Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Friday, August 21, 2015

Moms' Night Out

Depok, 21 Agustus 2015
(20.10 WIB)


Pic taken from here

Film ini aku tonton karena aku liat pemeran utamanya itu adalah pemeran April Kepner di Grey's Anatomy. Yaps, aku suka banget sama Grey's Anatomy. Itu juga alesanku nonton serial tivi baru The Last Ship, karena tokoh utamanya adalah pemeran Mark Sloan di Grey's Anatomy. Mark Sloan sendiri karakter yang akhirnya meninggal setelah berhasil dirawat abis kecelakaan pesawat.

Balik ke film Moms' Night Out, film ini cukup agamis dengan ambil momentum Hari Ibu.

Cerita tentang seorang perempuan muda yang jadi Ibu Rumah Tangga dengan 3 anak yang masih terhitung kecil-kecil, suka main, rumah jadi berantakan. Dia juga punya temen baik 2 orang yang sama-sama jadi Ibu dan punya masalah ngurus keluarga. Bukan masalah berat banget yang gimana gitu, tapi ya tetep aja ya masalah..

Moral story dari film ini adalah b-e-r-s-y-u-k-u-r.

Bersyukur sama semua yang Allaah kasih ke kita, apapun itu pasti itulah yang terbaik untuk kita.

Di film ini, Ally dapetin yang dia mau dari dulu dia kecil. Jadi Ibu Rumah Tangga dengan kehidupan yang baik-baik aja (financially). Cuma masalahnya dia tu belum bisa ngatur waktunya, karena anak-anaknya lagi aktif-aktifnya.

Ujungnya, berakhir bahagia.. Karena semua yang sudah digariskan Allaah, adalah yang terbaik.... <3 <3 <3

Quote yang ngena banget, katanya Wikipedia, itu yang buat adalah William Rose Wallace di poem yang pertama kali terbit tahun 1865 berjudul "What Rules The World".

...tangan yang mengayun buaian,
adalah tangan yang mengendalikan dunia...

Pic taken from here

Dalam Islam, peran muslimah amat-sangat penting dalam mengarahkan negara dan peradaban. Rusak perempuan, rusak negara. Diawali dengan pernikahan, kewajiban Ayah kepada anak-anaknya adalah memilihkan perempuan yang baik agamanya. Bahasan ini saya rencanakan akan ditulis di lain postingan di blog ini. Semoga.

Alexander and the Terrible, Horrible, No Good, Very Bad Day

Depok, 21 Agustus 2015
(19.17 WIB)


Pic taken from here


Film ini ceritanya tentang Alexander, anak ketiga dari 4 bersaudara. Dia ngerasa hidupnya paling ngga enak dibanding anggota keluarganya yang lain. Alexander juga ngerasa kalo dia ngga disayang, ngga diperatiin sama keluarganya.

Pas malem menjelang ulang tahunnya Alexander make a wish supaya semua anggota keluarganya ngalamin keburukan supaya ngerasain apa yang dia alami selama ini.

Paginya pas Alexander bangun, dia agak aneh karena keluarganya belum ada yang bangun dan mereka semua terancam telat. Selain itu, mereka semua dapet masalah di hari itu, kecuali Alexander yang mulus-mulus aja harinya.

Film ini berakhir bahagia, semua anggota keluarga jadi saling terbuka dan sadar kalo mereka harus saling sayang dan perhatian ke semua anggota keluarganya.

Pic taken from here

Hal yang aku perhatiin dari film ini adalah, pertama, Papanya Alexander lagi dalam keadaan tidak bekerja, jadinya beliau yang ngurus rumah, anak-anak, dan Mamanya Alexander yang kerja (jadi kayak Editor di perusahaan penerbitan buku). Kerennya, mereka ngga masalah tentang ini.

Mamanya Alexander ngga ngeremehin Suaminya karena lagi jobless, dan Papanya Alexander tetep semangat masukin lamaran kerja ke tempat yang sesuai sama idealismenya. Btw, Papanya Alexander ni udah PhD, tapi tetep milih kerja di tempat kerja anak muda gitu.

Kedua, orangtuanya Alexander termasuk yang ngga cepet marah dan ngga gampang bentak anak ketika anaknya ngelakuin suatu hal yang ngga sengaja itu salah atau keliru. Mereka ngelurusin, bukan nyalahin, ngatain..

Ketiga, keluarganya Alexander termasuk yang mudah ngambil hikmah dan jaga semangat dengan selalu berfikir positif. Ini terbentuk juga karena karakter orangtuanya Alexander.

Filmnya bagus buat yang mau berkeluarga atau sedang berkeluarga... \\(^0^)//

Tuesday, August 11, 2015

Surga Yang Tak Dirindukan dan Ilmu Parenting

Depok, 29 Juli 2015
(21.03 WIB)



Pic taken from here


Alhamdulillaah tadi ba'da ashar jadi nonton "Surga Yang Tak Dirindukan" (SYTD) di Margo City, dan masih rame banget lhoo yang nontonnya (mengingat ini udah hari ke-13 setelah tayang perdana pas Idul Fitri kemarin)..

Sebelumnya mohon maaf ya kalo sinopsisnya mbleber, ini nulisnya sesukahati sayanya.. (n__n;)v 
Smoga bermanfaat...

Disclaimer --> Semua yang saya tulis disini, perspektif "parenting"-nya sejauh yang saya tau aja dari kajian, bacaan. Terbuka untuk pendapat berbeda.

Judulnya kenapa pake ada embel-embel "ilmu parenting" segala, karena saya pribadi terkesan banget sama tokoh Ibunya Arini..
IBUNYA ARINI ni 'rockstar' banget!!
Hikmah film berjalan baik karena nasihat-nasihat surgawi Ibunya Arini.. Ngga kebayang kalo Ibunya Arini tu emosian, labil, egois, bakal beneran cerai itu Arini sama Pras. Bubar deh filmnya.
Tokoh Ibunya Arini ini bener-bener jadi kayak cahaya-di-tengah-kegelapan..
Ibunya Arini yang nasihatin Arini berdasarkan pengalamannya dulu, dengan tetap mengedepankan syari'at Islam..
Moral story : Jadilah orangtua yang shalih dan shalihah kalo pengen anak-anaknya juga shalih dan shalihah. 

Jangan nuntut anak-anak kita shalih dan shalihah, beriman dan bertaqwa kepada Allaah kalo kita orangtuanya aja :
- masih suka ngulur-ngulur waktu shalat, 
- males nyari ilmu agama, 
- aktif nyinyirin Ulama, 
- ngehujat, ngatain orang-orang yang berusaha jalanin syari'at Islam....

Kedua, tentang Nadia yang suka dongeng sama kayak Arini (Bundanya Nadia).. Disini aku nangkep kalo apa yang seorang Ibu biasa lakukan, akan ditiru anak-anaknya. Di SYTD ini Arini suka mendongeng, Nadia juga ikut suka mendongeng seperti Bundanya.

Saya pernah baca, ada anak yang bisa nyanyi Twinkle-Twinkle Little Star, ternyata Ibunya dulu pas hamil si anak itu biasa mainin piano dengan nada lagu yang sama.

Saya lupa, tapi saya pernah baca (di WhatssApp kalo ngga salah inget) kalo janin dalam kandungan itu dapat mendengar suara di luar janin, khususnya suara Ibunya. Apa yang didengar, kata-kata apa yang keluar dari mulut Ibunya akan terdengar sampai ke rahim.

Selain itu, karakter dan kebiasaan anak mulai dari bayi, balita, remaja itu menyalin dari sikap dan tindakan orangtuanya. 

...................................... Karena saya nulis ini ngga langsung selesai, jadi saya udah lupa mau nulis apa lagi. Smoga tulisan sinopsis yang dikit ini bermanfaat. Mohon maaf atas kekurangan..

Marley & Me

Depok, 11 Agustus 2015
(20.42 WIB)


Pic taken from here


Ini filmnya ngga cuma tentang melihara puppy aja tapi juga tentang rumah tangga, being a stay-at-home Mom, parenting, pekerjaan dan keluarga.

Lumayan bikin nangis filmnya, padahal aslinya kan film lucu ya (terutama pas awal-awal filmnya).. Tapi lebih ke drama keluarga gitu sie..

Tentang rumah tangganya, tokoh pasutri utama di film ini tu abis nikah ngga langsung punya anak, tapi Suaminya tetep ngebesarin hati Istrinya dan Istrinya pun milih untuk ngga terlalu ngeribetin hal itu (secara ortu si Istri diceritain udah pengen banget punya Cucu)..

Tentang being a stay-at-home Mom-nya, digambarin kalo Jennifer Aniston disini fine pas anaknya masih satu. Masih  bisa ngurus kerjaan sekaligus jagain anaknya. Tapi pas dia tau hamil anak kedua, dia langsung mutusin untuk 100% di rumah buat ngurus anak-anak dan keluarganya. Suaminya bilang kalo dia suka sama pekerjaannya, dan Aniston bilang dia emang cinta sama pekerjaannya tapi kalo dia harus berkorban ya dia ngga mau ngorbanin anak-anaknya mending dia ngorbanin ngga kerja. 

Disini digambarin kalo dengan Aniston milih jadi stay-at-home Mom ngga berrarti dia selalu hepi dan kelar kerjaan rumah tangganya. Dia pernah saking capeknya dan marahnya trus nyuruh Suaminya buat naruh Marley di peternakan ortunya Aniston. Tapi pas malemnya Suaminya abis dari rumah temennya, Sebastian (diperanin ERIC DANE!), Aniston bilang kalo ngusir Marley ngga akan nylesein masalah, dan ngusir Suaminya (atau bahkan cerai) juga ngga akan memperbaiki apapun.

Tentang parenting, disini diliatin kalo tokoh utama cowonya, si Suami, itu termasuk family-man. Sayang sama Istrinya, perhatian sama anak-anaknya, ngga masalah rumah rame sama mainan anak-anaknya pas dia pulang kantor, bahagia main bareng sama anak-anaknya pas pulang kerja, nyantai sama sikap Marley yang 'beda' sama puppy pada umumnya, rela kerja lebih keras (termasuk minta kenaikan gaji) untuk dukung Istrinya jadi stay-at-home Mom.

Tentang pekerjaan dan keluarga, ini sebetulnya beda tema tapi berkaitan banget di film ini. Si tokoh utama, si Suami, ini awalnya digambarin kalo dia tu lebih suka jadi Reporter ketimbang Kolumnis. Tapi Istrinya, yang juga sama-sama kerja di media, bilang kalo tulisan dia di artikel koran itu bagus dan ngena. Tapi si Suami tetep ngeyel dan minta ke Atasannya buat dipindahin jadi Reporter. Atasannya bilang kalo banyak orang yang kerja di media berharap punya kolom khusus tulisan mereka.

Trus si Suami ngirim tulisan ke salah satu media cetak di Philadelphia dan dapet jadi Reporter. Begitu dia kerja, Atasannya yang baru bilang kalo dalam tulisan reportasi ngga boleh ada pendapat dari Reporter karena ini beda sama nulis di Kolom. Si Suami disitu keliatan nyadar kalo emang dia minat dan bakatnya itu jadi Kolumnis. Toh, ngga semua orang bisa nulis yang ngena ke publik, kan?

Akhirnya si Suami bilang ke Atasannya yang baru untuk baca tulisan dia yang terbaru buat dinilai. Si Atasan yang baru sebelumnya udah ngingetin kalo dia diterima karena minta jadi Reporter yang terjun ke lapangan, bukan Kolumnis.

Ada satu adegan yang bagus dari Jennifer, yaitu dimana dia bilang ke Suaminya, kemanapun Suaminya dapet kerja maka sekeluarga akan ikut kemana Suaminya pindah. Sweet..

Di pekerjaan barunya ini, si Suami ngga ambil rumah di tengah Kota yang deket sama kantornya, tapi ambil rumah agak jauh dari Kota. Rumahnya punya halaman luas dan deket sama sekolah anak-anaknya.

Terkait sama pekerjaannya, dia ketemu sama Sebastian dan disitu ada momen dimana hidup mereka berdua ngga berubah. Sebastian masih suka gonta-ganti tempat kerja dan kenalan sama banyak perempuan tapi belum mikirin hidup berkeluarga. Sedangkan si tokoh utama udah punya 3 anak, 2 laki-laki dan 1 perempuan.

Kayanya itu sie poin-poin positif dari film ini.. Yang cukup berasa banget adalah gimana Jennifer Aniston berperan jadi Istri dan Ibu yang emang amanah ngurus rumah tangga dan keluarganya..

Tuesday, August 4, 2015

About Time

Depok, 4 Agustus 2015
(22.51 WIB)



Picture taken from here


Ini film cukup 'menipu' yah di beberapa sinopsisnya. Katanya tentang laki-laki yang dikasih tau Papanya kalo keluarga mereka yang cowo-cowo tu bisa ke masa lalu. Faktanya, ini cerita tentang Papa sama anak cowonya dan menyentuh banget... :"(

Scene dimana saya nangis itu ada di waktu 1 jam 50 menitan filmnya jalan. Itu pas si tokoh utama (sampe ngga meratiin namanya) main tenis meja sama Papanya dan Papanya menang, trus si anak ngusulin hadiahnya adalah kecupan. Papanya akhirnya ngerti kalo itu waktu terakhir anaknya bisa nemuin dia lagi, soalnya Istri anaknya ini mau ngelahirin anak ketiganya (yang saya juga ngga meratiin kenapa bisa gitu aturannya).

Picture taken from here

Di menit yang bikin saya nangis itu, si Papa minta anaknya buat mereka balik ke jaman si anak masih kecil dan mereka main ke pantai berdua... (T____T)
Backsound-nya mendukung pula..... Itu bener-bener momen dimana mereka seneng-seneng buat terakhir kalinya.... Mereka main di pantai, duduk-duduk di pinggir pantai, dan baru balik setelah mereka puas main bareng...

Abis itu, si tokoh utama itu mulai jarang balik ke masa lalunya.. Dia jadi Ayah yang perhatian banget sama keluarganya lebih dari sebelum ini.. Lebih semangat membersamai anak-anaknya setiap dia punya waktu untuk nemenin anak-anaknya.. Bangun pagi dan minta dia yang ngurus  Lebih bersyukur dan menikmati detik-detik yang dia lewatin, hari-harinya..

Serius. Ini cowonya tu biasa aja, (kayanya) kerja di lawfirm, nothing special about him. Tapi dia bersyukur, sayang dan perhatian sama keluarganya...

Hikmah yang gw ambil dari film ini adalah : ordinary life, simple life itu wajib disyukuri.. Ngga semua orang dapet kehidupan dunia yang bahagia, dengan sederhana tanpa harus terkenal. Ada yang mikir ribet, maunya high-expectation untuk apa yang didapet padahal yang terbaik itu (sebagaimana hadits) kontribusi positif sebanyak-banyaknya semampu kita ke sekitar kita... Dan, selalu bahagiakan orangtua kita selama mereka masih ada, sekuat daya-upaya kita...

Dunia ini hanya sementara, maka kita harus pastikan kalau nanti di akhirat, kita sekeluarga berkumpul di surga-Nya, duduk bareng Rasulullaah Shalallaahu Alaihi Wassalam bersama-sama melihat wajah Allaah... Aamiiiiin Allaahumma aamiiiiin....

Friday, December 19, 2014

Fedi. Supernova. Pernikahan Visioner.

Depok, 17 Desember 2014
-kamar-



Picture taken from here



Rabu kemarin (16/12) ba’da dzuhur kemarin saya nonton Supernova di Detos sama Nandika. Skalian breaklunch sama Nandika ke TM abis nonton. Pas makan di HokBen, kita (terutama Nandika) sharing beberapa hal. 

Sekian tentang pertemuan saya dan Nandika.

Postingan kali ini ngga akan terlalu banyak bahas film/novel Supernova-nya, Karena pasti udah banyak yang baca/nonton. Tapi lebih ke bahas Fedi Nuril dan Pernikahan, khususnya pernikahan dalam kacamata dakwah. Bagi saya pribadi, pernikahan dakwah adalah pernikahan yang visioner. 

Pernikahan visioner = pernikahan dakwah.

Mungkin ada yang punya definisi berbeda, ngga masalah, itu pilihan, silahkan.

Oya, kenapa Fedi Nuril…? Karena beberapa hari lalu saya baca berita tentang Supernova dan ada pertanyaan Fedi Nuril yang menurut saya menarik untuk ditulis. Di Supernova ini, Fedi Nuril meranin Arwin, Suami Rana (Raline Shah).  

Tentang Fedi Nuril, saya akui saya cukup mengapresiasi sosoknya. Beberapa hari lalu saya lihat background Twitter-nya adalah pembelaan terhadap Palestina dan isi twitnya yang beberapa bulan ke belakang ini bahas Islam. Juga, Fedi Nuril jadi Host di acara “Kaki Langit” di RCTI.  Bagi yang pernah baca Shirah Nabawiyah, Shirah Sahabat, acara ini menyenangkan.

Walaupun tertarik dengan Fedi Nuril, tapi akting beliau di Supernova ini menurutku bagus dan agak canggung. Menurutku lho.

Akting yang terlihat natural dan menghayati peran itu Arifin Putra. Dan smoga beliau tidak benar-benar gay.

Tentang film Supernova sendiri, Sutradara Rizal Mantovani bener-bener keren. Jelangkung. Tusuk Jelangkung. 5 cm. Supernova.

Jujur, sampe sekarang masih ngga berani nonton Jelangkung sama Tusuk Jelangkung lagi walopun itu termasuk film favorit.

Balik ke judul postingan ini. Alasan ngambil judulnya karena saya abis baca berita disini dan Fedi Nuril melontarkan satu pertanyaan :

Arwin dan istrinya Rana itu, datang dari keluarga terpandang. Dan sebagai suami, Arwin adalah lelaki baik dan bertanggung jawab. Ia menafkahi istrinya lahir batin untuk membuat Rana bahagia. Lalu,mendadak muncul sosok Ferre, pria yang membuat Rana berpaling. Nah, buat saya pribadi, hal itu terasa aneh. Kok bisa ya, saat semuanya tidak ada masalah, seorang istri selingkuh? Ternyata menjadi suami yang baik itu sulit.”

Pas baca beritanya, langsung mikir (dengan jawaban yang berdasarkan pemahaman saya tentunya), “mungkin karena pas nikah dulu beda niat. Arwin niatnya membangun keluarga bahagia seperti orangtuanya, sekaligus bukti cinta kepada Rana. Sedangkan niat Rana menikah itu karena kemauan Ibu Mertuanya. Mungkin.

Tentang niat, khususnya dalam memutuskan menikah, ini penting.

Picture taken from Instagram Teladan Rasul

Nah. Abis tadi bahas Fedi Nuril, Arwin, dan Supernova. Sekarang bahas tentang pernikahan, khususnya pernikahan dakwah.

*uuum… Walopun sebetulnya pengen bahas tentang “Ayat Ayat Cinta” (2008) juga karena sosok Arwin sama Fahri kayanya mirip dan sama-sama diperankan Fedi Nuril, tapi kayanya bakal melebar kemana-mana jadi di stop sampe Supernova aja. Insyaa Allah tentang “Ayat Ayat Cinta” dibahas di tulisan lain*

Tentang pernikahan dakwah. Bagi umat Islam, menikah bukan hanya urusan melegalkan dan menghalalkan hubungan biologis, tapi (mengutip Ustadz Anis Matta disini) pernikahan adalah peristiwa peradaban yang mengubah demografi. Lihat sejumlah Negara di Eropa yang jumlah generasi mudanya lebih sedikit dibanding kaum orangtuanya, peradaban akan runtuh dengan sendirinya tanpa perang tanpa wabah penyakit. Untuk lebih jelasnya, bisa tonton video di Youtube judulnya, “Ketakutan Barat atas Jumlah Kaum Muslimin”.

Dan terkait Pernikahan Visioner, bisa ditonton juga video kajian Ustadz Salim A Fillah di Youtube dengan judul, “Pernikahan Visioner”.

Berdasar sejumlah bacaan dan kajian, saya menyimpulkan kalau pernikahan visioner itu adalah pernikahan dakwah.

Pernikahan Visioner bagi saya adalah pernikahan yang selalu diberkahi Allah di dunia hingga ke surga-Nya kelak. Dan cara untuk mendapat berkah Allah, pertolongan Allah adalah dengan berdakwah. Berdakwah itu ngga cuma ngajak orang lain untuk mau kembali ke hukum Allaah, tapi juga untuk diri kita sendiri selalu ingat untuk selalu istiqamah berjalan diatas agama Allaah, untuk selalu istiqamah menolong agama-Nya.

Saya pernah dikasih tau tentang pendakwah ini ibarat orang adzan. Orang yang adzan kan ngasi tau orang lain untuk ke masjid, shalat jama’ah. Tapi ketika orang itu adzan, dia kan belum shalat, dia kan lagi ngga shalat.

Ketika baca/denger kata “pendakwah”, “dakwah”, “da’i” bisa jadi beberapa orang akan ngrasa berat, kayanya jauuuhh bangeett. Iya. Itulah yang saya pikir dulu. Kayanya berat banget, jauh dari saya. Itu pikiran saya pas SMA dulu. Tahun 2004-2006 akhir.

Mulai dari tengah Mei 2007 sampe hari ini, pelan-pelan saya mulai paham makna dan contoh “dakwah” itu. Berikut beberapa contoh yang bisa saya berikan terkait pengamalan dakwah di kehidupan sehari-hari :
1) Memakai busana yang menutup aurat, tidak membentuk tubuh, tidak menerawang, itu dakwah.
2) Bersikap baik, ramah, sopan kepada semua orang, itu dakwah.
3) Bersuara menolak ketika jilbab dilarang, itu dakwah.
4) Memilih pemimpin yang dekat dengan Islam dan patuh dengan ‘Ulama serta mengajak orang lain untuk memilihnya, itu dakwah.

Makna “dakwah” sendiri adalah mengajak orang lain untuk hanya menyembah kepada Allaah dan menjalankan semua aturan-Nya. Intinya, menghamba hanya kepada Allaah, bukan yang lain. Bukan menghamba pada cinta. Bukan menghamba pada syahwat. Bukan menghamba kepada hawa nafsu. Bukan menghamba pada uang, jabatan, tanah, artis, tokoh, dan lainnya.

Kembali ke pernikahan dan Supernova, ada satu dialognya yang menarik yaitu pertanyaan Arwin ke Cyber Avatar Supernova, 

“bisakah seseorang menikah tanpa dasar cinta?”

Entah gimana redaksional tepatnya, intinya Arwin mempertanyakan apakah mungkin pernikahan dibangun tanpa ada cinta sebelumnya?

Menurut saya, ngga mungkin. Pasti ada cinta sebelumnya.

Entah itu cinta ke pasangan yang dia nikahin. Atau cinta ke latar belakang sosial pasangannya. Atau cinta ke orangtuanya yang udah yakin banget sama pasangannya. Atau cinta ke Allah. Atau apapun.

Pasti ada cinta sebelum memutuskan lanjut ke pernikahan.

Seorang Ustadzah pernah bilang ke saya, “yang menyelamatkan pernikahan hingga puluhan tahun itu BUKAN CINTA, tapi IMAN.”

“Jangan menikah hanya karena cinta. Menikahlah karena Allah memberikan amanah pernikahan kepada kita, saat calonnya datang. Karena pernikahan pasti ada masalahnya, besar atau kecil, dan yang menyelamatkan pernikahan bahkan hingga puluhan tahun itu HANYA ALLAH. Bukan cinta.

“Saya menikah karena Allah dan saya mempertahankan pernikahan pun juga karena Allah.”

Kembali ke Fedi Nuril, Supernova, dan Pernikahan Visioner. Hikmah yang saya dapet banget dari film Supernova ini adalah :
1) Selalu berpegang teguh pada Al Qur’an dan As Sunnah.

2) Tuntunan Rasul untuk perempuan memilih Suami adalah yang kita ridha dengan akhlaq dan agamanya. Tentang poin kedua ini bisa lebih lanjut dibaca di blog Kurniawan Gunadi yang judulnya, “Lelaki Shalih Belum Tentu Menjadi Suami Shalih” dan “Agama adalah Hakim”. Selain itu tulisan-tulisan lain di Tumblr-nya tentang pernikahan (ada di label "SPN") juga inspiratif dengan bahasa yang simpel dan mengena.

Sekian untuk postingan kali ini. Semoga bermanfaat. Dan semoga Fedi Nuril dimudahkan Allaah untuk segera bertemu dengan jodoh terbaiknya seorang muslimah shalihah, barakah pernikahan dan rumah tangganya di dunia hingga surga-Nya kelak, dimudahkan pula mendapat keturunan-keturunan yang menjadi penyejuk mata sebagaimana dalam Qur'an Surah Al Furqan ayat 74. Aamiiiiin Allaahumma aamiiiiin.

Picture taken from #HalaqahCinta

Wednesday, October 29, 2014

Grey's Anatomy

Rabu, 29 Oktober 2014
-Depok-


Sebetulnya "Grey's Anatomy" bukan film. Semacam serial tivi. 

Pertama kali gw nonton ini setelah gw nylesein skripsi, termasuk sidangnya (dan kayanya tanpa revisi karena udah Alhamdulillah Bapak Dosen Pembimbing Skripsi gw perfeksionis jadi sebelum sidang udah persiapan mateng banget).

Ada temen TK-SD gw yang ngasi tau kalo film ini bagus. Waktu itu sekitaran Juni-Juli 2012. Dia Dokter dan masih mikirin mau ambil Spesialis apa. Via BBM, dia cerita kalo GA ini serial tivi yang biasa ditonton anak Kedokteran dan ngga lebaiy.

Selama skripsi, kalo orang lain dengerin lagu ato Murratal Qur'an, gw dengerin Harry Potter.

Iya. 
Gw dengerin film Harry Potter sembari gw ngerjain skripsi. And it was fun
Bahkan, gw sampe hafal beberapa dialognya. Karena ada beberapa hal yang bikin gw penasaran dari filmnya, gw nanya Vidi (temen sekampus dan sekosan) yang udah baca novelnya. Gw sendiri cuma baca sampe novel keempat, abis itu gw lebih suka nunggu filmnya aja.

Dan dari kebiasaan dengerin film Harry Potter itu gw jadi tertarik dengan dunia Yahudi dan bahasan seputar Hari Akhir Zaman.

Back to Grey's Anatomy.
Jadi, gw ngopi lah itu semua Season di warnet. 

Awalnya sie biasa aja, ngga tertarik-tertarik amat.
Udah hampir mo gw apus pas nonton di kosan. Trus gw nyoba Googling tentang sinopsis GA ini dan mayoritas bagus semua. Bahkan beberapa bilang kalo GA ini hukumnya wajib ditonton. Ealah.... -_-

Sampe akhirnya gw mulai nonton dari awal, terus lanjut sampe Season 8 (kalo ngga salah inget).
Awalnya sie serem yah, Tapi ya lama-lama biasa juga.
Ada 1 scene yang gw serem banget tu di Grey's Anatomy Season 3 Episode 2 dimana ada pasiennya yang perutnya kehantam pohon dan pohonnya masih ada aja gitu di perutnya. Menurut gw, itu lebih nyeremin dibanding pasien yang kulitnya mengeras dan jadi berakar kayak pohon di Grey's Anatomy Season 7 Episode 3.

Yang paling menarik menurut gw di Grey's Anatomy tu gimana mereka ngejadiin profesi mereka itu bener-bener part of their life, part of their passion, without ruining their marriage life, their social life.

Maksud gw, jarang gw temuin serial tivi yang bener-bener ngupas tentang kehidupan personal, kehidupan rumah tangga, kehidupan profesi, sekaligus kehidupan sosial jadi satu. Dan ini gw temuin di Grey's Anatomy.

Ya ada sie ya masalah, namanya juga hidup, kelar satu masalah ya dateng lagi masalah yang lain. Tapi kalo di Islam kan di Surat Alam Nasyrah udah Allah jamin kalo 1 masalah itu diapit 2 kemudahan.

Yang gw pelajarin dari Grey's Anatomy, terutama dalam hal rumah tangga :
Gapapa Istri tu kerja, kontribusi untuk masyarakat, dan berprestasi. Tapi jangan sampe Istri ngejar jabatan, karena itu artinya harus ada yang dikorbankan. 
Maksudnya, berkarier boleh, tapi niatnya bukan nomor-satuin karier diatas rumah tangga dan keluarga. Berat juga.

Gw sepakat, tapi ini mungkin masih jadi dilema yah untuk beberapa orang, terutama di sekitar gw. 
Banyak yang bilang, "jangan benturkan antara pekerjaan dan pernikahan, kan sama-sama diniatin ibadah."
Iya sie. Mudah berteori, (kayanya) sulit dipraktikkan.
Walaupun "sulit" bukan berarti "mustahil".


Pic taken from here

Ini pasangan favorit selain Owen Hunt sama Christina Yang. 

Mark Sloan - Lexie Grey.

Bedanya, Owen sama Christina berhasil sampai di pernikahan, dan berakhir dengan perceraian dan perpisahan. Kalo Mark dan Lexie belum menikah, mereka meninggal di kecelakaan pesawat.

Dari Christina Yang, gw belajar banget kalo yang namanya belajar tu wajib total supaya kita bisa maksimal nolong orang lain.

Sejak suka Grey's Anatomy dan liat Owen Hunt sama Teddy Altman, gw jadi pengeeenn banget supaya suatu hari anak-anak gw jadi Dokter dan kerja di negara-negara yang lagi perang, atau negara-negara miskin yang belum mampu punya Dokter yang memadai. Trus mereka bikin buku kayak DR. Ang Swee Chan yang nulis buku "From Beirut To Jerusalem". Aamiiiiin Allahumma aamiiiiin... :")

"Being a hero has its price." 
-Christina Yang-
Grey's Anatomy Season 7 Episode 6

Thursday, October 16, 2014

Ju On 3

13 September 2014

Stasiun Sudirman, Jakarta





So, gw mulai langsung ke filmnya. Spoiler alert.

Intinya, Bapaknya ngebunuh Istri sama anak cowonya. That's it. End of story.
Oiyah, Kucingnya juga dibunuh, dimasukkin ke microwave. Sadis.

Sekedar intermezzo, ini Kucing Item piaraan anaknya. Agak aneh menurut gw, karena tanpa adanya Kucing ini pun ngga akan ganggu jalan cerita.

Mule dari situ (pembunuhan), rumahnya jadi aneh gitu. Jadi-jadian. Yang masuk kedalem bakal berakhir dengan kematian. Ya sebetulnya menurut Al Qur'an ya smua yang hidup pasti akan menemui kematian.

Oiya, peraturan pertama : slalu gunakan Al Qur'an dan As Sunnah sebagai landasan berpikir. Hidup Khilafah! Hidup Pak Erdogan!
*ekatanya Khilafah bangkit dari Syam? Bener?*

Balik ke film.

Inti dari film "Ju-On 3" itu seperti ingin membuktikan hadist yang bilang kalo, "setiap ada kerusakan dalam rumah tangga, maka yang wajib dipertanyakan adalah Suami."

Okay. Kayanya gw salah. Itu mungkin bukan hadits dan redaksionalnya tu, "kalo ada anak durhaka, maka yang wajib ditanya pertama kali adalah Ayahnya." Kurleb (kurang-lebih) kayak gitu.

Inget. 3 kewajiban Ayah terhadap Anak yang apabila salah satunya tidak dipenuhi maka sang Ayah sudah dikatakan DURHAKA terhadap anaknya. Wayoloooh!

Pertama, mencari Ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak.
Kedua, memberikan nama yang baik kepada anak-anaknya.
Ketiga, mengajarkan Al Qur'an kepada anak-anaknya. Tentang yang nomer 3 gw pernah baca kalo Ayah yang memanggil Ustadz/Ustadzah ke rumah untuk mengajar Al Qur'an, menyekolahkan anak ke sekolah Islam/pondok pesantren karena pekerjaan sang Ayah tidak memungkinkan untuk mengajarkan Al Qur'an kepada anak-anaknya langsung, maka dua hal tadi sudah termasuk dalam "mengajarkan Al Qur'an kepada anak-anaknya". Alesannya, karena Ayah sudah memberikan akses untuk anak-anaknya belajar Al Qur'an. Tapi tetep, kalo bisa Ayahnya langsung ya baiknya Ayahnya.

Nah pertanyaannya, kok bisa gw nyimpulin gitu dari tu film..?

Pertama, itu awalnya Kayako Saeki (Istrinya) baik-baik aja, sampe suatu hari dia udah kayak orang gila saking pengen punya anak. Suaminya, Takeo Saeki, ni pebisnis yang jarang di rumah gitu.

Hikmah dari episode ini : para Suami peka sama perasaan Istrinya. Ini sebetulnya ngga akan ada adegan pembunuhan kalo Suaminya peka sama masalah Istrinya. Jadi tuh anak yang dikandung Kayako ni bukan dari Suaminya, Takeo, tapi arwah anak kecil yang masuk k perut Kayako.

Kayako nulis di buku diarinya kalo dia ngga peduli gimana caranya dia bisa hamil. Trus dia kayak main upacara manggil arwah, roh gitu. Kayako bilang dia minta ada jiwa yang tumbuh dalam perutnya. Masuk deh roh jahat dari arwah anak yang dulu pernah mati dibunuh ortunya, nama anaknya Toshio Yamagi.

Oya, flashback tentang Toshio Yamagi. Dia ni anak kecil umur 8 taun yang jadi korban kekerasan ortunya. Dia tewas di lemari kamar tidurnya karena diiket pas Jepang lagi kena suhu panas gitu. Naah Toshio Yamagi ni 'dateng' karena 'dipanggil' Kayako.

Sebetulnya ini bukan kesalahan Takeo sepenuhnya ya, secara kultur di Jepang beda sama di Indonesia yang kalo udah sebulan selese aqad-resepsi dipastikan bakal dapet pertanyaan udah-hamil-apa-belom. Lha kalo di Jepang kan beda, punya anak dianggap bukan suatu kewajiban.

Tapi ya disyukuri aja, anggep aja do'a. Kan logika matrenya, dengan semakin banyaknya jumlah manusia di suatu negara, berarti potensi pasarnya besar dan perputaran ekonominya insya Allah lancar. Plus, Indonesia kan masih jadi kantong umat Islam di dunia, salah satu buktinya adalah negara terbesar yang setiap taunnya nerbangin warga negaranya buat Haji dan Umrah. Lebih lanjut bisa yutupan "Ketakutan Barat Atas Jumlah Kaum Muslimin", itu video yang pernah di shared Iqbal di Pejuang.

Balik ke Takeo.

In my sotoy opinion, as a couple married, Takeo-Kayako ni kayanya komunikasinya kurang. Kalo seandainya komunikasi mereka lantjar djaja kayak jalan-tol-abis-subuh kan ngga akan ada adegan setan-setanan, tapi Ju-On 3 jadinya pilem drama keluarga, rumah tangga gitu. *lah?*

Karena kalo lo perhatiin, arwah Toshio Yamagi ngga bakal 'dateng' kalo ngga 'dipanggil' Kayako.

Kayako ni sebetulnya perempuan baik-baik dan berniat banget jadi Kyoiku Mama. Berdasarkan obrolan dengan salah beberapa Ummahat, sehebat apapun potensi Istri kalo Suaminya ngga peduli, ngga peka, ngga dukung ya sama aja bohong. Nol besar.

Kedua, ortunya Toshio. Yakali ngiket anak trus ngebiarin dia kelaperan seminggu. Mari kita doakan ortu kayak gini supaya lekas insyaf, hidupnya susah dunia-akhirat, walopun ujungnya tetep masuk surga (kayak katanya Ustadz Syatori, kalo yang namanya penghuni surga itu sedih kalo liat ada makhluq yang masuk neraka, dido'ainnya smua diampuni, dapet hidayah & endingnya smua masuk surga) Aamiiiiin Allahumma aamiiiiin.

Di Ju-On 3 ngga diceritain alesan knapa ortunya Toshio Yamagi bisa sekejam itu. Entah gila ato emang imbisil. #emosi


Pic taken from here



Kesimpulan gw setelah nonton Ju-On 3 ini adalah menyadari betapa pentingnya "Kuliah Pra Nikah", buat cewe-cowo. Khususnya buat cowo. Kata Pak Cah, ini bedanya Bapak-Bapak sama Ibu-Ibu. Misal acara seminar pernikahan yang bedah buku; kalo Ibu-Ibu itu walopun udah baca juga tetep maunya dateng & pasti ngajak Suami, tapi yang Bapak-Bapak tu nolak dateng dengan alesan udah baca. Ibu-Ibu tu mau dateng harapannya bukan cuma dapet ilmu baru yang bisa jadi ngga ada di bukunya tapi Ibu-Ibu juga mementingkan kebersamaan.




Pernah dibahas knapa acara pra nikah lebih banyak peserta akhwat ketimbang ikhwan. Kalo ngga salah Irwan Rinaldy pernah bilang mungkin fenomena ini adalah bukti masih kuatnya dogma di masyarakat bahwa ilmu parenting hanya dominasi kaum Ibu, padahal di Al Qur'an dari 17 ayat tentang pengasuhan anak itu 14 ayat bahas Bapak-Anak, 2 ayat bahas Ibu-Anak, 1 ayat bahas Guru-Anak. Coba di cek lagi, kali gw bener.

Intinya, Tarbiyatul Aulad (pendidikan anak) itu mayoritas berbicara tentang Ayah. Bukan Ibu. 
Mayoritas ya, bukan keseluruhan.

Naah, menurut gw, ibroh film Ju-On 3 ini dikhususkan bagi kaum Adam (bukan nama Suami Inul). Dalam 1 kalimat simpel :

URUS ANAK-BINI YANG BENER!!

Knapa?
Kalo Suami gagal ngedidik diri sendiri, gagal ngedidik Bini ama anak, ujungnya ntar jadi NYETANIN ORANG. Ngrusak masyarakat.

Kalo gitu, itu 5X sehari ngapain? Jedotin pala doang di lante? (bagi yang mengaku beragama Islam)

Ada 1 adegan yang membuktikan kalo Takeo Saeki ni ngga pernah ikut (ato mungkin lupa ato ngga nyimak?) material Kuliah Pra Nikah, pas Yui, Ibu Guru, nyetel video rekaman keluarga Saeki pas di episode Toshio gamau di foto bareng Takeo. Kayako udah nyuruh-nyuruh Toshio foto bareng Ayahnya.

Dimana konyolnya?

Dimana-mana yeee yang namanya anak, apalagi masih kecil, cuma mau sama yang nemenin dia setiap hari. JANGANKAN sama Bokapnye, kalo EMAKNYE kerja trus dia dititipin sama Baby-Sitter, YangTi juga bakal nolak ortunye.

Ngga percaya?
Cobain sendiri ke anak lu.



Balik ke Takeo. Pas dia udah minta ke anaknya buat foto bareng (mana mintanya kasar lagi) tapi Toshio nolak, Takeo marah dan nunjukkin muka dendam.


Edudul banget. Anak tu ngga smua bantam -banci tampil- apalagi depan kamera. Begitu anak tau arti "foto", banyak dari mereka yang bakal nolak! Emang dipikir foto-foto bagus, imut, happy-family yang bareng balita tu skali jepret dapet?? Kaga! Emaknye jaipongan dulu depan anaknye biar mao dipoto. Jangan dipikir foto ama balita dan dapet angle bagus tu gampang. Ngga ngefek titel sarjana lo, lo musti nurunin gengsi dan turun umur jadi sepantar ama balita yang mo lu ajak foto. Itu makanya Fotografer Bayi MAHAL! Lo pikir gampang motoin anak bayi pake gaya malaikat lagi senyum, poto anak bayi ketiduran diatas buku-buku? Gw pernah baca cerita seorang Ibu yang demi anak bayinya mau ktawa pas di foto, akhirnya Bapaknya yang dijadiin alas si bayi. Jadi Bapaknya tiduran di lantai, perutnya dialasin selimut bulu, bayinya yang udah didandanin ditaruh diatas perut Bapaknya, dimulailah Lenong dadakan! Bapaknya ngajak ngobrol bayinya, si bayi yang emang suka ya ktawa-ktawa pas Daddy-nya ngajak dia ngobrol. Apa kabar Emak? Emaknye yang merangkap Fotografer Bayi, joget-joget ngajak anaknya ngliat kearah dia yang didepannya ada kamera sambil nyekrek-nyekrekkin kamera berharap dapet momen si anak pas lagi ktawa dan ngliat ke kamera. See? Lo pikir gampang.

Balik ke Takeo-Toshio.
Takeonya dudul. Jarang ketemu, minta akrab. Dikate Indomi 10 menit jadi?

Selain Takeo, Kayako juga salah sih. Takeo yang awalnya ngga niat ngebunuh Kayako jadi malah nyekek dan muterin leher Kayako sampe mati.

Takeo marah ke Kayako tentang Toshio yang gamau di poto bareng dia. Kayako bukannya ngademin kek, malah nantangin, bilang kalo Toshio emang bukan anak Takeo. Lah logikanya si Takeo kan mikirnya itu anak hasil selingkuhan Kayako.  Wajar Takeo marah. Apa kabar harga diri sebagai kepala keluarga, sebagai laki-laki?

Mungkin akan lain cerita kalo Kayako bilang Toshio itu anak setan. Palingan dipanggilin Dukun, ato dimasukkin RSJ, mentok-mentok dicerai.

Dalam konteks sampe hamil, alasan knapa perselingkuhan laki-laki dapat dimaafkan tapi perempuan yang berselingkuh itu wajar dicerai, karena laki-laki bisa selingkuh tanpa hati, perasaan, cinta. Laki-laki bisa selingkuh karena bosan, mau coba-coba, bete sama kelakuan Istrinya. Contoh : David Beckham. 



Gw pernah baca tulisan senior gw tentang rumah tangga David-Victoria. Victoria tau Suaminya ngga bakal kmana-mana walopun diberitain selingkuh sama model ABCD. Victoria paham Suaminya cuma butuh selingan, nyoba hal baru. Ngga lebih. David tau diri kalo dia ngga akan sesukses sekarang kalo bukan karena support Istrinya. Mereka nikah dalam posisi David belum jadi pemain bola tenar banger, sedangkan Victoria lagi nanjak kariernya di Spice Girls. Victoria juga bukan dari keluarga biasa, Papanya lawyer tenar, Victoria bisa aja milih nikah sama yang lebih mapan saat itu dibanding David tapi knapa dia tetep milih nikah sama David?


Tapi ini bukan berarti excuse untuk laki-laki bebas selingkuh. Karena rata-rata laki-laki yang sukses itu menghormati perempuan. Termasuk di AS, cara termudah menjegal karier laki-laki : kasih perempuan. Yang menjatuhkan Andalusia bukan senjata, tapi perempuan. Yang diserang Israel pertama bukan laki-laki, tapi perempuannya.

Bener banget hadits yang bilang kalo setiap perempuan yang menjadi itu seumpama tawanan, dan laki-laki adalah pemimpin dalam rumah tangganya.
Cari Istri yang bisa lo kendalikan sekaligus bermanfaat buat lo.
Kalo Istri lo Setan/Jin, kapasitas lo harus setara Iblis.
Kalo Istri lo Iblis, lo Dajjal.
Kali Istri lo Dajjal, lo Nabi Isa. Karena nubuwatnya, Nabi Isa yang membunuh Dajjal di Hari Akhir.
Ini perumpamaan ekstrim aja.

Beda sama perempuan, perempuan harus ada hati dulu, ada perasaan dulu, ada cinta untuk sampe berani selingkuh. Perempuan berani selingkuh itu pasangan laki-lakinya udah gapunya harga diri, udah ngga dianggep. Trus mo ngapain? Main rumah-rumahan?

Dapat disimpulkan secara keseluruhan, kalo film Ju-On 3 ini sebetulnya film tentang contoh kegagalan sistem parenting, khususnya di Jepang, yang akhir-akhir ini rame sama tema "Kyoiku Mama".

Seinget gw itu aja sih yang gw rasa urgent dari film Ju-On 3 ini. Selebihnya silahkan nonton sendiri. Hehehe... ^^v

Salah satu cara instan menghancurkan peradaban (Islam) adalah lewat anak-anak. Lewat generasi mudanya.


Friday, April 25, 2014

Why Divergent ?

Assalamu’alaikum! 

Apa kabar ni blog? Lama ngga ditengok. (“,)v
*ambil kemoceng*

BTW postingan gw kali ini khusus untuk Unik sama Irwan yang kemarin sore nanya knapa gw seneng banget sama Divergent sampe nonton 3X, skalian review novel Divergent dan sedikit spoiler dari novel Allegiant.

Picture taken from here

Karena PKS (Justice and Welfare Party) dapet nomer 3 di Pemilu taun 2014 ini dan gw memutuskan untuk 3X berturut-turut nonton Divergent di bioskop SENDIRIAN, maka gw putuskan untuk memberikan 3 alasan kenapa gw suka Divergent.

*FYI film Divergent ini diputer di bioskop menjelang Pemilu Legislatif, dan ini jadi salah satu penyemangat buat gw*


Picture taken from here
BTW peliiisshhh Unik, Irwan, dan smua yang (mo) baca postingan gw kali ini, gw kasih tau dari awal : postingan ini p-a-n-j-a-n-g.

Pastikan anda membawa minuman dan cemilan untuk menemani anda slama membaca postinganku kali ini.. \\(^0^)//

Sebetulnya kalo normal mah bisa aje dijawab di grup, cuman karena smangat ngemeng gw bener-bener hyper, jadi mending dimari aje.

Oya, postingan ini sangat subyektif dari kacamata gw (walopun gw ngga make kacamata). Mungkin ada orang yang ngrasa biasa aja ato ngga sepakat.

Eniwei, smoga bermanfaat. Here we go!

*oiya, bakal ada spoiler, feel free to close this page*

Pertama, alesan subyektif banget..THEO JAMES (pemeran Four) kerennya. Ngga. Ketulungan. 
At least, buat gw. (>,<)v
Trus ada 1 quote keren dari Four, "a brave man acknowledges the strength of others."

Picture taken from here
Kedua, novelnya baguuss, banyak pelajaran yang bisa diambil apalagi buat anak Hukum ato Pejabat ato mereka-yang-diproyeksiin-jadi-Pejabat *ciee*.

Ngajarin untuk ngontrol rasa takut (yang faktanya : ngga smua orang bisa ngadepin itu dengan tepat).

Ngajarin untuk bertanggung-jawab sama pilihan yang udah kita ambil, apapun konsekwensinya. Bahkan ketika kita hampir mati untuk mempertanggungjawabkan konsekwensi dari pilihan yang udah kita ambil.

Contoh dramatis favorit gw di filmnya (karena di novelnya ngga ada) : pas Tris usaha lari cepet untuk naik kereta pas temen-temennya mau simulasi perang, padahal dia masih memar babak-belur dihajar Peter pas tanding berantem.

Ngajarin juga yang namanya setiap tujuan jangka panjang itu butuh persiapan matang (makanya di Dauntless latiannya keras dan fisik banget, karena mereka militernya untuk 5 faksi itu, gada ceritanya militer ngga 'dihajar' karena itu untuk nglatih fisik dan mental pas harus ngalahin musuh).

Ada 1 hal yang mirip kayak Islam di Divergent, tentang kepemimpinan yang gabole dikasih ke mereka yang emang pengen, niat, haus kekuasaan.
"... My father says that those who want power and get it live in terror of losing it. That's why we have to give power to those who do not want it."
Picture taken from here

 Di Divergent, yang jadi Pejabat Pemerintah tu Abnegation, bukan Erudite yang cerdas. Knapa?
Karena Abnegation itu faksi yang slalu mendahulukan orang lain ketimbang dirinya sendiri, makanya mereka yang dijadiin Pemimpin.
"Those who blamed aggression formed Amity." 
"Those who blamed ignorance became the Erudite." 
"Those who blamed duplicity created Candor." 
"Those who blamed selfishness made Abnegation." 
"And those who blamed cowardice were the Dauntless."
Trus, pelajaran kalo yang namanya kejujuran itu ada tempatnya, ada masanya, gabisa slalu diumbar langsung saat itu juga.

"I'm used to just saying whatever is on my mind. Mom used to say that politeness is deception in pretty packaging."  
"... Candor's real problem is with Amity. Those who seek peace above all else, they say, will always deceive to keep the water calm." 
I can’t imagine what good can come of saying such terrible things.”

Jadi, faksi Candor tu faksi yang slalu jujur, terbuka, terus terang. Kalo Amity tu faksi yang slalu damai, ambil posisi netral, makanya profesi mereka jadi Petani, ngurus kebun, makanan, bajunya cerah-cerah.


Picture taken from here

Beda sama Dauntless. Profesi Dauntless tu, "provide us with protection from threats both within and without."

Sesuai sama Manifesto Dauntless : "We believe in freedom from fear, in ordinary acts of bravery, in defending those who cannot defend themselves."

Dan itu mungkin yang ngebuat mereka selalu berhadapan sama ujian yang bener-bener nguji nyali, nguji sampe sejauh mana batas keberanian (dan nekat?) mereka.

I have realized that part of being Dauntless is being willing to make things more difficult for yourself in order to be self-sufficient. There’s nothing especially brave about wandering dark streets with no flashlight, but we are not supposed to need help, even from light. We are supposed to be capable of anything.”

Tapi, walopun mereka kuat, ngga brarti itu mereka harus kasar, selalu nge-bully. Idealnya sie gitu.
You’re not a coward just because you don’t want to hurt people.”

Picture taken here
 Pelajaran lain, di terutama Dauntless, adalah bahwa fisik yang besar, kekar, gagah belum tentu selalu menang di setiap pertandingan. Yang terpenting, gimana nguasain emosi dan melatih otak untuk berfikir cepat dan cerdas dalam waktu bersamaan.

All the people on Eric’s team are broad and strong. Just yesterday, Four told me I was fast. We will all be faster than Eric’s team, which will probably be good for capture the flag—I haven’t played before, but I know it’s a game of speed rather than brute force. I cover a smile with my hand. Eric is more ruthless than Four, but Four is smarter.”

Milih Dauntless juga bukan sembarangan, karena mereka bakal megang profesi sebagai penjaga keamanan dan itu ngga main-main. Bukan cuma fisik, tapi juga kemampuan otak.

“I suggest you take this time to formulate a strategy. We may not be Erudite, but mental preparedness is one aspect of your Dauntless training. Arguably, it is the most important aspect.” [Four]

He is right about that. What good is a prepared body if you have a scattered mind? [Tris]

Dan menurut gw, apa bedanya manusia gitu --yang kokoh fisiknya tapi otak sama hati ngga dipake—sama robot?

Salah satu adegan favorit gw adalah manjat pinang bianglala. Di filmnya si Tris nanya ke Four, “lo takut ketinggian ye?” Trus Four jawab, “everyone is afraid of something.”

Kagak. Tris kaga ngemeng pake bahasa Depok, di filmnye Tris lebih ke pernyataan daripada pertanyaan. “You’re afraid of heights.”

Kalo di novelnya, “You’re afraid of heights,” I say. “How do you survive in the Dauntless compound?”
“I ignore my fear,” he says. “When I make decisions, I pretend it doesn’t exist.”

Picture taken from here
 Gw masih ragu sama statement Four tadi sepenuhnya bener ato engga. Dan ada satu komen lagi yang gw belum tau sampe sekarang apa gw sepakat ato engga : “Because life’s not fair, Albert. And the world is conspiring against you,” says Will. “Hey, can I see the flag again?” Ini abis simulasi perang tadi.

Ada lagi yang sepertinya gw kurang sepakat, masih tentang simulasi perang, yaitu fakta bahwa : “Winning capture the flag is a matter of pride, and pride is important to the Dauntless. More important than reason or sense.”

Aduh, sebetulnya masih ada beberapa quote di novel Divergent yang bagus, dan ini gw baru sampe halaman 188, yang pas Tris dilempar-lempar piso dapur sama Four, sebelumnya Tris bilang ke Eric, Any idiot can stand in front of a target,” I say. “It doesn’t prove anything except that you’re bullying us. Which, as I recall, is a sign of cowardice.”

Dan kalo gw lanjutin, gw rasa postingan gw bakal jadi “Kumpulan Quote Keren dari Novel Divergent”, jadi gw pilih stop dan mari kita lanjut ke alasan terakhir gw suka Divergent.

Ketiga, ini termasuk novel distopia. Ada tulisan bagus tentang novel distopia judulnya "WhyDystopian Novels Are Important".

Salah satu yang gw suka dari novel distopia itu biasanya mempertanyakan hal-hal basic (tapi fondasi banget) dari kemanusiaan, kehidupan. Kayak di DIvergent ini :

"... Will I let her fall to her death, or will I resign myself to being factionless? What's worse: to be idle while someone dies, or to be exiled and empty-handed? 
... 
Would I even be strong enough to hold on to her? Would it be worth my effort to try to help her if I know I'm too weak to do any good?

I know what those questions are: excuses. Human reason can excuse any evil; that is why it's so important that we don't rely on it. My father's words."

Dan pertanyaan-pertanyaan lain kayak :
What is "freedom"?
What is "love"?
What is "human"?
What is "equity"?
Is "diversity" enough?

Sampe mana batas "adil" itu?
Knapa ada manusia yg serakah, maruk?
Apa smua orang itu sebetulnya pada dasarnya baik? Ato jangan-jangan emang Tuhan nyiptain manusia-jahat?

Picture taken from here
*FYI entah knapa gambar diatas tu nampol banget, nyemangatin (gw pribadi) buat mau belajar, banyak baca*

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin buat sebagian orang, ngga penting. Tapi pertanyaan-pertanyaan itu yg bikin gw jadi belajar lagi, & nyari tau jawabannya dari Islam karena gw yakin Islam punya jawaban logis untuk setiap pertanyaan manusia. Dan akhirnya bikin gw bersyukur gw milih Islam. Ngga cuma "masuk Islam", karena Ortu gw Islam. No.

Percaya ngga percaya, abis gw slese baca "Allegiant" di halaman terakhir, gw mempertanyakan kenapa Allah nyiptain manusia?

Allah ngga butuh ciptaan-Nya.
Allah bisa aja ngga nyiptain apapun.
Sendiri.
Allah ngga butuh apapun.
Allah ngga butuh dipuja-puji semua ciptaan-Nya.

Trus apa alasan penciptaan manusia?



Picture taken from here

Sampe akhirnya Iqbal jelasin ke gw (please koreksi Bal kalo ada penafsiran gw yang salah) dan gw paham, "iya yah.. Yang butuh diciptain tu ciptaan-Nya. Yang butuh Allah tu ciptaan-Nya." Emang sie, ada cerita sahabat Rasul yang sedih karena udah diciptain jadi manusia dan itu artinya harus nanggung beban pertanggungjawaban di akhirat nanti.

Tapi menurut gw, kalo gw gajadi manusia, gw ngga akan tau dan belum tentu bisa ngrasain bener-bener sifat-sifat Allah (kayak Allah Maha Pengasih, Allah Maha Penyayang, Allah Maha Pengampun, et cetera). Dan gw jadi dapet jawaban knapa manusia yg dijadiin Khilafah, bukan ciptaan yg lain.

Karena manusia dikasih akal. Kita bebas milih.
Manusia dibebasin milih, dengan segala konsekwensinya.

Picture taken from here
*yg jawaban ini membawa gw ke pertanyaan, "apa Iblis juga dikasih akal? Sampe mereka milih nolak sujud ke Adam itu hasil pemikiran akal mereka ato emang Iblis itu cuma diisi nafsu aja?" Pertanyaan itu sebetulnya muncul pas SMA gw baca buku "The Madness of God", diluar beneran tu buku menggugat pemikiran jamak yang udah mapan ato cuma fiksi, buku itu nyeritain tentang penolakan Iblis sujud ke Adam. Iblis jelasin kalo Tuhan cuma nguji Malaikat dan smua ciptaan-Nya yang lain, apakah mereka "ingat" sama perintah pertama-Nya untuk slalu sujud ke Tuhan dan bukan kepada yang lain?
Tapi alhamdulillah pas kuliah gw nemu jawabannya di Al Qur'an, yang ngjelasin kalo perintah sujud ke Adam itu bukan maksudnya menyembah Adam, tapi bentuk kepatuhan ke Allah atas perintah-Nya dan tunduk atas salah 1 takdir bahwa manusia lah ciptaan-Nya yang sempurna. Bukan yang lain.
Tapi gw tetep masih belum dapet jawaban, apa Iblis dikasih akal ato engga.
*eh, gw udah mleber kmana-mana yah? maap. kliwat semangat.*

Slama ini gw denger orang cuma bilang, "shalat tu buat kamu! Ziswaf tu buat kamu! Haji tu buat kamu!"
Jarang ada yang jelasin knapa kita butuh itu semua.

*ato karena gw yg ngga nanya?*

Knapa kita butuh ibadah?
Alesan surga dan neraka?
Takut?
Apa sih definisi "butuh"?

Dan itu jadi nunjukkin kalo yang butuh tetep ada di agama ini tu gw. Yang butuh ada di jama'ah ini tu gw. Yang butuh ada di Pejuang ini tu gw.

Gw ngrasa butuh, jadi gw usaha supaya gw slalu disini. Di Islam.

Di ujung, karena gw butuh, jadi gw yang musti ngasi sesuatu yang gw mampu kasih.

Gw belum jadi apa-apa, belum bisa ngasi trilyunan, gw skrg cuman masih belajar. Jadi gw harus smangat belajar. Kalo gw paham 'baca' hukum, gw paham gimana nyari cara untuk ikut ngbela Islam, gw jadi bisa bantu buat Islam.

Gada gw, Islam tetep menang. Jadi, jelas, gw yang butuh.

Statement Jeanine Matthews juga bagus (dan dibalikin Tris lagi kalimat itu ke Jeanine pas di akhir-akhir film Divergent), nyemangatin buat tetep berjuang, dimanapun posisi lo.

Don’t get me wrong. There’s a certain beauty in your ressistance.

Picture taken from here

 Logikanya : orang yang tau kalo faktanya tu posisi dia keliru (tapi tetep dipertahanin) aja tetep semangat dan megang prinsipnya (yang keliru) itu, masa’ kita yang bisa buktiin bener malah lemah-letih-loyo-lemes? *anemia Mba?*

Emang sie, ngliat orang yang megang teguh prinsipnya tu keren banget. Tapi lebih enak kalo prinsip yang dipegang tu prinsip yang benar.

Oiya, statement terakhir di Allegiant yang gw maksud tu yang ini :

Since I was young, I have always known this: Life damages us, every one. We can't escape that damage.
But now, I am also learning this: we can be mended. We mend each other.

Sebelum nge-spoil *halah*, ada 2 gambar lucu tentang Divergent.. Enjoy it.. XP


Picture taken from here


Picture taken from here


SPOILER :
Tris mati.
Four idup.