahnya Fahri Hamzah menulis dalam akun Twitternya, “Waktu ngambil blagunya ampun…giliran salah gak minta maaf…katanya BERANI JUJUR HEBAT….”

Kekecewaan mendalam kepada KPK juga sudah terlihat dari ramainya komentar akun Twitter dan Facebook beberapa bulan belakang ini yang menyayangkan mengapa KPK begitu gesit mengurus kasus dugaan TPPU oleh LHI, tetapi sangat berbeda dengan penanganan kasus dugaan korupsi BLBI, dana talangan Bank Century dan proyek Hambalang. Aset LHI dirampas, tapi tidak terhadap Angelina Sondakh.

Kalau melihat dari sisi hukumnya, aturannya jelas dan siap dilaksanakan. Jadi, tinggal melihat bagaimana tekad penegak hukumnya saja untuk mau menegakkan hukum atau membiarkannya mati.

Tanpa bermaksud sengaja mencari noda, KPK sendiri bukan tidak pernah keliru. Pertama, tindakan penyitaan dan penggeledahan oleh KPK pada Juni 2011 terhadap mantan hakim Syarifuddin Umar diputus melawan hukum oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sehingga KPK harus membayar denda sejumlah Rp 100 juta kepada mantan hakim tersebut, walaupun ia dinyatakan terbukti melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf b UU 20/2001 karena telah menerima uang suap Rp 250 juta dari kurator PT Skycamping Indonesia, Puguh Wirawan.

Selain itu, fakta menunjukkan bahwa tidak selamanya mereka yang menjadi tersangka/terdakwa kasus korupsi adalah benar melakukan tindak pidana korupsi. Pertama, kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat oleh Merpati yang menyeret nama Hotasi Nababan dan akhirnya kasus tersebut malah menjadi putusan bebas pertama kalinya oleh hakim pengadilan tipikor di Indonesia. Dalam bukunya berjudul “Jangan Pidanakan Perdata: Mengggugat Perkara Sewa Pesawat Merpati”, Hotasi Nababan menuliskan,

“…bahwa semangat perang melawan korupsi dapat dibelokkan untuk menindas orang yang terkena perkara di wilayah publik,… Ancaman hukuman korupsi menjadi komoditi yang menguntungkan banyak pihak, kecuali pesakitan. Opini publik telah menjadi pengadilan jalanan. Sekali seorang menjadi ‘tersangka’, maka dia akan beruntun menjadi ‘terdakwa’ dan ‘terhukum’. Nama baik akan hilang dan keluarga terbawa malu. Jika tidak bersalah pun, negara tidak akan melakukan rehabilitasi.

Di awal Orde Baru, cap “PKI” sangat ampuh menghilangkan hidup seseorang dan keluarganya. Tidak ada pembelaan, tidak ada banding. Kehidupan dirampas. Saat ini cap “koruptor” sangat manjur untuk menghilangkan kehormatan dan karir seseorang. Tidak ada lembaga yang akan menampung keluhannya. Komnas HAM pun tidak punya piagam untuk membela orang yang terkena salah tuduh korupsi. Jeratan kasus korupsi benar-benar sebuah musibah.”

Kedua, kasus dugaan korupsi L/C Fiktif Bank Century oleh Misbakhun, yang dalam pembukaan pledoinya Misbakhun menyatakan bahwa ia dipenjara karena menjadi inisiator Hak Angket DPR tentang Skandal Bank Century dan Anggota Tim 9. Dalam bukunya berjudul “Pledoi Kebebasan: Menguak Fakta, Rekayasa Hukum dan Kriminalisasi di Balik Opini “L/C Fiktif”, Misbakhun menulis,

“…bahwa hukum seharusnya melahirkan keadilan, bukan semata hukuman. Hukuman itu pun adalah realitas dari hakikat keadilan. Karena itu, adagium klasik yang menyatakan bahwa lebih baik membebaskan seribu orang yang bersalah daripada menghukum orang yang tidak bersalah, adalah prinsip keadilan yang harus dijunjung tinggi.

Hukum ada untuk saya, untuk Anda, untuk mereka, untuk kita semua. Karena itu, hukum yang berkeadilan adalah hukum yang melindungi. Tatkala hukum mengancam individu, pada saat itulah hukum tidak berjalan sebagaimana tujuan dan fungsi idealnya. Keputusan bebas yang saya terima melalui upaya PK juga sekaligus membuktikan bahwa hukum tidak sepenuhnya berlaku sebagai pelindung. Hukum yang berada dalam genggaman kekuasaan hanya mampu mengkriminalisasi, menggerus hak-hak subyek hukum dan merampas kebebasan pencari keadilan.”

Tetapi kekecewaan sejumlah pihak terhadap KPK tidak dapat dijadikan alasan pembenar untuk membubarkan KPK. Ide tersebut dirasa belum menjadi solusi yang tepat untuk Indonesia saat ini. Jika KPK tidak ada, lalu siapa penyidik dan penuntut umum yang akan mengurus perkara korupsi yang terjadi?

Kembali pada kasus dugaan TPPU oleh LHI. Pengajar di FISIP Universitas Bengkulu, Lamhir Syam Sinaga, menyatakan jika PKS dalam keadaan aman dan tidak bermasalah maka kemungkinan besar PKS akan menjadi partai nomor satu di Indonesia pada Pemilihan Umum tahun 2014 mendatang. Kepentingan asing juga ikut mempengaruhi, dikarenakan ketakutan terhadap kemenangan PKS yang akan membentuk poros baru (yaitu Islam) bersama dengan Erdogan di Turki dan Mursi di Mesir dimana ketiganya memiliki ideologi yang sama. Maka wajar, sebelum PKS membesar dan mulai membentuk kekuatan baru, harus dihancurkan perlahan.

Selain LHI, beberapa waktu lalu PKS kembali ‘digoreng’ media dengan isu kenaikan harga BBM, dimana jumlah BBM bersubsidi oleh negara akan dikurangi dan bahkan dihilangkan. Kwik Kian Gie dan Anggito Abimanyu sendiri pernah menyatakan bahwa selama ini tidak pernah ada subsidi BBM. Suara kritis lainnya diteriakkan oleh Muhammadiyah, Petromine Watch Indonesia, Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia dan Solidaritas Pensiunan Karyawan Pertamina.

Direktur Lembaga Survey Indonesia menyampaikan bahwa terdapat potensi keuntungan elektoral dari program BLSM sebagai kompensasi naiknya harga BBM. Hal tersebut melihat pengalaman program BLT di tahun 2009 lalu. Di DPR, baru PKS, PDIP, Gerindra dan Hanura yang menolak kenaikan harga BBM.

Sampai pertengahan tahun 2013 ini, PKS sudah dua kali mendapat pemberitaan negatif. Pertama, tentang kasus dugaan TPPU oleh LHI. Kedua, sebagai partai yang pertama kali terang-terangan menolak kenaikan harga BBM dan hal tersebut dianggap pencitraan.

Sampai saat ini, PKS termasuk partai dengan tingkat pemberitaan yang cukup tinggi di beragam media, khususnya media online. Di sisi lain, 9 April 2014 semakin mendekat. Menjadi pertanyaan besar, apakah ramainya pemberitaan negatif di media akan mempengaruhi suara PKS?

In 2014, see PKS die (?).


You can fool all the people some of the time, and some of the people all the time, 
but you cannot fool all the people all the time.
(Abraham Lincoln)







Dimuat di:




Tuesday, May 21, 2013

4th Journey – Cibeureum Waterfall

*ini curhatan yang harusnya di posting dari 12 Mei 2013*


Cibeureum Waterfall.
We came there last Sunday: Aulia, Candra, Sofiet, Rindi, and me.
Our meeting point was in Bogor Station. I reached the commuter line from Depok Lama Station. I ran after I bought the ticket, and thanks God I got last gerbong which is gerbong only for woman.
When I sat and took a deep breath, someone called my name, “Yurista!” I menoleh.

“RINDI! Laahh kamu disini juga..?”
“Iya, aku barusan bales bbm kamu..”
So, we told about many things, and she gave me a bag. Sweet chocolate bag.. <3 Love it!

Sampe Stasiun Bogor, gw sama Rindi ke minimarket dulu buat beli beberapa hal. Sambil ngabarin ke yang cowo kalo kita udah sampe di Stasiun Bogor. Mereka udah selesai sarapan pagi dan nunggu di lampu jalan deket jalan raya.

Kita naik angkot warna kuning menuju Terminal Baranangsiang, dari Terminal Baranangsiang kita jalan ke sebrang jalan yang lain untuk nyari semacam angkutan yang menuju Cianjur. Kita ngga sampe Cianjurnya, kita berhenti di pinggir jalan yang menuju Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Angkutan menuju Cianjur itu semacam travel gitu, dan kita musti nunggu sampe kursinya full. Ada kali sekitar 1,5 jam nunggu sampe full.

Setelah akhirnya Bapaknya jalanin mobilnya, saya mulai bisa bernapas lega, soalnya saya pengen tidur selama perjalanannya, kalo mobilnya diem kan jadi pengen ngobrol sama temen-temen mulu.. :D

Di tengah jalan, Bapaknya ngisi bensin dan kita bayar per orang 20ribu untuk ongkos perjalanannya. Abis itu saya ngga bisa tidur.

Bapaknya ambil jalan alternatif menuju Cisarua. Baru disitu saya bisa tidur. Rada ngga enak aja kalo lewat belokan tanjakan menuju Taman Safari tapi malah lurus aja tanpa belok. Oya, katanya Adamers (Aulia, Candra, Sofiet) kalo Bapaknya itu ngebut pake BANGET slama perjalanan. Bahkan Bapaknya berhasil nyalip travel yang udah duluan jalan sebelum travel kita.. Ciamik! \\(^0^)//

Eniwei, akhirnya kita sampe di pinggir jalan sebrang tanjakan menuju Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Kita naik angkot warna kuning juga menuju TNGGP itu.

Bahagianya, karena kita seangkot sama adek bayi cewe yang putiiiihhhh bangeetttt dan IMUUUTTT…. (O^_^O) tapi sayang ngga di foto..

Sampe TNGGP, kita sepakat menuju Cibeuruem Waterfall. Kita jalan kaki dan ambil jalur yang alam banget, berbatu, dan menanjak. Oya, sebelum nanjak, kita sepakat cari makan dulu. Takut juga kalo sampe tengah jalan ntar maagku kambuh kayak pas di TMII, kasian temen-temen yang lain.. Kita milih makan di tempat semacam warteg gitu tapi pilihan makanannya makanan rumah. Saya makan nasi + telur dadar + kuah sayur sop + teh manis hangat..


Akhirnya kita nanjak juga.. Buat saya, perjuangan deh menanjaknya. Pas nanjak awal-awal, saya minta berhenti karena butuh istirahat sebentar.. Sejak awal pendakian menuju air terjunnya itu, saya kepikiran terus gimana dulu prajurit-prajurit Indonesia melakukan perang darat untuk ngusir penjajah. Plus, ingatan saya tentang salah satu acara yang ngupas tentang Special Forces Unit di Thailand. Gimana kerasnya latian fisik mereka, dengan istirahat yang sedikit.

Kata Pak Eddy, Indonesia termasuk negara dengan strategi perang darat terbaik di dunia. Buktinya, buku Jenderal AH Nasution tentang strategi perang darat masih dipake di dunia militer internasional sampe sekarang.

Perjalanan awal ditemani hujan. Baju basah karena peluh bercampur hujan. Alhamdulillah 15-20 menit sebelum sampe air terjunnya udah cerah lagi. Sampe air terjunnya pengeeeennnn bangeeettt nyemplung di air terjunnya. Tapi sayang masih rame sama orang-orang dan ngga bawa rok ganti. Jadinya dipuasin foto-foto aja.


Pas perjalanan balik, lebih menyenangkan karena banyakan jalan menurun.. Dan saya baweeeeellll bangeettt sepanjang perjalanan balik.. Entah karena udah mulai terbiasa sama jalanan berbatu, ato karena akhirnya balik juga.. Hehehe… ^^v

Trus, sampe dibawah lagi, kita langsung cari makan, kita cari di tempat lain yang ngga terlalu rame.. Kita barengan mesen mie instant rebus + telur + cabe..

Abis itu kita nyari mushola, dengan diselingi sambil belanja sejumlah oleh-oleh.. Saya Candra, Sofiet beli Alpukat.. Saya, Rindi, Aulia, dan Sofiet beli Kripik Bayam.. Rindi beli 2 Kaktus.. Kata Rindi, “Tanaman yang tepat untuk wanita karier: kaktus!"



Sesaat saya pengen ngakak kenceng. Sayang lagi di tempat umum. Takut dijauhin temen-temen yang lain dan dianggap ngga kenal karena malu saya sikap saya kalo beneran ngakak gede.. -______-a

Trus kita sampe ke mushola yang toiletnya ngga banget dan saya otomatis jadi tempat penitipan barang-barang, sementara yang lain pada sholat..

Baliknya, kita mutusin untuk nyewa angkot dari TNGGP sampe Stasiun Bogor, dan sepakat bayar 150ribu alia 30ribu/orang.

Ada yang nawarin make Avanza tapi 250ribu, yawdah kita iyain aja.. Tapi nunggu sampe 30 menit, ngga dateng-dateng dan ditawarin nunggu 30 menit lagi, kita nolak karena takut kemaleman. Akhirnya kita ngangkot sampe jalan raya.

Pas di jalan raya mo nyegat bus ke Stasiun Bogor, yang nawarin Avanza tadi nawarin 250ribu naik angkot. Kita nolak. Udah nunggu 30 menit + mobilnya beda, masa’ harganya sama. Akhirnya sepakat bayar 210ribu sampe Stasiun Bogor.

Sampe Stasiun Bogor, kita langsung beli tiket dan bareng-bareng naik Commuter Line yang arah ke Tanah Abang.

Saya duduk sebelahan sama Rindi, trus Sofi duduk sendiri di sebrang kanan depan, Aul sama Candra duduk di sebrangnya Sofi..

Di dalem CL, saya langsung make jaket merah saya yang di londri di Jogja dari akhir Maret’13 kemarin dan belum saya pake-pake lagi sampe saat itu.. Saya make jaket bukan karena kedinginan, tapi karena saya mulai ngrasa sangat ngga enak dengan aroma apek dari baju + jilbab.. Rok saya kotor pula karena saya sempet glesoran di bebatuan slama menuju lokasi air terjun..

Saya turun di Stasiun Depok Baru.. Saya cuma pamit ke Rindi sama Sofiet, karena Candra sama Aulia ketiduran.. Kcape’an juga kali yah..

Dari Stasiun Depok Baru, saya naik angkot dan turun di depan Masjid Al Huda.. Dari masjid sampe depan rumah, saya jalan kaki..

Sampe rumah saya cuma sanggup mandi pake air panas, tanpa makan malem lagi.. Abis itu tepar tidur..

Eniwei, besok sore saya mo ke Ungaran bareng mereka lagi + Rizza.. Meeting pointnya yang cowo stay di rumah Rizza, saya dan Rindi di jemput di kosan Rindi.. Rencana rutenya >> dari Jakarta menuju Terminal Ungaran dulu buat nganter Rizza nyegat bus ke Jogja >> trus menuju tempat penginapan saya sama Rindi (skalian bebersih kali yah) >> trus jalan-jalan di sekitaran Ungaran, entah kmana, belum ditentukan, sampe malem kayanya >> trus paginya jam 6an paling, kita menuju tempat aqad Haritsah-Irwan >> abis itu balik Jakarta.. Bi idznillah.. ^^9

Bunga Tercantik




20 Mei 2013 jam 20.34 WIB tadi malam menjadi Hari Kebangkitan Nasional yang cukup menguji daya bangkit saya.
Agak lebaiy sie, tapi ini beneran terjadi.. Saya dinyatakan tidak lulus dalam suatu ujian profesi, dan ini adalah tes pertama yang saya tidak lulus. Lulus UN SD, UN SMP, UN SMP, FH UGM, MH UI tapi sekarang untuk pertama kalinya saya harus mencoba tes serupa di lain waktu..

See
? Bahkan saya menolak menyebutkan langsung kata “gagal”.. Bukan karena gengsi, tapi karena saya yakin gagal itu hanya ada di akhirat ketika kita (NAUDZUBILLAH MIN DZALIK) tidak masuk surgaNya..

Karena belum lulus, artinya saya harus ikut lagi tes serupa nanti insyaaAlloh bulan Oktober’13. Selain belum lulus tes itu, ada juga 2 problem yang lain yang termasuk dalam kategori “permasalahan anak bocah” tapi wajib diselesaikan : pertemanan dan akademis.

Eniwei, semalem menangis mereneng-reneng entah untuk alasan apa, nangisnya itu saya sambi dengan nulis diary. Udah jadi kebiasaan kalo saya sedih, saya suka nulis tentang smua hikmah knapa saat itu saya ditakdirkan sedih.
Alhamdulillah saya dapet 5 hikmah knapa saya harus belum lulus tes itu di periode ini. Alhamdulillahnya lagi, tadi pagi ada teman saya yang mengirimkan pesan semangat untuk saya dan bilang untuk saya prepare dari sekarang.
“Semangat ta. Persiapkan dari sekarang.”
Itu statement simpel ya. Tapi bagi saya ngena banget. Entah karena kalimatnya yang memiliki daya magis menyadarkan saya akan 1 hal, atau karena dia yang bilang. :D
#eh

Yak! Mari kembali ke jalan yang benar.. ^^v
Jadi, dari kalimat itu saya seakan tersadar akan 1 hal yang luput dari pikiran saya semalam. Saya lupa akan 1 hal.

Saya kan berjilbab. Saya sepakat dakwah Islam. Saya diajarkan mengenai tantangan-tantangannya, ujian-ujiannya, celah-celahnya. Dan saya faham kalau di dunia profesi yang saya tuju itu masih sangat-amat-super-duper SEDIKIT jumlah perempuan berjilbabnya. Padahal di sisi lain, dunia profesi yang saya tuju itu membutuhkan suatu ‘special treatment’.

Setelah saya baca kalimat dia itu, mendadak ingatan saya berputar ke belakang pas Februari’13 tentang persiapan saya ikut tes itu. Saat itu memang saya sedang banyak paper yang harus dikerjakan. Mengerjakan paper bukan hal yang mudah bagi saya yang belum membereskan buku-buku saya yang sampai saat ini masih banyak yang tersimpan dalam kardus.
Belajar untuk tesnya pun sedapatnya saja, bukan belajar yang benar-benar sampai ke taraf memahami. Ya wajar kalau saya belum lulus untuk tes saat ini.

Dari kalimat teman saya itu, otak saya seperti digetok pake bantal, “mungkin Alloh ngasih takdir belum lulus sekarang supaya gw mau belajar lebih keras, lebih paham mendalam, karena Alloh mau ngasih gw suatu kasus besar yang kalo mempertaruhkan nama baik gw dan jilbab yang gw pake… Allohu’alam…..”

Faktanya, banyak yang lulus tapi sedikit yang sukses dan menjadi besar. Seperti buih di laut, banyak tapi ya gitu-gitu aja.. Dan Alloh mau saya untuk menjadi Matahari saat siang dan Rembulan saat malam, bukan sekedar Bintang.

Dan karena saya sudah memutuskan untuk berjilbab, tentu konsekuensinya lebih menantang karena jilbab yang saya kenakan (suka-tidak suka) akan menjadi label yang ikut terbawa sesuai dengan sikap saya. #ChallengeAccepted

Saya bukan sedang narsis, tapi ini lagi menguatkan hati dan pikiran untuk tetap positive-thinking ke Alloh.. Saya yakin Alloh sudah mempersiapkan takdir terbaik untuk saya. Hanya saja, memang perlu waktu untuk saya bersabar menunggu kejutan terindah dari Alloh.. Karena yang instan itu pasti ada efek samping negatifnya ya kan ya… J

Oya, terkait sama judul postingan saya, saya mau ngutip kalimat Kaisar China di film kartun Mulan,

“The flower that blooms in diversity is the most rare and beautiful of all. You don’t meet a girl like that every dynasty.“  
(Mulan, 1998)

Sunday, May 12, 2013

Paper dan Cibodas

Depok, 12 Mei 2013
01.53 WIB


Besok pagi (skrg udah pagi sie), rencananya saya dan 4 kawan baik saya akan menuju Cibodas untuk acara refreshing bersama.. Meeting point-nya di Stasiun Bogor, jam 08.15 WIB ontime!
*tapi berdasar pengalaman sebelum-sebelumnya biasanya gw sie yg suka nelat -______-a

Oh ya, ini acaranya Pejuang 07 Cabang Jadebotabek yang keempat.. Acara pertama kita tu ke Cisarua tanggal 9-10 Maret 2013 kemarin.. Untuk cerita lengkapnya, ntar di share di postingan yang lain yaa.. :D

Acara kedua, ke nikahannya DWP-Mba Nisa di Kutowinangun, Kebumen, Jawa Tengah tanggal 28-29 Maret 2013.. Disitu saya ngga ikut rombongan balik ke Jakarta, tapi sama Rindi ikut rombongan Nasrul, dkk ke Jogja..

Acara ketiga, ke Taman Mini Indonesia Indah tanggal 20 April 2013 sama pas baliknya tu kita mampir ke Pejaten Village buat makan malem + ngocok Arisan Buku..

Acara keempat, insyaaAlloh besok pagi kita ke Cibodas.. Tepatnya kemana, saya lupa, Sofi yang tau dan ngerti tempatnya.. InsyaaAlloh yang berangkat besok tu ada Aul, Candra, Sofi, Rindi, dan saya..

Sebetulnya, saya mulai ngagendain ketemuan (minimal) sekali sebulan sama anak-anak Pejuang 07 di Jadebotabek itu pas (kalo ngga salah inget) Januari 2013 sama Rafika.. Soalnya saya kan PJ Pengocokan Arisan Buku, jadi musti ada Saksi di setiap waktu ngocok Arisan Buku itu.. Jadi, skalian temu kenjen sama anak-anak Pejuang 07, skalian pada jadi Saksi kocokan Arisan Buku.. (“,)v

Tapi besok ngga ada agenda pengocokan Arisan Buku.. Besok bener-bener jalan-jalan seharian di Cibodas via angkutan umum.. Lagi-lagi, Sofi yang tau rute dan naik apa aja.. (^_^)

Malem ini harusnya saya udah bisa istirahat dengan nyenyak karena (harusnya) 2 paper saya udah selesai.. Tapi yang terjadi, baru 1 dan itupun belum 100%.. Sekarang saya malah ngeblog, bukannya istirahat supaya besok bisa bangun pagi & siap jalan-jalan ke Cibodas gapake mobil pribadi.

Ulangi.

Mobil.

Pribadi.

Yang biasanya kalo jalan-jalan kmana-mana sama anak-anak slalu pake mobil pribadi (entah itu mobilnya siapa).. Besok pagi kami akan menyusuri Cibodas dengan transportasi publik..

Challenge accepted!!   *pake iket kepala*

Smoga besok kami baik-baik saja.. Aamiiiiin Allohumma aamiiiiin.. J

Oh ya, tentang paper yang numpuk, itu bener-bener bikin ........ gimana yah gambarinnya…….? L

Saya sie pada dasarnya suka sama nulis, apalagi nulis diary, cucurhatan dan smacamnya.. ~^0^~  #eaaa

Tapi kalo nulis ilmiah gini, saya udah kbiasaan slama kuliah S1 tu nulis tu diatas kasur busa agak tipis, didalam kamar kosan yang ngga terlalu luas, di 3 sisi dindingnya ditempelin rak-rak yang penuh sama buku.. Saking penuhnya, bukunya ada yang musti dtumpuk..

Kalo sekarang, karena desain kamar saya beda banget sama kamar kosan, jadi ngga bisa kayak di kosan lagi.. Bisa sie.. Tapi musti di renovasi furniturnya.. Saya musti ngelepas tepat tidur + lemari baju + meja rias yang udah ditanam didalem dinding.. Dan itu pasti butuh waktu buat nglepasnya..

Trus saya mau bikin dinding kamar saya 85%nya itu ditempelin rak-rak buku gitu, yang ditanam didalam dinding kamar saya.. Trus kasur saya ngga perlu pake dipan, cukup dialasin tikar/tatami gitu di lantai.. Trus ntar didepan kamar saya juga ditanam rak buku di dindingnya, jadi ntar smua majalah itu ditaruh di rak buku depan kamar.. jadi smua temen-temen saya ato siapapun tamu yang main ke rumah itu bisa baca-baca majalah sambil nunggu ato ngapain lah..

Sebetulnya, kalo mo manja, bisa aja gausa ngerjain tugas, ngulang taun depan.. Tapi entah knapa, saya kok ngrasa dzholim ya….? L Disaat saya tau ada temen-temen saya yang pengen banget nglanjutin kuliah S2, tapi gabisa karena kbentur sama biaya ato ngurus anak ato apapun, saya dengan mudahnya Alloh kasih untuk nglanjutin S2..

Ngga cuma S2 aja, saya bisa ngambil kursus ato pendidikan apapun yang saya mau.. Jadinya, rada mikir juga kalo mo nyia-nyiain kesempatan yang saya punya.. L

Kalo udah kerja, kerjaan kantor wajib diselesein, karena kalo engga malah dipecat.. Kalo kuliah, trus ngga ngerjain tugas, bisa ngulang taun depan..

Kalo katanya Harry Potter di Harry Potter and The Order of The Phoenix, Facing this stuff in real life is not like school. In school, if you make mistake you just can try again tomorrow. But out there, when you’re second a way for being murdered or watching your friend die before your eyes…… You don’t know what that’s like.

Apa yang saya hadapi di dunia perkuliahan saat ini, tidak ada apa-apanya dibanding apa yang dihadapi teman-teman saya yang sudah bergelut dengan Dunia Nyata.. Terlebih lagi, tidak ada artinya dibanding dengan mereka yang tidak mendapat kesempatan meraih pendidikan yang lebih tinggi.. (T___T)

Itu mungkin ya yang jadi smangat saya nylesein kuliah, berusaha supaya bisa lulus kerja di lawfirm, dapet beasiswa double-degree S2 ke University of Washington di Seattle, dapet beasiswa S3.. Kalo bisa nolong sebanyak-banyaknya orang, insyaaAlloh bisa jadi pemberat timbangan amal ke surgaNya kelak.. Aamiiiiin Allohumma aamiiiin.. J

Bismillahirrohmaanirrohiim………………. 

Wednesday, October 3, 2012

Who's The Perfect Muslimah..?


Kriteria “Perempuan Sempurna” di mata saya adalah sebagai berikut :
1. Aktif di kegiatan Tarbiyah;
2. Istri;
3. Ibu Rumah Tangga;
4. Menjalankan bisnis milik sendiri;
5. Berkarier sesuai dengan latar belakang akademisnya;
6. Menjadi Pejabat di suatu Instansi Pemerintahan.

Jadi, Perempuan ini urusan rumah tangganya beres, Suami keurus dengan baik, smua Anak aktif dan berprestasi, cemerlang urusan kariernya di masyarakat, dakwahnya sukses (apapun pilihan lapangan dakwahnya), finansialnya lebih dari yang dibutuhkan. JOSS!!!

Itu bayangan saya sejak masuk kuliah, dan sejak saat Ibu saya pergi Haji… Realita menjalani mimpi saya itu dimulai.

Kita listing yah.. Poin nomor 1, mentok-mentok cuma liqo’.. Poin nomor 2 sama 3 jelas belum, karena saya belum nikah.. Poin nomor 4, on progress, walopun bisnis punya Ibu.. Poin nomor 5, baru nyiap-nyiapin smua persyaratan daftar PKPA (Pendidikan Kemahiran Profesi Advokat) sama S2 di Magister Hukum Kenegaraan UI.. Ini smua kerjaan setelah saya yudisium dan sekarang nunggu wisuda November 2012 nanti..
Poin yang saya penuhi belum sepenuhnya dijalani, tapi yang saya alami jauh melebihi bayangan saya.. In the other hand, SYOK.

Dengan tiadanya Asisten Rumah Tangga yang nginep, tapi Alhamdulillah yang ngga nginep masih tetep kerja di rumah, saya lumayan pontang-panting setiap harinya.. Rutinitas dimulai jam 4.45 pagi selesai sholat Subuh : nyiapin jus buah + sarapan buat Bapak dan 2 Adek, nyuci smua piring-mangkuk-gelas-cangkir kotor, lanjut nyapu dan ngepel, buang sampah, nyiram taman sama ngasih teh bekas buat pupuk.. Trus saya harus beres-beres meja makan buat makan siang, karena Ibu udah mesen catering makan siang sama tetangga sebelah slama Ibu naik Haji.. Trus saya siap-siap buat ke Apotek, ngecek stok obat dateng, ngecek faktur yang mau jatuh tempo, ngecek buku hutang, ngitung uang masuk, posting uang buat waktunya bayar tagihan (Ibu ngejadwalin Senin sama Kamis), dan kadang ke Bank.. Trus balik ke rumah lagi sebelum Bapak sampe rumah, soalnya musti nyiapin tehnya Bapak.. Teh buat Bapak termasuk khusus karena tehnya teh tubruk tanpa ampas dan gulanya gula aren.. Tapi sebelum balik ke rumah, suka belanja dulu ke minimarket (bukan pasar) karena saya ngga tau caranya belanja di Pasar.. Memalukan ya..? BANGET!
Itu yang saya jelasin diatas ngga slalu kayak gitu, kadang berubah-ubah, tergantung sayanya.. Yang pasti nyiapin jus buah + sarapan itu WAJIB..
Stiap malemnya mudah tidur karena badan brasa CAPEK PANGKAT KUADRAT.. Bangun buat Subuhan aja ngantuknya masih nempel banget di mata.. (Z_____z)

Ada 1 hal yang cukup parah yang berubah sejak saya ngurus rumah tangga sejak Ibu berangkat … lalu..

I. B. A. D. A. H.

Beda banget sama pas dulu masih di kosan.. Walopun yang saya urus ini bukan rumah tangga saya, tapi rumah tangga Bapak-Ibu saya, tapi ini bener-bener nguras pikiran banget.. Kalo fisik, masih bisa di doping pake obat herbal dan tidur yang cukup.. Kalo pikiran…? Saya harus nemuin formulanya sendiri..

Hari ini bisa nge-blog dan leyeh-leyeh, karena Alhamdulillah saya udah nemu formulanya.. Tapi tetep, dengan bantuan Asisten Rumah Tangga.. Asisten Rumah Tangga yang masih kerja adalah yang dateng pas jam 11an dan pulang jam 4sorean, udah kerja dari 2007 akhir pas saya udah kuliah di Jogja.. Beberapa hari lalu Mbaknya bilang kalo Ibu has raise up her salary till Ibu coming home, tugasnya nambah jadi ngelap perabotan rumah tangga, nyapu, dan ngepel setiap jam 2an.. Biasanya Mbaknya kan cuma nyuci sama nyetrika baju sekeluarga aja..

Dan saya pun berpikir keras sampai semalam, bahwa sebetulnya keberadaan Asisten Rumah Tangga yang ngga nginep itu sudah cukup.. Lebih dari cukup lagi kalo Mbaknya mau masak, tinggal nambahin lagi gajinya, tambahin rada banyakan tentunya karena Mbaknya juga kerja di 1 rumah di perumahan disebrang perumahan saya..
First, karena keluarga saya sudah ngga ada anak kecil, paling kecilnya kelas 2 SMA, Dek Dyo.. Means : mereka sudah lebih dari cukup umur buat ngerjain kerjaan rumah tangga, minimal nyuci peralatan makannya sendiri.. Tapi yang slama ini terjadi, saya slalu nyuruh mereka buat buang sampah, nyuci bak sampah, ganti plastik bak sampah, ngembaliin piring-mangkok catering, laundry-in baju dinas Bapak, ngelap piring-gelas-sendok yang udah dicuci, ngasih makan Kucing..
Tentang Kucing, ngga ada yang miara Kucing, cuma kasian aja sama Kucing jalanan yang suka stay depan rumah, ya dikasih aja makanan Kucing..

Jadi kerjaan saya berkurang banyak sebetulnya dengan adanya Asisten Rumah Tangga yang ngga nginep dan umur 2 Adek yang lebih cukup untuk disuruh-suruh itu.. ~(^0^)~
Kerjaan saya sekarang : habis Subuhan langsung nyiapin jus buah + sarapan pagi + teh Bapak, trus nengok Apotek sama belanja kalo emang butuh ada yang dibeli, trus balik ke rumah, stay sampe Bapak pulang kerja dan saya nyiapin teh tubruk+gula arennya.. Ini adalah agenda kalo saya bener-bener ngga ada kerjaan lain selain di rumah dan di Apotek..

In fact, Sabtu dan Ahad ini kelas Tahsin saya ada pembukaan semacam stadium generale, dan minggu depannya mulai belajar.. Belum lagi rencana saya untuk daftar S2 Magister Hukum Kenegaraan di UI which is kelasnya di Salemba, bukan yang di Depok.. Tapi saya juga pengen ikut Pendidikan Kemahiran Profesi Advokat yang di Jogja, bukan yang di Jakarta.. Udah kangen berat sama Jogja soalnya.. L Smoga aja ada bukaan PKPA di Jogja dalam waktu dekat dan diizinin Bapak ke Jogja lagi.. Aamiiiiin Allohumma aamiiiiin..

Ngga kebayang jungkir-baliknya saya kalo ngga ada Asisten Rumah Tangga.. L
Walopun kata beberapa orang kuliah S2 tu kayak kursus karena jarang-jarang kuliahnya, tapi tetep aja yah jalanan Jakarta tu nyita waktu banget.. Apalagi pas jam-jam berangkat dan pulang kerja..

Back to ibadah, kalo dulu pas masih di kosan jadwal ibadah kita oke banget, itu smua bakal berantakan pas ngurus rumah tangga, kalo ngga di prepare sejak awal..
Jadwal ibadah saat kita di kos/hanya ngurus diri sendiri : sholat fardhu tepat waktu, shoum sunnah (Senin dan Kamis/shoum Nabi Daud), tilawah setelah sholat fardhu, hafalan+muraja’ah setiap abis Subuh dan Maghrib, sholat dhuha 12 raka’at setiap harinya, qiyamul lail+tilawah dari jam 3 pagi sampe menjelang Subuh, sholat sunnah qobliyah dan/atau ba’diyah fardhu..
Apakah itu tetap berjalan setelah kita dapet amanah buat ngurus rumah tangga..?

Bagi yang emang murni menjalankan rumah tangga (dan bisnis) aja, mungkin masih bisa..
Tapi kalo yang ambisius pengen tetep aktif kerja…….??? It’s soooo dilemmatic....
Di satu sisi pengen tetep deket sama anak-anak, di satu sisi pengen urusan rumah tangga slalu beres, dan di sisi lain kerjaan di masyarakat juga oke..

Ternyata untuk memenuhi semua keinginan, to get win win solution (especially with your lovely Husband), you have to be GENIUS (not just smart).. Ternyata, dalam dunia rumah tangga pun dibutuhkan strategi.. Ada politik didalamnya..

Dan yang cukup nyesek adalah… You can’t stand by yourself.. You need other’s hands.. To be exact, other’s women hands..

Waktu yang ada harus bener-bener di manage sebaik mungkin.. Kerjakan hal-hal urgent dan penting, khususnya yang jelas-jelas ditulis di Al Qur’an dan Hadits..
Misal : nyuci+nyetrika baju Suami, itu dikerjakan Istri.. Tapi baju sendiri + baju Anak, bisa lah dikerjain sama Asisten Rumah Tangga, tapi harus Asisten Rumah Tangga yang amanah.. Masak juga, wajib nemu yang amanah nyiapin masakan yang sehat tanpa MSG dan bahan kimiawi yang menyertainya..
Trus kalo bisa, cari kerjaan yang memungkinkan nengok anak ato nyediain baby daycare..
Trus juga, ada yang ngerjain ngelap+nyapu+ngepel.. Dipercaya buat jaga rumah slama Suami-Istri diluar rumah..

Oh Gosh! Capek yee ngetiknya doang.. Ngetik juga make mikir, yang dipikirin udah banyak banget..

Pantes aja jihadnya seorang wanita itu cukup dengan sholat fardhu, shoum Ramadhan, dan berbakti sama Suami.. Kerjaan ngga ada habisnya boooo’…. (!!____ ____)

Saya ngga ngebayangin gimana perempuan yang punya bayi dan dia punya bisnis, tetep kerja diluar (baik freelance/tetap), dan Suami yang harus diurus..

Sejumlah orang pernah cerita ke saya, “married ngga seenak yang dilihat.. Ada ngga enaknya, tapi ya dinikmati.. Malah nikah tu jadinya enak banget..” Trus pada nyengir..
Okay, I believe.. Tapi untuk saat ini, training yang saya lakukan slama Ibu ngga di rumah, cukup membuat saya berfikir lebih dalam..

I love law, politic, business, kids, crowded in the street or public place.. I love having good time with family, especially with my husband and my kids (later after married of course)..
And oh yeah, I have to publish my novel.. I wanna be A Perfect Wife, I wanna be A Great Mom, I wanna be A Success Businesswoman, I wanna be A Powerful Advocat, I wanna be A Famous Novelist,  I wanna be a Minister of Education..
I’m not an extra-ordinary muslimah, and insyaAlloh I won’t.. At least, I’m working so hard to make all my dream come true..
I have many opportunities to get all my dreams, and all I have to do, is focus and play smart..
Everybody who read this may called me as an Arogan.. But I do dzholim thing if I let my opportunities away..
And I hope, whoever will be my Husband (and the kids of course), we’re going to be a great team! Sakinah, mawaddah, warohmah team in the world and akhirat.. Aamiiiiin Allohumma aamiiiiin..