Showing posts with label Marriage. Show all posts
Showing posts with label Marriage. Show all posts

Friday, February 12, 2016

Adab dan Akhlaq Berumahtangga

Medan Merdeka Utara, 2 Februari 2016
(16:38 WIB)



Kenapa labelnya Struggle sama Tough...? Yak! Masih masa-masa 'transisi'.. ^^v

Beberapa hari ini gw suka dengerin lagunya Geisha yang jadi salah satu OST Single (filmnya Raditya Dika).. Ini filmnya bagus, lagunya juga..

Oiya, alhamdulillaah beberapa hari ini Depok sama Jakarta sering hujan.. 

Btw, knapa judulnya oye banget, ini berawal tadi pagi ketemu Fahmy (temen SMA) di kereta, dia turun di Jakarta Kota, gw turun di Juanda.. Banyak cerita sama Fahmy.. Ada 2 (dua) hal yang ngena dari obrolan gw sama Fahmy tadi pagi..

Susyah ketemu, sekalinya ketemu, bela-belain wefie..~

Pertama, laki-laki ngga suka sama perempuan yang meledak-ledak.. Kata Fahmy, cewe model gini bahaya buat diajak berumah-tangga karena misal kalo ntar di tengah perjalanan pernikahan ada masalah ato konflik gitu (walaupun kecil) kalo pas emosinya kepicu, bakal ngerusak.. 

Kedua, Fahmy nyaranin gw buat mengendalikan emosi.. Menurut Fahmy, gw tu Koleris-Melankolis.. Ini beda sama yang dibilang temen gw yang Psikolog, dia bilang kalo gw tu SANGUINIS..

Bingung yak.. (n____n")

Akhirnya gw nyoba ikut kuis-kuis gitu dari hasil Googling, hasilnya gw Sanguinis.. Ada lagi hasil lain, gw tu Plegmatis..

Akhirnya, gw simpulin sendiri kalo emang gw ni belum dewasa... Masih banyak hal yang harus diperbaiki.. 

Trus gw inget dari salah satu kajian, kalo sebetulnya peran yang banyak bikin perempuan masuk neraka itu adalah GAGAL JADI ISTRI.. Utama banget harus sukses jadi Istri.. Di salah satu kajian yang lain, Ustazahnya bilang kalo malaikat itu jarang melaknat manusia, makanya sampe ada hadits yang ngasi tau kalo malaikat melaknat Istri karena nolak 'tidur' sama Suaminya, berarti itu parah banget...

Gw belum nikah jadi gw belum paham, gw belum tau soal dunia rumah tangga.. Tapi kayanya kok ujian banget ya pernikahan itu.. Ngga sekedar cinta-cintaan, ngga sekedar MERASA cocok terus lanjut...

Ini bukan berarti gw ngga mau nikah, atau sengaja ngulur waktu buat nikah, atau malah nunda ato parno.. Bukan.... Tapi gw ngerasa kalo emang 'segila' itu dunia pernikahan, artinya MENTAL GW WAJIB DITEMPA....

Pernikahan itu harus banyak ikhlas.. Banyak legowo... Banyak bersyukur... Banyak bersabar... Banyak positive thinking... And everything's gonna be okay... Semua senang, semua tenang, semua dapet ridha Allah, aamiiiiin Allaahumma aamiiiiin....

Ini gw nulis kayak diatas bukan karena gw udah bisa kayak gitu, malah justru gw lagi mulai belajar MUDAH MEMAAFKAN DAN MELUPAKAN KESALAHAN.... Berat yah.. Nulisnya mah enteng.. Berat, tapi semoga bisa...

dari Path-nya Akhyar (temen SMA juga)


Banyak argumen di luar sana yang bilang kalo perempuan juga wajib ngomong, menyuarakan pendapatnya.. Secara syariat Islam, ini bener ngga sie..? Dalam kasus apa perempuan boleh bicara..? Dan pasti ada adabnya kan...?

Kayanya gw musti ambil matkul "Adab Menjadi Istri Shalihah"... Kalo ngurus negara aja ada kuliahnya, apalagi bangun rumah tangga... Bismillaah, smangat!!

Oiya, ngomong-ngomong soal matkul, ada rencana juga buat kuliah S3.. Tapi sekarang lagi fokus yang lain dulu, pengen istirahat dari baca-baca terkait Hukum Kenegaraan dan kengkawannya.. Sekarang lagi pengen baca-baca tentang agama Islam, terutama adab dan akhlaq... 

In my sotoy opinion, materi adab dan akhlaq ini penting banget buat modal berumah-tangga kelak.. *ceileh guee*

Etapi seriusan, ngga kebayang kalo rumah tangga minus adab-akhlaq, bahaya banget...

Friday, December 19, 2014

Fedi. Supernova. Pernikahan Visioner.

Depok, 17 Desember 2014
-kamar-



Picture taken from here



Rabu kemarin (16/12) ba’da dzuhur kemarin saya nonton Supernova di Detos sama Nandika. Skalian breaklunch sama Nandika ke TM abis nonton. Pas makan di HokBen, kita (terutama Nandika) sharing beberapa hal. 

Sekian tentang pertemuan saya dan Nandika.

Postingan kali ini ngga akan terlalu banyak bahas film/novel Supernova-nya, Karena pasti udah banyak yang baca/nonton. Tapi lebih ke bahas Fedi Nuril dan Pernikahan, khususnya pernikahan dalam kacamata dakwah. Bagi saya pribadi, pernikahan dakwah adalah pernikahan yang visioner. 

Pernikahan visioner = pernikahan dakwah.

Mungkin ada yang punya definisi berbeda, ngga masalah, itu pilihan, silahkan.

Oya, kenapa Fedi Nuril…? Karena beberapa hari lalu saya baca berita tentang Supernova dan ada pertanyaan Fedi Nuril yang menurut saya menarik untuk ditulis. Di Supernova ini, Fedi Nuril meranin Arwin, Suami Rana (Raline Shah).  

Tentang Fedi Nuril, saya akui saya cukup mengapresiasi sosoknya. Beberapa hari lalu saya lihat background Twitter-nya adalah pembelaan terhadap Palestina dan isi twitnya yang beberapa bulan ke belakang ini bahas Islam. Juga, Fedi Nuril jadi Host di acara “Kaki Langit” di RCTI.  Bagi yang pernah baca Shirah Nabawiyah, Shirah Sahabat, acara ini menyenangkan.

Walaupun tertarik dengan Fedi Nuril, tapi akting beliau di Supernova ini menurutku bagus dan agak canggung. Menurutku lho.

Akting yang terlihat natural dan menghayati peran itu Arifin Putra. Dan smoga beliau tidak benar-benar gay.

Tentang film Supernova sendiri, Sutradara Rizal Mantovani bener-bener keren. Jelangkung. Tusuk Jelangkung. 5 cm. Supernova.

Jujur, sampe sekarang masih ngga berani nonton Jelangkung sama Tusuk Jelangkung lagi walopun itu termasuk film favorit.

Balik ke judul postingan ini. Alasan ngambil judulnya karena saya abis baca berita disini dan Fedi Nuril melontarkan satu pertanyaan :

Arwin dan istrinya Rana itu, datang dari keluarga terpandang. Dan sebagai suami, Arwin adalah lelaki baik dan bertanggung jawab. Ia menafkahi istrinya lahir batin untuk membuat Rana bahagia. Lalu,mendadak muncul sosok Ferre, pria yang membuat Rana berpaling. Nah, buat saya pribadi, hal itu terasa aneh. Kok bisa ya, saat semuanya tidak ada masalah, seorang istri selingkuh? Ternyata menjadi suami yang baik itu sulit.”

Pas baca beritanya, langsung mikir (dengan jawaban yang berdasarkan pemahaman saya tentunya), “mungkin karena pas nikah dulu beda niat. Arwin niatnya membangun keluarga bahagia seperti orangtuanya, sekaligus bukti cinta kepada Rana. Sedangkan niat Rana menikah itu karena kemauan Ibu Mertuanya. Mungkin.

Tentang niat, khususnya dalam memutuskan menikah, ini penting.

Picture taken from Instagram Teladan Rasul

Nah. Abis tadi bahas Fedi Nuril, Arwin, dan Supernova. Sekarang bahas tentang pernikahan, khususnya pernikahan dakwah.

*uuum… Walopun sebetulnya pengen bahas tentang “Ayat Ayat Cinta” (2008) juga karena sosok Arwin sama Fahri kayanya mirip dan sama-sama diperankan Fedi Nuril, tapi kayanya bakal melebar kemana-mana jadi di stop sampe Supernova aja. Insyaa Allah tentang “Ayat Ayat Cinta” dibahas di tulisan lain*

Tentang pernikahan dakwah. Bagi umat Islam, menikah bukan hanya urusan melegalkan dan menghalalkan hubungan biologis, tapi (mengutip Ustadz Anis Matta disini) pernikahan adalah peristiwa peradaban yang mengubah demografi. Lihat sejumlah Negara di Eropa yang jumlah generasi mudanya lebih sedikit dibanding kaum orangtuanya, peradaban akan runtuh dengan sendirinya tanpa perang tanpa wabah penyakit. Untuk lebih jelasnya, bisa tonton video di Youtube judulnya, “Ketakutan Barat atas Jumlah Kaum Muslimin”.

Dan terkait Pernikahan Visioner, bisa ditonton juga video kajian Ustadz Salim A Fillah di Youtube dengan judul, “Pernikahan Visioner”.

Berdasar sejumlah bacaan dan kajian, saya menyimpulkan kalau pernikahan visioner itu adalah pernikahan dakwah.

Pernikahan Visioner bagi saya adalah pernikahan yang selalu diberkahi Allah di dunia hingga ke surga-Nya kelak. Dan cara untuk mendapat berkah Allah, pertolongan Allah adalah dengan berdakwah. Berdakwah itu ngga cuma ngajak orang lain untuk mau kembali ke hukum Allaah, tapi juga untuk diri kita sendiri selalu ingat untuk selalu istiqamah berjalan diatas agama Allaah, untuk selalu istiqamah menolong agama-Nya.

Saya pernah dikasih tau tentang pendakwah ini ibarat orang adzan. Orang yang adzan kan ngasi tau orang lain untuk ke masjid, shalat jama’ah. Tapi ketika orang itu adzan, dia kan belum shalat, dia kan lagi ngga shalat.

Ketika baca/denger kata “pendakwah”, “dakwah”, “da’i” bisa jadi beberapa orang akan ngrasa berat, kayanya jauuuhh bangeett. Iya. Itulah yang saya pikir dulu. Kayanya berat banget, jauh dari saya. Itu pikiran saya pas SMA dulu. Tahun 2004-2006 akhir.

Mulai dari tengah Mei 2007 sampe hari ini, pelan-pelan saya mulai paham makna dan contoh “dakwah” itu. Berikut beberapa contoh yang bisa saya berikan terkait pengamalan dakwah di kehidupan sehari-hari :
1) Memakai busana yang menutup aurat, tidak membentuk tubuh, tidak menerawang, itu dakwah.
2) Bersikap baik, ramah, sopan kepada semua orang, itu dakwah.
3) Bersuara menolak ketika jilbab dilarang, itu dakwah.
4) Memilih pemimpin yang dekat dengan Islam dan patuh dengan ‘Ulama serta mengajak orang lain untuk memilihnya, itu dakwah.

Makna “dakwah” sendiri adalah mengajak orang lain untuk hanya menyembah kepada Allaah dan menjalankan semua aturan-Nya. Intinya, menghamba hanya kepada Allaah, bukan yang lain. Bukan menghamba pada cinta. Bukan menghamba pada syahwat. Bukan menghamba kepada hawa nafsu. Bukan menghamba pada uang, jabatan, tanah, artis, tokoh, dan lainnya.

Kembali ke pernikahan dan Supernova, ada satu dialognya yang menarik yaitu pertanyaan Arwin ke Cyber Avatar Supernova, 

“bisakah seseorang menikah tanpa dasar cinta?”

Entah gimana redaksional tepatnya, intinya Arwin mempertanyakan apakah mungkin pernikahan dibangun tanpa ada cinta sebelumnya?

Menurut saya, ngga mungkin. Pasti ada cinta sebelumnya.

Entah itu cinta ke pasangan yang dia nikahin. Atau cinta ke latar belakang sosial pasangannya. Atau cinta ke orangtuanya yang udah yakin banget sama pasangannya. Atau cinta ke Allah. Atau apapun.

Pasti ada cinta sebelum memutuskan lanjut ke pernikahan.

Seorang Ustadzah pernah bilang ke saya, “yang menyelamatkan pernikahan hingga puluhan tahun itu BUKAN CINTA, tapi IMAN.”

“Jangan menikah hanya karena cinta. Menikahlah karena Allah memberikan amanah pernikahan kepada kita, saat calonnya datang. Karena pernikahan pasti ada masalahnya, besar atau kecil, dan yang menyelamatkan pernikahan bahkan hingga puluhan tahun itu HANYA ALLAH. Bukan cinta.

“Saya menikah karena Allah dan saya mempertahankan pernikahan pun juga karena Allah.”

Kembali ke Fedi Nuril, Supernova, dan Pernikahan Visioner. Hikmah yang saya dapet banget dari film Supernova ini adalah :
1) Selalu berpegang teguh pada Al Qur’an dan As Sunnah.

2) Tuntunan Rasul untuk perempuan memilih Suami adalah yang kita ridha dengan akhlaq dan agamanya. Tentang poin kedua ini bisa lebih lanjut dibaca di blog Kurniawan Gunadi yang judulnya, “Lelaki Shalih Belum Tentu Menjadi Suami Shalih” dan “Agama adalah Hakim”. Selain itu tulisan-tulisan lain di Tumblr-nya tentang pernikahan (ada di label "SPN") juga inspiratif dengan bahasa yang simpel dan mengena.

Sekian untuk postingan kali ini. Semoga bermanfaat. Dan semoga Fedi Nuril dimudahkan Allaah untuk segera bertemu dengan jodoh terbaiknya seorang muslimah shalihah, barakah pernikahan dan rumah tangganya di dunia hingga surga-Nya kelak, dimudahkan pula mendapat keturunan-keturunan yang menjadi penyejuk mata sebagaimana dalam Qur'an Surah Al Furqan ayat 74. Aamiiiiin Allaahumma aamiiiiin.

Picture taken from #HalaqahCinta

Monday, November 10, 2014

Setelah Difikir-fikir

Kamar, 10 November 2014
-12.23 WIB-


Jadi, minggu lalu itu tema hidup saya adalah : Implementasi Syahadatain. Salimul Aqidah.

Bagaimana kita slalu mengingat bahwa tidaklah manusia dan jin diciptakan untuk :
b.e.r.i.b.a.d.a.h kepada Allah.. QS Adz-Dzariyat : 56.

Trus juga, qadarullah, minggu ini saya juga banyak mendapat nasihat tentang rezeki, jodoh, dan pernikahan. What a njedhagg week. Alhamdulillah 'alla kulli hal.. :")

Pagi ini, saya ngetik ulang catatan kajian Tausiyah Ba'da Dzuhur di Masjid UI Depok kemarin, pematerinya Ustadz Bachtiar Nasir. 
Dari kajiannya, ada bagian yang saat itu baru tau tentang hijrah Rasulullah dari Mekkah ke Madinah, yaitu Rasul dan para Sahabat ngga hijrah karena dakwah di Madinah lebih enak daripada di Mekkah. 

Di Mekkah mereka udah settled hidupnya, pekerjaannya, keluarganya. Di Madinah, ada siapa?
Di Mekkah udah ada air zam-zam yang jelas kualitasnya nomor 1. Di Madinah, yang ada malah kurang air.
Di Madinah malah banyak kaum Yahudi yang gasuka sama Rasulullah.

Tapi kenapa Rasul dan para Sahabat tetap hijrah dari Mekkah ke Madinah...?

>> T A ' A T  <<

Yang aku tangkep, bahwa apapun yang kita lakukan itu dasarnya HARUS karena PERINTAH ALLAH. Bukan yang lain.
Enak ngga enak. Suka ngga suka.
Dalam keadaan berat maupun ringan.

Balik ke materi pernikahan, barusan dzuhuran dan pas wudhunya Allah seperti ngasi suatu pemahaman di kepala saya :

"Sebetulnya, kehidupanku sekarang udah enak banget. Nyaman. Ada Bapak yang sayang sama aku, menghormati keputusanku berjilbab, mendukung ambisiku untuk fokus kuliah, memenuhi kesukaanku membaca. 
Lha kalo udah nikah, kan ntar hidupku ngga ditanggung Bapak, tapi ditanggung Suami yang notabene laki-laki lain. Emang bakal tetep enak kayak sekarang..? Trus, ngapain minta nikah ke Allah...? Kan sekarang udah enak hidupnya, udah nyaman mau ngapa-ngapain."

Sesuai kajian Ustadz Bachtiar Nasir kemarin Sabtu, bahwa semua yang kita lakukan haruslah berdasar perintah Allah.
Allah memerintahkan umat-Nya untuk mencari ilmu.
Allah juga memerintahkan umat-Nya untuk menikah.
Allah memerintahkan umat-Nya untuk bekerja yang halal.

Masing-masing kita udah diatur Allah, tugas kita tinggal jalanin. 
Apa yang kita jalanin, itu juga termasuk ujian kita : kita jalanin dengan baik & benar sesuai syari'at-Nya kah...? Atau kita sia-siain aja...?

Setelah difikir-fikir, hidup kita sebagai Muslim tu simpel. 
Enak. 
Smua udah diurus Allah.
Tugas kita tinggal jalanin sesuai yang Allah suruh.
Trus ntar di akhirat, kita tinggal masuk ke surga-Nya dan melihat wajah-Nya sebagai puncak kenikmatan tertinggi.
Aamiiiiin Allahumma aamiiiiin.... (T__T)

Cuma emang, gabisa kita lupain juga janji Iblis untuk menyesatkan kita umat manusia supaya ikut nemenin Iblis di neraka.
Kalo dipikir-pikir, kasian sie sebetulnya sama Iblis, Iblis kok membangkang gitu, sombong gitu, padahal kan Iblis tau kalo Allah itu Yang Maha Menciptakan, Allah juga Maha Pengampun, kok Iblis malah nantangin buat nyesatin manusia.............. :"((

"Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: 

"Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekedar) aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kalian mencerca aku akan tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kalian yang mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". 

Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.

Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka." [QS Ibrahim : 22-23]

Inti curhatan saya kali ini, smoga kita smua slalu berfikir positif, husnudzhan ke Allah apapun yang terjadi. Kata Aa Gym, senang atau sedih itu cuma perasaan manusia aja yang sangat mungkin diganggu setan. Yang terpenting adalah apapun yang kita alami, apapun yang kita dapat, apapun yang kita jalani smuanya membuat kita slalu ingat ke Allah, kembali ke Allah, dan mendapat ridha Allah.

Kurang-lebih seperti itu. Maaf kalau ada salah kata, salah maksud...
Smoga bermanfaat bagi saya yang menulis dan juga kepada yang membaca...
Aamiiiiin Allahumma aamiiiiin... :")



Friday, October 31, 2014

Untuk Apa Menikah ? Menikah, Untuk Apa ?

Depok, 31 Oktober 2014
(19.21 WIB)


Jadi, smalem gw telfon-telfonan untuk hampir 6 jam (21.00 - 02.00 WIB) sama temen sekampus yang juga sekosan, Vidi.

Diantara semua tema dan materi obrolan, becandaan, serta kedudulan yang kami bahas semaleman, ada 1 yang gw ceritain ke Vidi terkait pernikahan. Yang dulu pernah dibahas dan gw udah nemu jawabannya sekarang.

Sekitar 2013an kemarin atau awal 2014 awal, saya main ke Jogja dan nginep di kosan tepatnya kamar Uchi. Waktu itu, sekitar malem, saya, Uchi dan Vidi leyeh-leyeh di kamar Uchi. Entah gimana, jadinya sampe bahas masalah pernikahan.

Dalam obrolan kami saat itu, Vidi bilang kalo gw belum nikah karena gw belum siap. Uchi sepakat. 

"Allah ngga ngasih lo nikah sekarang karena Allah tau lo belum siap untuk nikah.", kata Vidi.

"Iya Mba, Mba Ita menurutku belum siap untuk  nikah.", Uchi yakin.

"Haa...? Gw siap koook....", gw kaget, nolak pernyataan mereka, sekaligus ngga yakin sama jawaban gw sendiri kalo gw bilang gw belum siap nikah.

Sejujurnya, saat itu emang gw yakin kalo gw belum sepenuhnya yakin untuk nikah saat itu atau dalam waktu dekat. 

-___-a

Pas gw cerita itu semalem ke Vidi, Vidi bilang kalo dia inget dan dia bilang kalo dia menilai gw belum siap menikah karena gw belum tau apa tujuan gw nikah. Vidi ngibaratin kayak mau beli tas. Gw mau beli tas, gw siap beli tas, tapi gw gatau mau beli tas yang kayak gimana.

Trus gw ceritain ke Vidi kalo gw udah nemuin jawabannya.

~QS Muhammad : 7 ~

...Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu...

Itu salah satu ayat di Al Qur'an yang gw suka sejak SMA (entah kelas berapa, lupa).
Jadi, waktu itu ada acara Rohis dan kita yang hadir dapet semacam suvenir pembatas buku handmade by Anggota Rohis. Pembatas bukunya ada tulisan ayat atau kutipan Hadits gitu dan gw dapet pembatas buku dengan ayat ketujuh surat Muhammad.
Gw masih inget, gw ngrasa dapet kekuatan, optimistis, keyakinan yang kuat (entah apa), setelah gw baca ayat itu.

Gw ngga ngerti gimana penjabaran tafsirnya. Tapi saat itu gw yakin kalo sebenarnya gw lah yang butuh untuk nolong Islam. 
Pikiran gw saat itu, "gw butuh Allah, dan cara supaya Allah mau nolong gw adalah dengan nolong agama-Nya. Okay. I'll support Islam."
Simpel. Gapake ribet.

Gw bilang ke Vidi, ayat itulah yang jadi dasar gw nemuin tujuan apa gw nikah. Dan insya Allah gw yakin dengan jawaban gw.

Gw jelasin kalo mungkin bisa jadi akan muncul pertanyaan, gimana caranya pernikahan itu termasuk "menolong agama Allah".....?

Well, ini akan gw jawab subyektif berdasarkan sependek wawasan keislaman gw. Bisa jadi benar, bisa jadi keliru.

"Menolong agama Allah" dalam pernikahan tu menurut gw dapat diwujudkan dengan hal-hal konkrit sebagai berikut : 

Menjalankan tanggung-jawab sebagai Istri, Ibu, Menantu, Tetangga, Saudara sesuai yang tuntunan Rasulullah. Nulisnya mah santai, prakteknya smoga Allah mudahkan. Aamiiiiin Allahumma aamiiiiin...

Dari 1 poin diatas yang masih umum-abstrak banget, menurut gw tindakan konkritnya adalah dengan menjadi Full-Time Mom, Kyoiku Mom, Stay-at-Home Mom, atau apapun lah sebutannya yang menunjukkan menjadi Ibu yang 100% ngurus rumah tangga. 

Gw pribadi ngga masalah dengan Ibu-Ibu lain yang mau jadi Working-at-Office Mom, atau Business Mom atau Freelancer Mom
Apapun pilihannya, yang penting rumah tangga dan keluarga tetep keurus. 

Jujur yah, sejak kelas 1 SMA gw nonton "Cheaper by Dozen" dan baru-baru ini tau ada serial tivi salah satu pasutri di AS dengan 19 anaknya judulnya "19 Kids and Counting", gw semakin mengukuhkan impian gw untuk memiliki banyak anak. Sebanyak yang Allah percayain ke Suami gw nantinya.

Intinya adalah, menjadi Istri dan Ibu yang mengurus rumah tangganya, keluarganya. Dan juga masyarakat.

Untuk kontribusi ke masyarakat, itu harus dipikirin matang-matang lagi.
Buat gw, ini termasuk wajib.
Gw punya contoh Ummahat selain Ibu yang profesinya Ibu Rumah Tangga dengan punya bisnis yang udah mapan dan tetep kontributif ke masyarakat.

Tentang menjadi Ibu Rumah Tangga, beberapa orang berpikir kalo akan menyulitkan Istri kalau sesuatu hal terjadi ke Suami, misal : Suami sakit keras dan tidak memungkinkan untuk membiayai operasional rumah tangga. Istri sudah lama tidak bekerja, lalu bagaimana..? Hidup dari belas kasihan Saudara, Tetangga....? Not an option.

I was thinking about this. 
A woman who focus on her marraige and family as we known as Ibu Rumah Tangga, doesn't mean she can't have income. 
She still can.
She can write many books.
She can build online shop.
She can cook for catering.
She can make cakery, bakery, cookies.
She can do many things and still stay at home and still get income.

Bapak pernah bilang, kalo Istri bekerja itu bukan untuk menyaingi Suami.
Gw pribadi sepakat sama Bapak, karena salah satu idola gw adalah Zainab binti Jahsy. Istri Rasulullah yang langsung nyusul Rasul setelah Rasul meninggal.
Zainab binti Jahsy sukses nyusul Rasul pertama kali karena beliaulah satu-satunya Istri Rasul yang bersedekah dari hasil kerjanya, menjual kulit Unta yang sudah disamak.

Selain Zainab binti Jahsy, idola pertama gw adalah Khadijah. Istri pertama Rasulullah. I adore her marriage with Rasulullah.
Khadijah adalah Istri yang Rasulullah sangat cintai.
Khadijah adalah Istri yang Rasulullah mendapatkan anak-anak.
Khadijah adalah Istri Rasulullah yang mendukung total perjuangan dakwah Rasulullah pertama kali.
Khadijah adalah Istri Rasulullah yang percaya 100% ke Rasulullah disaat banyak yang meragukan Rasul.

Gw inget 1 buku bagus yang pertama kali bikin gw mikir kalo hidup gw harus berjalan di jalur agama Islam.
Di buku itu, yang paling gw inget adalah kalimat, intinya: 

"jangan jadi perempuan spons. Perempuan yang menyerap segalanya, baik dan buruk, semuanya diserap tanpa saringan. Jadilah perempuan yang pemikirannya selalu menyaring dan hanya mengambil yang baik saja. Dan penyaring terbaik adalah agama. Islam. Semua yang pikirkan, semua yang kita katakan, semua yang kita lakukan adalah berdasarkan syari'at Islam."

Buku kedua yang membuat gw semangat untuk ngebela Islam adalah bukunya Jerry D. Gray yang judulnya "Bayang-Bayang Gurita". Kayanya sekarang udah ngga dicetak lagi bukunya, dan buku punya gw ilang entah dipinjem siapa. :(
Buku itu pertama kali gw tau karena dapet tugas ngeresensi di Mentoring pas kelas 2 SMA. 
Siang pas liqo' saat itu ditugasin, sorenya pas sebelum balik ke rumah, gw beli bukunya di Mafaza.
Mafaza tu nama toko buku dan keperluan islami deket rumah. 
Sekarang udah pindah ke deket Jatijajar. Jauh dari rumah.

Balik ke tujuan nikah adalah sebagai salah satu cara gw untuk menolong agama Allah supaya gw mendapat pertolongan Allah.
Urutannya :
Nikah --> Punya banyak anak --> Mendidik anak dengan sebaik-baiknya supaya mereka berkontribusi besar dalam menegakkan syari'at Islam.

Cinta........?
Ya pasti harus ada lah yaa.. Namanya juga pernikahan, rumah tangga.
Tapi katanya, cinta itu bisa pudar seiring keriputnya kulit karena tergilas waktu, kesibukan, keletihan, dan ujian-ujian hidup.
Dan pembuktian cinta, katanya lagi, adalah dengan bertahan. Seseorang dapat bertahan karena prinsip, komitmen, sumpah, janji.
For me, if you really married someone because Allah, so you'll stay whatever happened as long everything is in Syari'at.

Yah. Nulis lebih gampang daripada ngejalanin.
Mari saling mendo'akan supaya kita selalu dalam penjagaan-Nya.
Smoga kita slalu berjalan diatas jalan-Nya yang lurus menuju surga-Nya.

Ada do'a bagus yang sering inget sejak gw umrah pertama kali kemarin.
Ketika banyak yang nitip do'a yang mirip-mirip.
Seseorang nitip 1 do'a. Dan do'a itu cukup 2 kata.

"Do'ain saya selalu istiqamah." 
"Trus..?" 
"Selalu istiqamah. Itu aja. Makasih banyak ya Ta."

Dia adalah orang pertama yang saya kasih tau tentang rencana umrah saya.
Dia adalah orang yang ngga nitip do'a apa-apa sampe akhirnya saya yang nanya dia mau nitip do'a apa.
Dia adalah orang yang bilang jangan ada komunikasi selama umrah, supaya fokus ibadah. 

Teman yang menarik.

I. S. T. I. Q. A. M. A. H.

Teman yang sebenar-benarnya teman adalah dia yang mendekatkanmu dengan Allah dan membuatmu selalu ingat dengan Allah.

Dan karena titipan do'a dialah, do'anya juga ngikut nama-nama yang lain, gacuma buat dia.
Dan buat dia, teman saya itu, walopun dia cuma nitip 1 do'a tapi saya tambahin do'a yang lain.

Tentang istiqamah, ada 1 quote bagus dari Ustadzah Yoyoh Yusroh :


“If we are realize that we are on mission, 
we must keep the mission on.”


Visi saya adalah mendapat ampunan Allah, mendapat ridha dan rahmat-Nya, memasuki jannah-Nya, dan melihat wajah-Nya di surga-Nya kelak.

Misi saya adalah ibadah, salah satu bentuk ibadah adalah pernikahan.

Ustadz Anis Matta mengatakan kalau pernikahan adalah misi peradaban.

Visi peradaban, menurut Hasan Al Banna, adalah terwujudnya Ustadziyatul Alam.


- - - - - - - 

Itulah sepotong bahasan saya dengan Vidi di telfon semalam.
Redaksionalnya lebih heboh dan panjang (dan kadang sambungannya suka mati sendiri gatau knapa) daripada tulisan di blog ini.

Semoga bermanfaat..... v(^0^)v

Wednesday, October 29, 2014

Grey's Anatomy

Rabu, 29 Oktober 2014
-Depok-


Sebetulnya "Grey's Anatomy" bukan film. Semacam serial tivi. 

Pertama kali gw nonton ini setelah gw nylesein skripsi, termasuk sidangnya (dan kayanya tanpa revisi karena udah Alhamdulillah Bapak Dosen Pembimbing Skripsi gw perfeksionis jadi sebelum sidang udah persiapan mateng banget).

Ada temen TK-SD gw yang ngasi tau kalo film ini bagus. Waktu itu sekitaran Juni-Juli 2012. Dia Dokter dan masih mikirin mau ambil Spesialis apa. Via BBM, dia cerita kalo GA ini serial tivi yang biasa ditonton anak Kedokteran dan ngga lebaiy.

Selama skripsi, kalo orang lain dengerin lagu ato Murratal Qur'an, gw dengerin Harry Potter.

Iya. 
Gw dengerin film Harry Potter sembari gw ngerjain skripsi. And it was fun
Bahkan, gw sampe hafal beberapa dialognya. Karena ada beberapa hal yang bikin gw penasaran dari filmnya, gw nanya Vidi (temen sekampus dan sekosan) yang udah baca novelnya. Gw sendiri cuma baca sampe novel keempat, abis itu gw lebih suka nunggu filmnya aja.

Dan dari kebiasaan dengerin film Harry Potter itu gw jadi tertarik dengan dunia Yahudi dan bahasan seputar Hari Akhir Zaman.

Back to Grey's Anatomy.
Jadi, gw ngopi lah itu semua Season di warnet. 

Awalnya sie biasa aja, ngga tertarik-tertarik amat.
Udah hampir mo gw apus pas nonton di kosan. Trus gw nyoba Googling tentang sinopsis GA ini dan mayoritas bagus semua. Bahkan beberapa bilang kalo GA ini hukumnya wajib ditonton. Ealah.... -_-

Sampe akhirnya gw mulai nonton dari awal, terus lanjut sampe Season 8 (kalo ngga salah inget).
Awalnya sie serem yah, Tapi ya lama-lama biasa juga.
Ada 1 scene yang gw serem banget tu di Grey's Anatomy Season 3 Episode 2 dimana ada pasiennya yang perutnya kehantam pohon dan pohonnya masih ada aja gitu di perutnya. Menurut gw, itu lebih nyeremin dibanding pasien yang kulitnya mengeras dan jadi berakar kayak pohon di Grey's Anatomy Season 7 Episode 3.

Yang paling menarik menurut gw di Grey's Anatomy tu gimana mereka ngejadiin profesi mereka itu bener-bener part of their life, part of their passion, without ruining their marriage life, their social life.

Maksud gw, jarang gw temuin serial tivi yang bener-bener ngupas tentang kehidupan personal, kehidupan rumah tangga, kehidupan profesi, sekaligus kehidupan sosial jadi satu. Dan ini gw temuin di Grey's Anatomy.

Ya ada sie ya masalah, namanya juga hidup, kelar satu masalah ya dateng lagi masalah yang lain. Tapi kalo di Islam kan di Surat Alam Nasyrah udah Allah jamin kalo 1 masalah itu diapit 2 kemudahan.

Yang gw pelajarin dari Grey's Anatomy, terutama dalam hal rumah tangga :
Gapapa Istri tu kerja, kontribusi untuk masyarakat, dan berprestasi. Tapi jangan sampe Istri ngejar jabatan, karena itu artinya harus ada yang dikorbankan. 
Maksudnya, berkarier boleh, tapi niatnya bukan nomor-satuin karier diatas rumah tangga dan keluarga. Berat juga.

Gw sepakat, tapi ini mungkin masih jadi dilema yah untuk beberapa orang, terutama di sekitar gw. 
Banyak yang bilang, "jangan benturkan antara pekerjaan dan pernikahan, kan sama-sama diniatin ibadah."
Iya sie. Mudah berteori, (kayanya) sulit dipraktikkan.
Walaupun "sulit" bukan berarti "mustahil".


Pic taken from here

Ini pasangan favorit selain Owen Hunt sama Christina Yang. 

Mark Sloan - Lexie Grey.

Bedanya, Owen sama Christina berhasil sampai di pernikahan, dan berakhir dengan perceraian dan perpisahan. Kalo Mark dan Lexie belum menikah, mereka meninggal di kecelakaan pesawat.

Dari Christina Yang, gw belajar banget kalo yang namanya belajar tu wajib total supaya kita bisa maksimal nolong orang lain.

Sejak suka Grey's Anatomy dan liat Owen Hunt sama Teddy Altman, gw jadi pengeeenn banget supaya suatu hari anak-anak gw jadi Dokter dan kerja di negara-negara yang lagi perang, atau negara-negara miskin yang belum mampu punya Dokter yang memadai. Trus mereka bikin buku kayak DR. Ang Swee Chan yang nulis buku "From Beirut To Jerusalem". Aamiiiiin Allahumma aamiiiiin... :")

"Being a hero has its price." 
-Christina Yang-
Grey's Anatomy Season 7 Episode 6

Friday, October 10, 2014

Next Goals

Depok, 1 Oktober 2014
(17.30 WIB)







Hari ini rencananya mau nonton The Maze Runner di Detos, kayanya bagus filmnya. Setipe sama The Hunger Games sama Divergent, distopia gitu, diangkat dari novel laris juga.
Tapi masalahnya, tugas ngeringkas buku HAM belom kelar. Gw belum dapet jawaban juga itu 4 lembar ato 4 halaman.

Tadi pagi, di salah satu grup bahas tentang pernikahan. Tepatnya : larangan mem-bully yang belum nikah. Temanya, pernikahan, mirip sama yang gw bahas semalem sama Yan di Bajay BBG pas balik dari ngampus menuju Stasiun Cikini. Yan ini akhwat pendiem, ngga rame kayak gw, dan kita sama-sama suka baca (itu penilaian gw setelah ngeliat isi tas jinjingnya yang penuh buku kuliah).

Yan bilang, "dijalani aja. Disyukuri semua yang Allah kasih dengan maksimal ngerjain apa yang jadi amanah kita sekarang." 

Nampol.

Bener, dan nampol.

Banyak temen gw yang bilang hal serupa. "Syukuri dan jalani dengan penuh tanggung jawab."

Balik ke tema pernikahan, menurut gw nikah tu gabisa asal. *yaeyalaahhh*

Visi-Misi pernikahan tu berhubungan banget sama membangun peradaban. Hancur rumah tangga lo, rusak keluarga lo, masyarakat sekitar lo ikutan ngga beres, Negara ikutan kena masalah, ujungnya : lupain dah yang namanya Ustadziyatul Alam.

Gw bilang ke Yan kalo beban single sama yang udah nikah itu lebih berat yang udah nikah.. Kalo single, tuntutan cuma 1 : N-I-K-A-H.
Kalo udah nikah, tuntutannya banyak.. Punya anak lebih dari 1, ngurus Suami & anak-anak, ngatur keuangan keluarga, dakwah (ini penting!), silaturahim sama keluarga besar, daaaannn seterusnya.

Ini gw bukan nakutin. Ngga sama sekali.

Gw cuma mo ngingetin lagi, buat gw khususnya, tentang amanah pernikahan ini.. Nikah tu sunnah Rasulullah, dan pasti Allah akan nolong hamba-Nya yang niatnya lurus ke Allah..

Tapi teteuuuppp..... Kepikiran. (-_____-")

Tentang pernikahan emang sensitip. Gabole asal. Penuh pertimbangan. Dan yang utama : lurusin niat hanya untuk ibadah ke Allah dan mendapat ridha Allah. 

Berat.

Tentang kaitannya sama peradaban, pasti butuh dana kan...? Ngga mungkin selamanya morotin orangtua. Ngga mungkin selamanya ngga mandiri.
Disini ilmu financial planning penting banget buat dipahami dan dijalankan. Ini adalah hal kedua yang harus dipikirin setelah mutusin Istri mau jadi Full Time Mom ato Working Mom..

Working Mom ternyata ngga sebatas kerja kantoran yang terikat jam kerja, bangun bisnis juga termasuk Working Mom.. Freelancer yang kerjaan bisa di handle dari rumah juga termasuk Working Mom.. 

Ada pendapat yang bilang kalo Full Time Mom itu ngga berarti useless at all, ngga berarti ngga produktif.. Aktif di perkumpulan masyarakat sekitar rumah yang sifatnya sosial -such as parpol, ormas, Majelis Taklim- gabisa disebut ngga produktif.

Jujur yah. Gw pribadi pengen banget optimal produktif dan kontribusi positif buat sebanyak-banyak umat manusia. Gw suka baca, gw suka nulis, gw suka cerita, Alhamdulillah gw dikasih rezeki untuk lanjut kuliah S2 Magister Hukum Kenegaraan di UI, Alhamdulillah gw udah lulus Ujian Profesi Advokat (UPA) bulan Maret 2014 kemarin. There are many things I can do to change the world

Oiya, gw juga lagi mengusahakan merealisasikan cita-cita gw untuk ambil double-degree ke University of Washington di Seattle, UI punya programnya. Tapi kalopun dapetnya di kampus selain UW ya gapapa, mana yang terbaik menurut Allah..

Kembali tentang pernikahan. It's not the easy one. You are talking about marriage means you are talking about build civilization.

Everything has its price. Your goal has the price you have to pay so can get what you up to. It will take your effort, your time, your mind, and your money too. Be strong to face it. Keep fighting to get the best. I realize I'm not capable to say about marriage. I haven't had capability to say about marriage. All I know comes from reading and hearing someone told me.

Pernah ada senior yang bilang, "kita ngga tau kita akan nikah atau engga. 1 hal yang pasti, kita semua akan mati."

Manusia ngga akan tau kapan meninggal. Tapi kita bisa nyiapin kematian kita husnul khotimah. Insya Allah..

Ujian Muslimah

Depok, 4 Oktober 2014
(23.14 WIB)


"Di antara hal-hal yang membantu seorang Bapak dalam memberikan pendidikan yang baik kepada anaknya adalah istri shalihah yang mengerti akan tugas-tugasnya dan mengerjakan tugas-tugas tersebut dengan sebaik-baiknya."    
"Harus ada perhatian khusus dalam membentuk Muslimah agar terbentuk rumah tangga islami. Bagi siapa saja yang ingin membangun rumah tangga yang islami, hendaknya yang pertama kali dilakukan adalah mencari seorang istri Muslimah. Sebab, kalau tidak, pembangunan masyarakat Muslim akan tertinggal dan bangunannya sendiri akan rapuh, penuh dengan lubang."  
[2 quote diatas dikutip dari buku "Prophetic Parenting: Cara Nabi Mendidik Anak" karya DR Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, halaman 53-54]


Tadi malem pas ada acara keluarga di Tebet, Jakarta Selatan ketemu kakak sepupu perempuan (sebut saja I) dan kita bahas tentang pernikahan.. Tepatnya, kita bahas tentang memutuskan menikah dengan seseorang..

Intinya aku bilang kalo mutusin nikah itu perlu kemantapan hati (lewat shalat istikharah) dan dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya, karena menikah itu diniatkan tidak untuk -naudzubillah- bercerai. Apalagi, mengutip tulisan Ustadz Anis Matta -kalo ngga salah- di bukunya "Serial Cinta", pernikahan itu memikul misi peradaban.

Komen kakak sepupu perempuan, "yaampuunnn! Idealis bangeeettt!!"

Dia kaget. Gw bengong.

Jujur. Sense of Islamic Marriage muncul dan langsung kuat setelah gw ikut kajian Pak Akmal Sjafril pertama kali di Masjid Al Muhajirrin, Depok. Sebelumnya gw udah baca buku beliau, "Islam Liberal 101", dan gw mulai ngeh betapa berat tugas gw dan Suami nanti saat punya anak. Ghazwul Fiqr atau yang biasa disebut Perang Pemikiran bener-bener ngga bisa dianggap enteng. Buat gw, ya ngga masalah, lha gw udah 25 taun. Tapi buat anak-anak gw ntar..??? Tentu butuh persiapan matang untuk pendidikan anak-anak gw kelak.

FYI, hal yang membuat gw hijrah (kelas 3 SMA dulu) dan kembali ke Islam tu setelah gw baca buku "Bayang-Bayang Gurita" karya Jerry D. Gray, yang isinya bahas tentang makar untuk mematikan Islam. Hal berbau makar, konspirasi terhadap Islam bukan hal enteng buat gw. 

Cara paling mudah merusak peradaban, salah satunya, adalah dengan merusak pemikiran. Sebanyak apapun umat Islam, kalau pemikirannya ngga berdasar Al Qur'an dan As Sunnah, ya cuma jadi buih di lautan. Ngga guna.

Ada rekaman video bagus di Youtube, judulnya "Ketakutan Barat Atas Jumlah Kaum Muslimin". Video ini juga termasuk penyemangat gw untuk mempersiapkan berumah-tangga yang islami kelak.





Tentang kajian keislaman dari Pak Akmal itu gw ada rekamannya, tapi sayangnya gw belum nemu cara ngirim rekaman suara di Lenovo. Rencananya mau gw transkrip aja. Smoga bisa direalisasikan sebelum 1 Januari 2015.

Balik ke pernikahan. Jum'at pagi kemarin gw ngobrol sama kakak sepupu perempuan gw yang lain (sebut saja A) tentang masalah single woman sama married woman. Gw bilang kalo beban masalah mereka yang udah nikah jelas lebih berat dibanding yang belum menikah. Ayo berhitung!

Belum menikah, paling mentok ditanya kapan nikah. Lebih jauh, ditanya mau ngejar karier/akademis sampe kapan. Selesai.

Bagi yang udah nikah, berikut tuntutannya :
1) Kapan punya anak?
2) Kapan nambah anak?
3) Mau nerapin pola asuh yang mana?
4) Rencana mau sekolahin anak-anak dimana? TK? SD? SMP? SMA? Kuliah?
5) Anak-anak mau diarahin kemana?
6) Udah ibadah Haji? Kalo belum, rencana mau kapan?
7) Kontribusi Istri buat rumah tangga dan keluarga, apa aja?
8) Karier Suami udah sampe mana?
9) Udah punya rumah? 
10) Investasi dimana aja?
11) .........................................................

Silahkan yang mau nambahin.

Kembali ke Mba I. Gw lebih banyak dengerin cerita beliau, gw mikirin masukan beliau.
Kalo sama Mba A, gw jadi nyimpulin kalo nikah/belum tu kita tetep dituntut untuk berkontribusi ke agama, negara, dan peradaban.



Masalah ternyata ngga cuma di 2 kelompok orang itu, menikah/belum. Tapi juga kepada yang menikah dan belum memiliki anak biologis.

Menurutku, jawaban untuk pertanyaan "kapan nikah?" dan "udah punya anak?" tu bisa dijawab dengan senyuman. 
Wajar kalo bosen ditanya hal yang sama, tapi arahkan kebosenan itu(salah satunya) dengan banyak membaca seperti membaca buku kuliah. It works for me. Membacanya diniatin ibadah, karena membaca untuk mendapat ilmu. Tentu, bacaannya juga bacaan yang bener. Tapi saya juga suka kok bacaan-bacaan untuk refreshing.

Setiap orang dapet ujiannya masing-masing dan Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Smoga kita smua slalu dikuatkan Allah untuk slalu istiqamah dijalan-Nya.. Aamiiiiin Allahumma aamiiiiin.. (^_^)